Bog Art Space Menandai Kehadirannya di Bali dengan Pameran Fotografi Karya Lucas Leo Catalano
(Baliekbis.com), Dalam kosmologi masyarakat Bali, air bukanlah sekadar entitas kebutuhan pokok semata, ia adalah nafas suci yang mengalir dari hulu gunung hingga ke hilir samudra, menghidupi peradaban sekaligus memurnikan energi negatif melalui ritual.
Bagi masyarakat Bali, air merupakan unsur hidup yang tertanam dalam kepercayaan, bagian penting sarana ritual sehari-hari, penyembuhan serta menyatukan organisanasi komunitas, Secara bersamaan air juga berfungsi sebagai pemurni, perantara antara dunia nyata dan niryata, sumber kehidupan, dan kerangka kerja untuk praktik sosial dan lingkungan.
Pameran fotografi “Unspoken Dialogue” karya Lucas Leo Catalano (lahir 1985) berdarah campuran Indonesia dan Italia yang kini tinggal di Perth Australia, semalam secara resmi di buka di Bog Art Space Denpasar.
Pameran fotografi yang dibuka secara resmi oleh Mantan Konsul Kehormatan Negara Italia untuk Indonesia di Bali Pino Confessa mendapat respon yang luar biasa dari kalangan para seniman, budayawan , aktivis lingkungan, khususnya para fotografer serta masyarakay umum.
Kurator pameran Tjandra Hutama mengatakan, Lucas kali ini menghadirkan catatan perjalanan tentang air sebagai dokumentasi visual terbuka untuk diintepretasikan. Karya-karya Lucas nampak meminimalisir adanya interaksi aktif manusia untuk memberi ruang bagi air sebagai aktor dalam melakukan “monolognya”.

Lebih lanjut menurut Tjandra, ketika sebagaian orang lebih terlena akan keindahan dan keteraturan, maka Lucas justru masuk melalui sudut pandang berbeda. Ia berusaha mengeksplorasi air bukan sebagai objek pasif, melainkan sebagai medium transmutasi.
Lucas sangat cermat dalam menempatkan medium cahaya untuk membangkitkan air sebagai medium komunikasi. Dengan menangkap bias cahaya yang melewati tetesan, aliran, hingga genangan, air diposisikan sebagai “penerjemah” antara dunia fisik (Sekala) dan dunia metafisik (Niskala).
Bila merujuk secara presentasi teknis, sang kurator mengungkapkan bahwa dalam beberapa karya fotonya, Lucas memang menggunakan teknik pembiasan cahaya (refraction) bukan sekadar eksperimen teknis, melainkan sebuah pernyataan filosofis tentang bagaimana air menjadi lensa yang mendistorsi realitas di Bali.
“Tentu gagasan ini menjadi semakin menarik manakala air selanjutnya membentuk presepsi atau bisa jadi menyamarkan masalah tentang narasi ideal dalam kenyataan sehari-hari”, tambah Tjandra.
Jango Pramartha founder Bog Art Space, menyambut baik pameran fotografi Lucas Leo Catalano sebagai pembuka program kolaborasi internasional. Lucas fotografer yang berasal dari Perth hadir di Bog Art Space bukanlah sebuah kebetulan.
Lebih lanjut menurut kartunis dan juga pelukis, serta alumni University of Western Australia di Perth, program pameran dengan seniman Perth Australia ini sudah dirancang sejak lama, yaitu pada pameran “Drawing Cosmic Mantra” yang melibatkan dirinya dengan seniman Made Wianta dan Paul Trinidad serta dikuratori Yudha Bantono tiga tahun silam.
“Saya berharap Bog Art Space dapat menjadi laboratorium kebudayaan kecil di Bali yang dapat memberikan ruang eksperimen kreatif bagi para seniman-seniman Bali, Indonesia maupun internasional”, tambah Jango.
Pameran “Unspoken Dialogue” karya Lucas Leo Catalano yang didukung Jimbaran Hijau, Danes Art Veranda, Niti Mandala dan Bali Art Focus akan berlangsung selama satu bulan hingga 24 Juni 2026.
Acara tambahan berupa diskusi fotografi seputar pameran akan dilaksanakan pada tanggal 1 Juni 2026, dengan mengambil tempat yang sama di Bog Art Space.

