Sosialisasi Empat Pilar di SMAN 1 Kuta, Pendidikan Harus Perkuat Nilai Kebangsaan dan Lindungi Kesehatan Mental Siswa
(Baliekbis.com), Di dalam keberagaman ada persatuan, di dalam persatuan ada keberagaman. Demikian disampaikan Anggota MPR/DPD RI, I.B. Rai Dharmawijaya Mantra dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Kuta pada Minggu (15/03/2026).
Rai Mantra menekankan bahwa keberagaman bukan merupakan penghalang, melainkan kekuatan dalam menghadapi tantangan bangsa.
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang diikuti oleh Ketua Komite, Kepala Sekolah, Guru, dan Murid SMA Negeri 1 Kuta tersebut mengambil tema “Penguatan Nilai Empat Pilar MPR RI Dalam Menghadapi Tantangan Pendidikan.”
Pendidikan tambah Rai Mantra merupakan hak setiap warga negara yang dijamin dalam konstitusi dan negara berkewajiban untuk menyelenggarakan pendidikan yang adil, merata, dan berkualitas bagi warganya.
Di era media sosial, dunia pendidikan menghadapi tantangan serius terutama terkait etika. Kebebasan yang tidak terkontrol di ruang digital menimbulkan bias informasi dan persepsi bahwa setiap individu dapat berkata apa saja, tanpa adanya tanggung jawab moral.

Rai Mantra menegaskan kondisi ini memunculkan berbagai persoalan seperti ujaran kebencian, cyber bullying, dan risiko gangguan kesehatan mental.
“Peredaran informasi di media sosial yang cepat, luas, dan tanpa filter yang jelas, secara tidak sadar telah menyebabkan gangguan terhadap kondisi kesehatan mental terutama di kalangan generasi muda,” tegas ai Mantra.
Mantan Walikota Denpasar dua periode ini mengungkapkan pada tahun 2024, Bali menempati peringkat tertinggi tingkat bunuh diri (suicide rate) di Indonesia dimana mencapai 3.07 per 100.000 penduduk.
Belakangan bahkan banyak ditemukan kasus bunuh diri yang terjadi di lingkungan satuan pendidikan yang semakin menunjukkan seriusnya tantangan kesehatan mental di kalangan generasi muda.
Sementara itu Wayan Widiani, Guru Sosiologi SMA Negeri 1 Kuta mengatakan tanpa disadari interaksi antarmurid di sekolah kerap mengandung bullying, namun dibalut dengan candaan.
Ia menambahkan latar belakang murid yang berbeda-beda, perlu disikapi melalui pemberian pemahaman yang baik dan pendidikan nilai yang tepat.
“Kami selalu berupaya memberikan konseling di kelas untuk mengetahui problem yang dihadapi masing-masing individu. Kami selalu menekankan bahwa setiap individu adalah beharga dan memiliki nilai (values) masing-masing,” ujar Widiani.
Maysia, Siswa Kelas XII SMA Negeri 1 Kuta menyampaikan harapannya agar pemerintah menyediakan akses pembiayaan layanan kesehatan mental baik dalam tahap konseling, terapi lanjutan, dan rehabilitasi.
“Biaya psikolog cenderung mahal, namun perannya sangat penting untuk membantu individu dalam memahami kondisi mental, sehingga intervensi pemerintah dibutuhkan disini melalui BPJS,” ujarnya.
Dalam menghadapi risiko gangguan kesehatan mental, Rai Mantra memandang pentingnya pembentukan kelompok-kelompok etik di satuan pendidikan.
Kelompok etik ini nantinya dapat membantu individu yang membutuhkan dukungan moral dan psikologis dalam menghadapi berbagai tekanan di lingkungan pendidikan maupun media sosial.
“Hal ini merupakan pengamalan nilai Pancasila yakni sikap tolong menolong, bagaimana kita dapat menyediakan akses dan dukungan bagi individu yang membutuhkan bantuan,” ujar Rai Mantra.
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di SMA Negeri 1 Kuta disambut antusias oleh peserta. Pertanyaan yang disampaikan beragam mulai dari pelaksanaan SPMB, tantangan guru dalam mendidik, hingga persoalan banjir yang belakangan terjadi.
Diharapkan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI dapat menjadi ruang dialog yang interaktif sekaligus ruang kebangsaan untuk memperkuat jati diri ke-Indonesiaan. (ist)

