Panen Perdana Padi Lokal Sri Sedana di Subak Uma Kumbuh Gianyar, Produksi Menjanjikan

(Baliekbis.com), Panen Perdana Padi Lokal Sri Sedana dilaksanakan Minggu, 24 Mei 2026 di Balai Subak Uma Kumbuh Desa Mas Ubud, Gianyar dengan hasil yang menjanjikan mencapai sekitar 11 ton hektar. Padi Lokal Sri Sedana selain hasilnya lebih tinggi, umur lebih genjah dengan anakan banyak serta rasa nasi pulen dan aromatik.

“Hasil 11 ton ini masih dalam perhitungan ubinan. Kita dalam penanaman padi Sri Sedana ini luasnya 30 are. Nanti akan dihitung hasil riilnya agar pasti,” ujar Komisaris PT BSO (Bali SRI Organik) Ir. IBG Arsana di sela-sela panen perdana yang dihadiri Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali Dr. I Wayan Sunada, Guru Besar Fakultas Pertanian Unud Bidang Ilmu Pertanian Organik Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, MS dan pihak terkait lainnya.

Untuk mendapatkan hasil riil padi Sri Sedana ini, menurut Gusde Arsana pihaknya melibatkan puluhan petani setempat untuk melakukan panen. Dalam pelestarian plasma nutfah di Bali salah satunya jenis padi Lokal “Cicih Gondrong” Sudaji Buleleng yang harus tetap dijaga keasliannya sebagai sumber benih.

Untuk pengembangan dengan teknologi alami dilakukan dengan mengawinkan padi lokal Cicih Gondrong sebagai pejantan (serbuk sari) ditanam di lahan dengan betinanya memakai padi lokal Ngaos Rinjani yang sama-sama varietas lokal yang memiliki keunggulan masing-masing sehingga dapat menghasilkan padi lokal Sri Sedana.

Salah satu permasalahan utama yang dihadapi adalah keterbatasan akses terhadap benih bersertifikat dan ketersediaannya yang berkelanjutan. Ketersediaan benih yang tidak merata, kualitas yang belum terjamin, serta harga yang kurang terjangkau menjadi hambatan dalam meningkatkan produktivitas pertanian secara optimal.

Pelaku usaha pertanian sangat membutuhkan dukungan nyata, khususnya dalam penyediaan benih unggul yang terjamin mutu dan keberlanjutannya sebagai fondasi utama peningkatan hasil produksi dan efisiensi usaha tani.

Berdasarkan permasalahan tersebut sangat penting untuk menyediakan benih yang bersertifikat dan berkelanjutan, dengan memanfaatkan potensi lokal yang ada di Bali dan di Indonesia.

Prof. Kartini menekankan agar bersama-sama melestarikan padi organik dan menjaga tanah agar tidak beralih fungsi. Dikatakan pertanian Bali menjadi pertanian organik diawali tahun 2001 dan Bali menjadi pulau organik tahun 2009 yang dideklarasikan oleh Gubernur dan Bupati/Walikota se-Bali.

Sesudah itu dalam kebijakan-kebijakan Gubernur Mangku Pastika dan Gubernur Koster dan lahir Perda Pertanian Organik yaitu Nomor 8 Tahun 2019. Sekarang dalam pembangunan 100 tahun juga mencanangkan Bali menjadi Pulau Organik.

Namun kendala di lapangan itu memang banyak karena berangkat dari tanah yang rusak. Jadi tanah yang rusak itu harus diperbaiki dulu kualitasnya.

“Nah sekarang sebenarnya saatnya, karena kita sedang menghadapi masalah sampah. Jadi kadar bahan organik itu kan 65 sampai 90% pada saat hari raya. Jadi sebenarnya itu yang dikembalikan ke tanah lagi, dijadikan pupuk organik. Jadi Bali membuang pupuk organik sebanyak 900 ton per hari,” ujar Prof. Kartini.

Dulu penanaman padi hasilnya bisa 8 sampai 11 ton.
Sekarang merosot pada 4 ton sampai 5 6 ton. Namun Prof. Kartini mengajak agar tetap optimis. Sebab kalau sampah organik itu diselesaikan, dijadikan pupuk organik berbasis sumber di masing-masing desa, maka akan memberikan nilai yang sangat tinggi, bisa meningkatkan produktivitas lahan.

“Anggaplah mengolah sampah itu membeli pupuk organik. Sehingga bisa memperbaiki kesuburan tanah. Sebab tanah seharusnya kadar organiknya 5%, sekarang hanya masih 1%,” jelas Prof. Kartini.

Dikatakan kebijakan dan undang-undangnya sudah ada. Tinggal bagaimana eksekutif dan legislatif untuk mem-push ini. Karena kalau terlambat nanti tanahnya makin rusak. Jadi akan semakin marginal dan bahkan tidak menghasilkan.

Dalam diskusi terungkap selama ini umumnya petani memberi makan (pupuk) hanya tanamannya, bukan tanahnya. Yang bener tanahnya yang harus dikasi makan biar bagus dan subur.

Belakangan ini kebanyakan tanaman dikasi makan dengan bahan-bahan yang sintetik (kimia), akhirnya merusak tanah. Sementara bahan organik jarang diberikan sehingga produktivitas lahan untuk sawah itu kadar bahan organiknya hanya 1% yang seharusnya 5%.

“Nah, sekaranglah saatnya dijadikan 5% dengan mengolah sampah di sumber di masing-masing desa, dimanfaatkan oleh mereka pula,” pungkasnya. Prof. Kartini menambahkan sebagian tanah sawah keadaanya kritis. Kalau tanah tegalan masih lebih baik kadar bahan organiknya. (ist)

Leave a Reply

Berikan Komentar