Petani Muda Ini Ciptakan Iklim Bisnis Adil Bagi Petani, Pembeli dan Alam

(Baliekbis.com), Mimpi Komang Sukarsana, petani muda asal Kintamani, Bangli, Bali, patut didukung oleh semua pihak. Yakni sebuah iklim bisnis pertanian yang berkeadilan bagi petani, pembeli, dan alam. Sehingga petani bisa sejahtera. Seperti apa caranya?

Komang Sukarsana membuktikan jika bertani itu mengasyikkan dan keren. Ia tak pernah malu menjadi seorang petani karena gagal menjadi seorang PNS. Sejak lulus kuliah ia sempat mencari kerja dan gagal. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kampung halaman, di Kintamani, Bangli, Bali untuk memfokuskan diri menggeluti pertanian. Pertanian telah menjadi pandangan hidup dalam keluarganya. Ia pun menjadi generasi ketiga yang melanjutkan hidup dari pertanian.

Sejak 2019, pria yang lahir di Kintamani ini pun kemudian fokus menggarap lahan pertanian di bidang kopi arabika. Ini diawali ketika banyak wirausaha dari Australia yang datang ke Kintamani untuk membeli kopi. Kemudian sebagai orang lokal dan orang yang tertarik dengan kopi, ia ditawari untuk membina petani agar memproduksi kopi sesuai standar pasar.

“Awalnya saya hanya sebagai karyawan lapangan, tetapi saya merasa tertantang karena kopi Kintamani sudah mendunia kenapa saya sebagai orang lokal tidak tahu dan tidak bisa memproduksi itu, ” ungkapnya. Komang banyak bergelut dengan ahli-ahli kopi dan belajar tentang kopi hingga ke Jember. Pada 2012 ia banyak berkolaborasi dengan Bank Indonesia. Ia pernah mengikuti Lomba Wirausaha Muda Pemula berbasis teknologi (technopreneur) yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangli bekerjasama dengan Kemenpora, BPPT dan Bank Indonesia (BI) Bali yang mengantarkannya menjadi pengusaha muda kopi Kintamani yang sukses.

Ide bisnisnya untuk pengembangan kopi Kintamani keluar sebagai finalis terbaik. Setahun berikutnya, ia kembali terpilih sebagsi finalis empat besar wirausaha Bank Indonesia Bali. “Saya mendapatkan pelatihan, coaching untuk menjadi enterpreneur yang andal, mandiri dan berdaya saing dari Bank Indonesia,” kata Sukarsana saat berbicara dalam acara ALC Talk di Agro Learning Center, Peguyangan, Denpasar, Sabtu (19/6).

Dari pengalaman belajar, petani diperkenalkan dengan pasar ekspor kemudian dibina untuk berproduksi tinggi dan mengolah kopi sesuai dengan standar pasar. Di Kintamani terdapat 15 ribu hektare dan sudah ditanami kopi sekitar 7 ribu hingga 8 ribu hektare. Dengan karakter pertanian tumpang sari antara kopi dan jeruk.

“Pergerakan kopi Kintamani begitu masif, di mana mana dibicarakan hingga ke luar negeri dan menjadi salah satu kopi termahal di dunia,” jelasnya. Pengalaman di dunia kopi, juga melahirkan bisnis Bali Arabica Coffee Kintamani miliknya. Bisnis ini ia bangun dengan visi ‘menduniakan kopi lokal Bali dengan konsep Tri Hita Karana’.

“Misi sederhananya adalah menciptakan pasar yang berkeadilan bagi petani, pembeli dan pelestarian alam, meningkatkan nilai kelokalan kopi Kintamani dan menciptakan destinasi wisata kopi ‘Journey of Bali Coffee’ untuk mensinergikan pertanian dengan dunia pariwisata di Bali yang bertumpu pada tiga nilai yaitu good, quality dan nature,” tuturnya.

Adil bagi petani, pembeli dan alam itulah yang kini diterapkan di Bali Arabica Cofee Kintamani. “Saya bina petani untuk memproduksi sesuai dengan kebutuhan saya. Kalau kualitas kopi sesuai dengan pesanan saya, saya beli dengan harga lebih mahal ketimbang yang biasa saja,” katanya. Untuk alam, Komang Sukarsana juga berusaha untuk adil. “Setiap 1 kg kopi yang saya jugal saya kembalikan lagi untuk bibit. Makanya sampai saat ini saya membina sekitar 400-an petani,” katanya.

Selain itu, dengan menanam kopi berarti dirinya ikut membantu ketersediaan air Pulau Bali. Dalam membina petani, dirinya juga memulai dengan mengajak para petani berhitung. Sebab, jika tidak bisa berhitung, maka petani akan selalu kesulitan. “Peran pemerintah juga penting. Karena selama ini yang terjadi saat ekonomi nasional stabil, justru petani yang susah,” harapnya. Ke depan dia juga berharap pihak pengusaha hotel dan restoran menggunakan CSR punya kelompok petani binaan untuk menjadi supplier di tempat usahanya. Sehingga petani bisa memproduksi apa yang dibutuhkan pasar. (ist)