Presiden Apresiasi Umat Hindu yang Pegang Teguh Tri Hita Karana, Spirit Vasudhaiva Kutumbhakam Menjelma dalam Kolaborasi Ragam Acara
(Baliekbis.com), Perayaan Dharma Santi Nasional dalam rangka Hari Raya Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948/2026 digelar di Ardha Candra, Taman Werdhi Budaya, Denpasar, Bali, pada Selasa (17/6/2025) petang. Kegiatan diawali dengan Puja Trisandya yang dipimpin Ida Pandita Mpu Jaya Santika Wira Yoga, diikuti seluruh umat dan undangan yang hadir dengan penuh khidmat. Beragam acara turut menghibur undangan, mulai dari bondres, gita puja, musik kontemporer, aneka tarian, hingga puncaknya berupa fragmen tari bertajuk Nusantara Manunggal garapan SMK Negeri 3 Gianyar.
Spirit Vasudhaiva Kutumbhakam menjelma dalam beragam sajian serta kepanitiaan yang melibatkan berbagai komponen umat Hindu. Berbagai pihak, mulai dari komunitas seni, ASN, TNI/Polri, dunia pendidikan, organisasi keumatan, mahasiswa, hingga lembaga lainnya, bersatu padu dan bergotong royong menyukseskan penyelenggaraan acara ini.
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyampaikan sambutan melalui tayangan video. Dalam pesannya, Presiden menyampaikan permohonan maaf karena belum dapat hadir secara langsung dalam pelaksanaan Dharma Santi Nasional Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948 di Bali. Dalam sambutannya, Presiden Prabowo mengapresiasi umat Hindu yang terus memegang teguh nilai Tri Hita Karana sebagai fondasi kehidupan harmonis. “Nilai luhur yang mengajarkan tentang pentingnya hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam,” ujar Presiden. Ia juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjaga persatuan demi kemajuan Indonesia.
Senada dengan Presiden, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc., menyatakan bahwa Hindu menyimpan banyak nilai luhur yang dapat menjadi penerang bagi umat manusia, salah satunya Tri Hita Karana. “Ke mana arah nilai-nilai luhur ini, dan kita akan berusaha keras untuk menjalankannya. Walaupun kita sadari, dalam menyikapi berbagai hal tidak mudah, apalagi dengan dinamika yang tengah bergejolak di Timur Tengah,” ujarnya. Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya selalu berupaya hadir dalam kegiatan umat Hindu yang dilaksanakan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat.
Sementara itu, Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha, mengatakan Nyepi bukan sekadar perayaan, melainkan momentum untuk menepi dan kembali ke dalam diri. “Dalam keheningan, manusia diajak bertanya: siapa kita dan ke mana kita menuju dalam semesta,” ungkapnya. Ia berharap praktik refleksi diri tidak hanya dilakukan setahun sekali, tetapi setiap saat ketika manusia membutuhkan pencerahan dan arah hidup.
Ketua Umum Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini melibatkan seluruh komponen umat secara luar biasa. Ia mengajak seluruh umat untuk bersatu menjaga lingkungan, termasuk mewujudkan Bali yang bersih sebagai bagian dari pengamalan Dharma. “Semoga melalui Dharma Santi ini, kita semua kembali diteguhkan dan diberkati untuk menempuh jalan yang terbaik,” ujarnya.
Di tempat yang sama, Ketua Panitia, Made Susila, menambahkan bahwa Dharma Santi merupakan puncak sekaligus penutup rangkaian Hari Raya Nyepi yang bertujuan mempererat persatuan dan kerukunan antarumat beragama.
Turut hadir dalam kegiatan ini Menteri Koordinator PMK Pratikno, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Enik Ermawati, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha, Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, Gubernur Bali Wayan Koster, Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta, Pangdam IX/Udayana Mayor Jenderal TNI Piek Budyakto, serta para pimpinan Parisada Hindu Dharma dan tokoh lintas agama.
Perayaan berskala nasional ini dihadiri sekitar 5.500 umat dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, tokoh masyarakat, pengelingsir, pinandita, hingga pandita. Antusiasme peserta terlihat saat menyaksikan beragam pertunjukan seni budaya Bali seperti tarian tradisional dan bondres yang tampil memukau di panggung terbuka, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat.
Mengusung tema “Vasudhaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga, Nusantara Harmoni Indonesia Maju”, Dharma Santi tahun ini menegaskan nilai universal bahwa seluruh umat manusia adalah satu keluarga. Dalam Dharma Wacana yang disampaikan oleh Ida Pedanda Gede Made Putra Kekeran, ditegaskan bahwa Dharma Santi merupakan momentum introspeksi dan evaluasi diri demi kehidupan yang lebih baik ke depan, serta memperkuat nilai kedamaian, cinta kasih, dan toleransi.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib, penuh khidmat, dan sarat makna spiritual, mencerminkan semangat kebersamaan dalam keberagaman serta komitmen menjaga harmoni menuju Indonesia yang damai dan maju.

