Maestro Seni Lukis Made Budiana Berpulang
(Baliekbis.com),Maestro seni lukis Made Budiana, Jumat (10/7) berpulang setelah sempat dirawat di rumah sakit.
Kepergian almarhum Bli Made meninggalkan duka yang mendalam. “Kami dari MahaArt Gallery, Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI) dan Persatuan Perusahaan Tour dan Travel Indonesia (PPIT) Bali menyampaikan belasungkawa atas berpulangnya Bli Made Budiana (27 Maret 1959 – 10 Juli 2026), maestro seni lukis Bali yang telah berpulang ke pangkuan Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” ungkap Owner MahaArt Gallery Agus Maha Usadha dalam pernyataannya, Jumat (10/7) di Denpasar.
Agus Maha Usadha yang juga Ketua NCPI Bali dan Ketua Harian PPIT Bali mengatakan
kepergian Bli Made Budiana bukan hanya kehilangan bagi keluarga. Ini adalah kehilangan besar bagi ekosistem seni dan budaya Bali.
Selama puluhan tahun, Bli Made telah menjadi salah satu penjaga napas seni Bali. Lulusan STSRI ‘ASRI’ Yogyakarta (1987) ini dikenal sebagai pelukis abstrak yang kemudian berkembang menjadi perupa kreatif—baik dari aspek gagasan maupun eksperimentasi media.
Karya-karyanya bukan sekadar lukisan di atas kanvas. “Karya-karya beliau adalah doa, cerita tentang spiritualitas, tentang hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta, tentang Tri Hita Karana yang menjadi jiwa Bali,” ungkap Agus Maha Usadha.
Bagi MahaArt Gallery, Bli Made adalah guru dan sahabat. Bersama kami di galeri kami, bersama dengan beberapa tokoh maestro dan senior seni kita pada saat itu alm. Made Wianta, Chusin S., alm Made Budiana, Sucipto Adi muncul gagasan menyiapkan ruang bagi dialog dan space untuk seniman lukis.
Dengan semangat dan motor beliau di atas MahaArt dibentuk, nama dan logo dalam banyak perdebatan akhirnya disiapkan dan didesain dari goresan alm. Made Wianta selaku salah satu conceptor yang dimulai dengan Maha Art Gallery di SECTOR arcade Bali Beach Golf Course Sanur
yang dimulai dengan pameran bersama kelima tokoh pendiri MahaArt.
Kemudian alm. tahun 2010, meluncurkan buku autobiografi Melintas Cakrawala yang merangkum perjalanan kreatifnya dari masa kanak-kanak hingga pasca-studi. Banyak seniman muda yang tumbuh karena melihat, belajar, dan berdialog dengan beliau.
Melalui Pameran Tunggal
Bagi NCPI, Bli Made adalah bukti nyata bahwa pariwisata budaya yang bermartabat harus bertumpu pada budaya dan seniman sebagai pusatnya.
Bagi PPIT Bali, karya Bli Made telah menjadi daya tarik wisata budaya yang membawa wisatawan datang ke Bali bukan hanya untuk pantai, tetapi untuk jiwa Bali.
Warisan yang melampaui batas
Duka ini juga dirasakan oleh komunitas internasional. Karya-karya Bli Made telah dipamerkan di berbagai negara -Jerman, Swiss, Singapura, Malaysia, Australia, dan Belanda.
Pameran tunggalnya di The Northern Territory Museum of Arts and Sciences, Darwin (1989), menjadi salah satu tonggak penting dalam pengakuan internasional terhadap seni Bali.
Kolektor, kurator, dan sahabat seni dari Australia, Eropa, Amerika, dan Asia telah menjadikan karya Bli Made sebagai jembatan budaya. Melalui kuasnya, nama Bali dikenal dan dihormati di seluruh dunia.
Beliau juga merupakan bagian dari Kelompok 7 Sanggar Dewata Indonesia (SDI)—bersama I Made Djirna, Nyoman Erawan, Nyoman Wibawa, Made Sudibia, Made Bendi Yudha, dan Made Ruta—sekelompok perupa veteran yang telah mewarnai wajah seni rupa Bali selama beberapa dekade.
Kepergian almarhum meninggalkan ruang kosong yang sulit diisi. Tetapi meninggalkan pula warisan yang abadi: ribuan karya, ratusan murid, dan satu pesan penting—bahwa seni adalah cara Bali menjaga martabatnya di tengah arus zaman.
Bersama keluarga dan semua sahabat seniman
Tentunya kami berkomitmen untuk terus menanamkan semangat konsistensi dan “dunia berkesenian“ yang diciptakan alm. bersama semua sahabat akan menjadi pengingat bagi semua kita ke depan. Sehingga akan terus terawat melalui kenangan karya-karya Bli Made agar generasi mendatang dapat belajar.
Terima kasih Bli Made, karena telah mengajarkan kami bahwa keindahan sejati lahir dari ketulusan dan kerja nurani—bahwa “keindahan berserak di sekitar kita” dan segala hal berpeluang menjadi karya seni jika kita mau kreatif. Process konsistensi dan ketulusan telah dicontohkan kepada semua penerus kita.
Semoga sang jiwa beristirahat dengan tenang di sisi Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Semoga karya dan namanya terus hidup, menginspirasi, dan mengharumkan Bali.
Ungkapan duka juga disampaikan Prof. Made Bandem. Di sela-sela pembukaan pameran tunggal “KACATRI” Made Wiradana di Santrian Art Gallery, Jumat (10/7) malam, Prof. Bandem menyampaikan duka mendalam kepada almarhum yang cukup lama dikenalnya. (ist)

