Belum Tayang, Ribuan Tiket Film “Nyungsang” Terjual

(Baliekbis.com), Film layar lebar “Nyungsang” bergenre horor diangkat dari kisah nyata pengalaman mistis salah satu keluarga di Bali segera tayang perdana 29 Maret di Denpasar Cineplex. Karya sineas muda Bali Komang Gases ini dipastikan akan menyuguhkan tontonan yang memacu andrenalin, namun sarat selipan pesan petuah. Komang Gases yang bertindak selaku sutradara sekaligus produser ini mengatakan, pembuatan film yang menelan dana hampir Rp 400 juta ini bertujuan untuk melestarikan taksu seni budaya Bali melalui pendokumentasian film.

“Kenapa kami pilih film? Karena masih sangat jarang yang mengangkat secara visual tentang kehidupan masyarakat Bali yang lekat dengan berbagai ritual budaya dan agama secara dekat dan detaii,” ujarnya di Denpasar, Jumat (16/3). Agar cerita dalam film ini mudah dicerna penonton, maka setting dan suasana dalam film Nyungsang dibuat senatural mungkin, tanpa harus mengorbankan kekuatan cerita dalam film. “Semuanya kami perhitungkan secara matang. Bahkan untuk kekuatan ceritanya, kami memadukannya dengan sastra, agar spiritnya bisa menyentuh hati para penonton,” terangnya.

Meski begitu, bukan berarti dalam pembuatan film yang didukung IKIP PGRI BALI, JAGIR, dan GASES BALI tidak menghadapi berbagai kendala sama sekali. Bahkan menurut Komang, sejak awal pembuatan film ini sudah menemui bermacam tantangan. “Dana sangat terbatas, juga pengalaman kami di bidang perfilman. Namun kami sangat puas setelah melihat apresiasi masyarakat yang antusias. Sebelum tayang saja, tiket sudah terjual 4.800 lembar. Semoga bisa tayang di seluruh Indonesia,” harapnya.

Namun ia menegaskan bahwa tujuan utama pembuatan film ini bukanlah untuk mengejar profit. “Kami ingin berkarya sekaligus membuktikan bahwa sineas muda Bali tak kalah kualitasnya dengan yang lain,” tegasnya. Kemudian Komang menunturkan, film yang mengambil lokasi syuting di sejumlah tempat di Bali ini mengisahkan tentang keluarga tragedi yang dialami keluarga Luh Tu Nesti sehingga hanya sang nenek dan cucu yang masih tinggal hidup. Akhirnya, lanjut dia, demi mempertahankan garis keturunan, sang nenek memutuskan untuk memohon anugrah. “Ketika anugrah terkabulkan, dia salah artikan sehingga tingkah lakunya terbalik atau nyungsang,” katanya. Dalam film yang melibatkan 150 pemain ini, pihaknya menyelipkan sejumlah pesan petuah dari warisan kearifan lokal budaya serta tradisi Bali. “Agar setiap anugrah atau ilmu yang diperoleh, sepatutnya digunakan secara bijaksana supaya tidak nyungsang. Karena akan merugikan bisa merugikan orang lain termasuk kita sendiri,” tutupnya. (mnt)