Mengapa Ketika Orang Terkasih Pergi, Dunia Serasa Runtuh? Ini Penjelasan Ilmiahnya

(Baliekbis.com), Pada suatu pagi yang tampak biasa, seseorang menerima kabar bahwa orang terkasihnya telah tiada. Seketika, dunia yang ia kenal berubah. Nafas terasa berat, bumi seperti melambat, dan pikiran berputar tanpa arah. Banyak orang menggambarkan pengalaman itu sebagai momen ketika “dunia runtuh”. Ungkapan ini ternyata bukan hanya metafora; secara ilmiah, memang ada proses biologis, neurologis, dan psikologis yang membuat duka terasa menghancurkan.

1. Kehilangan Mengguncang Struktur Otak

Para ahli saraf menemukan bahwa ketika seseorang kehilangan orang yang sangat dekat, otak mempersepsikan kehilangan itu sebagai ancaman besar bagi keberlangsungan hidup. Wilayah otak seperti amigdala, yang mengatur respon takut dan panik, menjadi sangat aktif. Dalam kondisi duka berat, amigdala mengirim sinyal darurat berlebih yang membuat tubuh berada dalam mode “bahaya”, meski tidak ada ancaman fisik.

Pada saat yang sama, area prefrontal cortex—bagian otak yang mengatur logika dan pengambilan keputusan—sering melemah fungsinya. Kombinasi ini membuat seseorang merasa kacau, sulit berpikir jernih, dan merasa hidup kehilangan arah.

2. Tubuh Merasakan Patah Hati Secara Fisik

Istilah “broken heart” ternyata bukan hanya puisi. Ada kondisi medis bernama Takotsubo Cardiomyopathy, atau broken heart syndrome, yang muncul akibat lonjakan hormon stres ketika berduka.

Ketika kehilangan terjadi, tubuh melepaskan kortisol dan adrenalin dalam jumlah besar. Hormon ini memengaruhi otot jantung sehingga muncul gejala seperti:

  • dada sesak atau sakit seperti serangan jantung,

  • napas pendek,

  • tubuh gemetar,

  • detak jantung tidak stabil.

Inilah alasan mengapa duka bisa terasa benar-benar menyakitkan di tubuh, bukan hanya di pikiran.

3. Kehilangan Menghancurkan Sense of Self

Orang-orang yang kita cintai bukan hanya bagian dari hidup kita—mereka membentuk identitas kita. Psikologi menyebutnya “self-expansion theory”. Ketika kita dekat dengan seseorang, sebagian identitas, rutinitas, dan harapan masa depan kita tersusun dengan kehadiran orang itu.

Ketika mereka pergi, bukan hanya kita kehilangan seseorang—kita juga kehilangan bagian dari diri kita.
Ini memunculkan rasa:

  • kebingungan akan masa depan,

  • kehilangan arah hidup,

  • hampa atau kosong,

  • seolah dunia tidak sama lagi.

Rasanya seperti sedang mencoba berjalan di tempat yang dulu kita kenal, tetapi semuanya telah berubah bentuk.

4. Sistem Sosial Kita Mendadak Berlubang

Menurut ilmu antropologi dan psikologi perkembangan, manusia adalah makhluk yang secara biologis dirancang untuk terhubung. Kehilangan orang terdekat menciptakan “lubang” besar dalam sistem sosial internal kita—mirip jaring laba-laba yang kehilangan simpul utamanya.

Ketika simpul itu hilang:

  • stabilitas emosional terganggu,

  • rasa aman berkurang,

  • dunia terasa tidak stabil, tidak bisa diprediksi.

Oleh karena itu, rasa “runtuh” muncul karena kita kehilangan salah satu pilar yang menopang keseharian.

5. Otak Kehilangan Pola yang Telah Terbentuk

Otak sangat bergantung pada kebiasaan dan pola.
Mendengar suara orang tersayang, mendapat pesan singkat, atau sekadar melihat pintu kamar mereka terbuka hanyalah sebagian dari pola kecil yang telah menjadi rutinitas otak.

Ketika orang itu tiada, pola tersebut tiba-tiba hilang.

Otak mencoba mencari pola yang hilang, dan tidak menemukannya.
Inilah alasan:

  • kita sering “merasa” orang itu masih ada,

  • muncul sensasi sulit menerima kenyataan,

  • atau tubuh seolah menolak perubahan.

Perubahan drastis inilah yang menciptakan sensasi dunia seperti tumbang.

6. Duka Adalah Reaksi Pemulihan

Meski terasa menghancurkan, duka adalah reaksi yang normal—bahkan adaptif. Ia memaksa otak, tubuh, dan identitas untuk menemukan bentuk baru setelah perubahan besar.

Penelitian menunjukkan bahwa otak dapat “merestrukturisasi” dirinya setelah kehilangan. Hubungan sosial baru, rutinitas baru, dan makna baru mampu memperbaiki kembali bagian-bagian diri yang dulu runtuh.

Kesimpulan: Rasa Runtuh Itu Nyata, dan Sangat Manusiawi

Ketika orang yang kita sayangi meninggal, kita tidak hanya mengalami kesedihan emosional. Secara biologis, neurologis, dan psikologis, tubuh dan otak memang sedang mengalami guncangan besar.

Rasa “dunia runtuh” bukan berlebihan—itu adalah cara tubuh memberi tahu bahwa ada sesuatu yang sangat berharga telah hilang.

Duka itu berat, tetapi ia adalah proses manusia untuk bertahan, menata ulang diri, dan perlahan menemukan dunia yang baru.