Peringatan World Ocean Day, Coral Triangle Day & Road to Ocean Impact Summit 2026: Wujudkan Laut yang Lebih Sehat
(Baliekbis.com), Peringatan World Ocean Day, Coral Triangle Day, dan Road to Ocean Impact Summit 2026 akan dilaksanakan di Peninsula Island, ITDC Nusa Dua, Bali pada tanggal 7 Juni 2026. Mengusung tema “Kenali Lautmu, Wujudkan Aksimu”, kegiatan ini menekankan pentingnya kesadaran, edukasi, dan aksi nyata untuk menjaga laut Indonesia tetap sehat dan produktif bagi generasi saat ini maupun masa depan.
Demikian mengemuka pada jumpa pers, Jumat (5/6/2026) di Denpasar yang dihadiri Analis Pengusahaan Jasa Kelautan Ahli Madya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Ir. R. Andry Indryasworo Sukmoputro,M.M., Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali Putu Sumardiana, Direktur Konservasi WWF Indonesia Dewi Lestari Yani Rizki dan Seniman Layangan Bali I Kadek Dwi Armika.
Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, generasi muda, akademisi, komunitas, dan sektor swasta untuk mendorong partisipasi aktif dalam konservasi laut, penanganan sampah laut, dan pengelolaan sumber daya kelautan yang berkelanjutan.
Menurut Andry Indryasworo laut memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan masyarakat. Karena itu, menjaga kebersihan laut menjadi bagian penting dalam keberlanjutan sumber daya perikanan nasional. Apalagi Indonesia memiliki wilayah laut yang lebih luas dibanding daratan. “Laut perlu dijaga kebersihannya agar ikan bisa umbuh dan berkembang biak,” ujarnya.
Ia menjelaskan KKP saat ini menjalankan program Laut Sehat Bebas Sampah (Sebasah). Ada empat kawasan yang menjadi sumber utama kebocoran sampah menuju laut yakni sungai, kawasan pesisir, pulau-pulau kecil, serta pelabuhan dan kawasan aktivitas lainnya. “Jadi sumber daya ikan ini harus dijaga dengan menjaga laut ini agar bersih,” ujarnya.
Disebutkan 40 persen kebocoran sampah laut berasal dari daratan yang terbawa aliran sungai sehingga penanganannya harus dilakukan dari hulu hingga hilir melalui kolaborasi pemerintah, swasta, komunitas, dan masyarakat.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Bali Putu Sumardiana menjelaskan di Bali laut disucikan. Selain memberi manfaat ekonomi juga masyarakatnya memuliakan laut. “Laut ini sumber kehidupan yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang perlu dijaga. Jadi gak harus tanam. Orang Bali percaya dari laut bisa hidup. Karenanya laut perlu dijaga dan dirawat,” ujarnya.
Ditambahkan laut memiliki posisi sangat penting bagi Bali baik ekonomi, ekologi dan sosial. “Laut merupakan sumber kehidupan. Kita tinggal menjaganya, tidak perlu menanam,” ujarnya. Masyarakat Bali telah diajarkan menjaga laut melalui berbagai tradisi dan kearifan lokal. Salah satunya melalui konsep Segara Kerthi yang memuliakan laut sebagai sumber kehidupan.
Sementara itu Direktur Konservasi WWF Indonesia Dewi Lestari mengatakan
momentum World Ocean Day dan Coral Triangle Day 2026 ini menjadi refleksi bersama bahwa menjaga laut bukan hanya tentang melindungi alam, tetapi juga memastikan sumber protein, nutrisi, dan penghidupan bagi jutaan masyarakat tetap terjaga secara berkelanjutan.
Kegiatan di Peninsula Island diharapkan dapat menjadi sarana edukasi publik untuk memperkenalkan implementasi ekonomi biru melalui konservasi laut, pengelolaan sampah laut, dan rehabilitasi ekosistem pesisir. “Jadi, kami mengajak masyarakat di Bali untuk hadir dan belajar bersama para ahli. Mari kita wujudkan laut Indonesia yang lebih sehat,” ujar Dewi Lestari.
“Kalau lautnya sehat maka masyarakatnya ikut sehat. Jadi harus bergandengan tangan bersama-sama untuk menjaga dan melindungi laut.
Sumber pangan kita dari laut, jadi bagaimana menciptakan laut yang sehat,” tambahnya.
Seniman Layangan Dwi Ardika mengatakan Bali dikelilingi laut sehingga harus dijaga keseimbangannya dan jangan sampai tercemar. Laut menurutnya memiliki hubungan erat dengan budaya Bali seperti tercermin dalam tradisi layang-layang Bali yang banyak mengangkat simbol dan filosofi kehidupan laut (ikan-bebean). Bebean adalah layangan berbentuk ikan-ikanan sebagai layangan khas Bali.
Rangkaian kegiatan dimulai melalui aksi untuk laut di 17 lokasi di Indonesia, yaitu Jakarta, Tangerang, Surabaya, Bali, Alor, Kupang, Wakatobi, Derawan, Moa (Maluku Barat Daya), Paloh, Makassar, Sulawesi Tengah, Teluk Jor (Lombok Timur), Palopo, Labuan Bajo, Teluk Saleh, dan Ambon yang dilaksanakan sejak pertengahan Mei hingga 7 Juni nanti. Adapun mitra lainnya yang turut menjadi bagian dari kolaborasi aksi ini adalah Save The Children, Delterra, EcoNusa, Marine Buddies, dan Plastic Free Ocean Network.
Aksi kolaboratif ini meliputi kegiatan Laut Sehat Bebas Sampah (Laut SEBASAH), Sekolah Pantai Indonesia, penanaman mangrove, edukasi pengelolaan pesisir, dan berbagai kegiatan konservasi lainnya yang bertujuan mengubah momentum perayaan menjadi aksi nyata. Kegiatan ini diharapkan dapat membangun kesadaran publik menjaga laut berarti menjaga sumber pangan, kesehatan, dan masa depan masyarakat Indonesia.
“Gerakan menjaga laut akan semakin kuat melalui kolaborasi. Kami mengapresiasi dukungan para mitra, komunitas, generasi muda, dan masyarakat pesisir dari berbagai wilayah yang telah terlibat dalam berbagai aksi nyata, mulai dari bersih pantai, rehabilitasi ekosistem pesisir, edukasi masyarakat, hingga kampanye pengurangan sampah masuk ke laut. Berbagai kegiatan tersebut menunjukkan bahwa perlindungan laut merupakan tanggung jawab bersama yang dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana di tingkat lokal. Sejalan dengan kebijakan ekonomi biru KKP, upaya pengurangan sampah masuk ke laut, penanganan sampah yang sudah ada di laut, rehabilitasi ekosistem pesisir, serta peningkatan kesadaran masyarakat perlu terus diperkuat untuk menjaga laut tetap sehat, produktif, dan berkelanjutan,” ujar Direktur Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Ahmad Aris, dalam keterangan resminya di Denpasar.
Pada acara puncak yang diselenggarakan di Bali, masyarakat dapat belajar langsung bersama para ahli melalui talkshow interaktif, workshop kreatif, pameran edukatif, festival layang-layang spesies laut, pertunjukan budaya Wayang Samudera, serta berbagai aktivitas ramah keluarga lainnya.
Selain para ahli dan praktisi, kegiatan ini juga menghadirkan tokoh masyarakat yang aktif bergerak di bidang konservasi dan keberlanjutan, seperti Komang Ruditha Hartawan dari TPST-3R Desa Adat Seminyak yang merupakan dampingan CCEP Indonesia, Sumardin dari Pokdarwis Rangko, Manggarai Barat; Christiani Valentine dari BUMDes Manandang Kaliuda, Sumba Timur, NTT; dan tokoh masyarakat lainnya yang siap berbagi ilmu. Tidak terkecuali, I Kadek Dwi Armika, yang merupakan seniman layangan terkemuka dari Bali, turut mendukung proses Festival dan Workshop Layangan bertemakan laut ini.
Rangkaian Happy World Ocean Day, Coral Triangle Day dan Road to Ocean Impact Summit 2026 di Peninsula Island, Nusa Dua, Minggu (7/6) mulai dari talkshow dan diskusi bersama pakar kelautan, praktisi konservasi, pemerintah, akademisi hingga organisasi lingkungan. Juga tersedia area pameran dan stan edukasi mengenai terumbu karang, mangrove, padang lamun, spesies laut Indonesia, hingga program-program konservasi yang telah berjalan di berbagai daerah. (ist)


Leave a Reply