Hari Ketiga BaliSpirit Festival 2026 di Ubud: Ruang Bertukar, Tumbuh, dan Berkarya Bersama

(Baliekbis.com), Hari ketiga BaliSpirit Festival 2026 pada Sabtu (18/4) menghadirkan energi yang semakin mendalam dan beragam. Festival ini menjadi panggung pertemuan antara tradisi spiritual, gerak tubuh, seni, serta dialog lintas budaya, yang menyatu dalam semangat sebagai “rumah” bagi ribuan peserta dari berbagai penjuru dunia.

Co-Founder BaliSpirit Festival, I Made Gunarta, menyampaikan bahwa esensi festival ini bukan terletak pada siapa penyelenggaranya, melainkan bagaimana komunitas dapat menciptakan ruang untuk saling bertukar, tumbuh, dan berkarya bersama. Hal tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Puri Padi Hotel, Ubud, yang turut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang.

Gunarta mengungkapkan bahwa penyelenggaraan tahun ini menghadapi tantangan global yang berdampak pada penjualan tiket. Meski demikian, festival tetap berlangsung berkat dukungan berbagai pihak. Ia menegaskan bahwa BaliSpirit dapat digelar di mana saja, selama melibatkan komunitas lokal dan mengangkat keunikan budaya setempat.

Direktur Rumi Institute sekaligus pakar bahasa Persia, Ustad Nur Jabir, menekankan bahwa ajaran tasawuf Rumi mengajarkan persatuan di balik perbedaan. Ia mengibaratkan kebenaran sebagai cermin yang pecah, di mana setiap orang memegang bagian dari sumber yang sama. Menurutnya, festival ini menjadi ruang pertemuan budaya dan bahasa dalam semangat kemanusiaan yang melampaui batas lahiriah.

Sementara itu, musisi Budho Adhi Saddharmo (Bodaz) membagikan pengalamannya menggabungkan musik dengan yoga dan mindfulness sebagai perjalanan spiritual. Didukung pula oleh pandangan guru yoga asal Australia, Barbara, serta partisipasi seniman muda, festival ini menegaskan komitmennya dalam merayakan keberagaman. Mengusung tema “Welcome Home”, BaliSpirit Festival ke-17 ini mengajak peserta kembali pada diri, kemanusiaan, dan kesadaran terhadap lingkungan. (ist)