Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah bagi Pariwisata Bali, Rai Mantra Dorong Satgas Pelayanan Wisatawan
Konflik yang terjadi antara Israel-AS dengan Iran diharapkan tidak berkepanjangan dan bisa selesai secepatnya. Sebab dampak dari konflik ini akan luas khususnya bagi pariwisata Bali. Beberapa informasi bahkan telah terjadi pembatalan kunjungan wisatawan ke Bali dan sebaliknya sejumlah wisatawan kemungkinan terhambat kembali ke negaranya akibat terganggunya penerbangan.
(Baliekbis.com), Anggota DPD RI perwakilan Bali I.B. Rai Dharmawijaya Mantra berharap konflik yang terjadi di Timur Tengah bisa mereda dan segera selesai.
“Peperangan bisa berdampak sangat luas dan merugikan banyak pihak. Apalagi Bali yang ekonominya bergantung pada sektor pariwisata. Kita masih punya memori saat perang Teluk 1991 dimana terjadi pembatalan massal kunjungan wisatawan,” ujar Rai Mantra saat dihubungi ke kediamannya Renon Denpasar, Senin (2/3/2026).
Menurutnya, konflik Israel-AS dengan Iran ini sulit diprediksi sampai kapan. Karena itu diharapkan seluruh komponen terkait di Bali tidak tinggal diam khususnya yang berhubungan dengan turis yang ada di Bali.
“Turis yang ada harus dibuat merasa tenang dan nyaman. Perlu pelayanan terbaik agar turis yang belum bisa meninggalkan Bali bisa tetap tenang menghadapi kondisi ini. Mungkin perlu ada semacam Satgas Pelayanan bagi wisatawan,” ujar Rai Mantra.
Mantan Walikota Denpasar ini menerangkan pihaknya sudah menghubungi pihak Bandara Ngurah Rai terkait kondisi penerbangan maupun turis yang belum bisa melakukan penerbangan atau cancel ke Bali.
“Setelah kami mendengarkan informasi dari pihak Humas Bandara Ngurah Rai, memang kemarin itu dari pihak maskapai penerbangan sudah menangani dan juga dibantu oleh pihak Angkasa Pura menyediakan seperti help desk untuk tamu yang reschedule. Dan juga ada beberapa tamu yang diberikan kamar. Jadi jangan sampai ada tamu yang telantar,” tambahnya.
Di sisi lain, Rai Mantra mengatakan perlunya langkah-langkah antisipasi dari kementerian terkait maupun pemerintah daerah. “Bisa membentuk semacam satgas pelayanan sebagai wujud rasa empati kita sehingga wisatawan yang belum bisa kembali tetap mendapatkan informasi dan pelayanan. Jadi pelayanan bukan hanya masalah citra tapi memang bentuk legacy kita dalam pariwisata budaya. Jadi memberikan mereka ketenangan terhadap situasi yang tidak menentu di Timur Tengah saat ini,” jelasnya.
Rai Mantra mengingatkan pada waktu Perang Teluk yang cukup lama, masalahnya bagaimana pariwisata menyikapi hal itu. Sehingga untuk menghadapi situasi yang tidak pasti seperti ini perlu antisipasi jangka pendek. Perlu juga dipikirkan Pekerja Migran Indonesia yang dari Bali dimana jumlahnya cukup banyak di Timur Tengah.
Sebagaimana diketahui selama ini, denyut pariwisata Bali dari Eropa dan Timur Tengah sangat bergantung pada penerbangan dari Doha, Dubai dan Abu Dhabi. Jika ini terganggu maka arus kedatangan wisatawan internasional akan terganggu. Penerbangan dari Inggris, Jerman dan negara Eropa lainnya dengan tujuan Bali, banyak transit di bandara tiga kota tersebut.
Di sisi lain, Rai Mantra juga mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan. Sebab kalau lingkungan terganggu, ekonomi juga ikut terdampak dan bisa tidak jalan. “Peristiwa banjir belakangan ini menjadi peringatan bagi kita semua untuk betul-betul peduli dan merawat lingkungan dengan baik,” pungkasnya. (ist)

