Pembangunan Patung ‘Sabdo Palon’ Dimulai, Gaungkan Perdamaian dan Keadilan dari Bali

(Baliekbis.com),Yayasan Sabdo Palon Nusantara resmi memulai langkah awal pembangunan monumental di Pulau Dewata. Tepat pada hari ini, Rabu (3/6) prosesi peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan Patung Sabdo Palon terbesar di dunia sukses dilaksanakan di kawasan Ungasan, Badung, berdekatan dengan ikon kultural Garuda Wisnu Kencana (GWK).

Proyek megah yang diperkirakan akan menelan anggaran triliunan rupiah ini diinisiasi oleh Ida Bagus Dharmika, atau yang akrab disapa Gus Marhaen.

Selain menjabat sebagai Ketua Umum Yayasan Sabdo Palon Nusantara, Gus Marhaen juga dikenal luas sebagai pendiri Museum Agung Bung Karno sekaligus penggiat pelestarian ajaran Sang Proklamator.

Menurut Gus Marhaen, momentum peletakan batu pertama ini dipilih berdasarkan perhitungan hari baik (dewasa ayu) dan bertepatan dengan Bulan Bung Karno. Langkah ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan sebuah gerakan spiritual dan kebudayaan yang berangkat dari kedalaman sastra Nusantara.

Dalam penjelasannya, Gus Marhaen menegaskan Sabda Palon bukanlah konsep yang asing, melainkan nilai universal yang selaras dengan berbagai keyakinan. Konsep “Sabda” identik dengan firman atau wahyu, sementara “Palon” berarti kebenaran yang bergema di alam semesta.

Spirit inilah yang diyakini mengkristal dalam Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika yang digali oleh Bung Karno.

Berbeda dengan tokoh penguasa, Sabdo Palon—yang kerap disimbolkan melalui karakter orang tua seperti Semar, dan Tualen—adalah representasi murni dari rakyat.

“Kalau Sabdo Palon ini kan simbol rakyat. Orang yang memposisikan sebagai simbol rakyat ini yang sulit mencari ketokohan. Pemimpin yang sok-sokan merakyat, ya tidak rakyat karena itu hanya kata ‘merakyat’. Tetapi kalau simbol ini adalah simbol rakyat yang berakar dari rakyat, oleh rakyat, di situlah kita akan menemukan bibit paripurna,” ujar Gus Marhaen.

Lebih lanjut, Gus Marhaen mengaitkan pembangunan ini dengan ramalan sastra kuno mengenai kembalinya Sabdo Palon setelah 500 tahun runtuhnya Majapahit pada 1400 saka (1478 M). Di tengah ketidakpastian global saat ini, kehadiran simbol ini dianggap sebagai kompas kehidupan.

“Sastra mengatakan Sabdo Palon hadir di 500 tahun yang akan datang. Apakah itu 501 hingga 599 tepat pada waktunya. Kalau mengikuti irama sastra tahun 1478, ujung selesainya di 2078. Hari ini salah satu cerminnya adalah tidak ada kejelasan yang pasti dalam segala aspek kehidupan. Sebagai orang yang memahami Sabdo Palon, kita tidak perlu waswas,” jelasnya.

Melalui Patung Sabdo Palon di Bali ini, Gus Marhaen berharap gaung perdamaian, keadilan, dan kemanusiaan tidak hanya berhenti di tingkat lokal, tetapi juga mendunia dari Bali sebagai Pusat Kebudayaan dan Pariwisata Dunia.

Pembangunan ekstrem ini didekasikan demi keseimbangan seluruh makhluk hidup di alam semesta. “Pemahaman saya yang begitu ekstrem, saya persembahkan Sabdo Palon ini demi kepentingan umat manusia di dunia, tidak hanya sekadar umat manusia termasuk juga makhluk-makhluk yang lain, binatang dan tumbuh-tumbuhan. Target penyelesaian? Biar alamlah yang menyeleksi, karena yang kita buat sesuatu yang besar yang berakar dari pemikiran yang besar,” pungkas Gus Marhaen. (ist)

Leave a Reply

Berikan Komentar