NCPI Bali Gelar ‘Great Sharing Session’ “Bali-Australia: Memperkuat Masa Depan Persahabatan Internasional melalui Spirit Bali”
(Baliekbis.com),NCPI (Nawa Cita Pariwisata Indonesia) Bali menggelar “Great Sharing Session” dengan tema “Bali-Australia: Memperkuat Masa Depan Persahabatan Internasional melalui Spirit Bali”, Kamis (30/7) di Bali International Hospital KEK Sanur Denpasar.
Pada Sharing Session yang dihadiri Gubernur Bali diwakili Staf Ahli Cok Bagus Pemayun, Konjen Australia dan ratusan peserta dari berbagai kalangan tampil sebagai pembicara Akademisi Unud Prof. Dr. Ida Bagus Wyasa Putra,S.H., M.Hum., David John Hurley, AC, CVO, DSC, FTSE (Mantan Gubernur Australia), Penasehat NCPI Bagus Sudibya dan Kepala Imigrasi Ngurah Rai Bugie Kurniawan, A.Md.Im., S.IP.,M.Si.
Ketua NCPI Bali Agus Maha Usadha mengatakan hubungan antara Indonesia dan Australia, Bali memainkan peran strategis baik sebagai tujuan kelas dunia maupun sebagai jembatan persahabatan antara kedua negara. Hubungan bilateral yang erat dan saling menguntungkan ini tercermin dari tingginya minat warga Australia terhadap Bali sebagai tujuan wisata—dan bahkan sebagai “rumah kedua” bagi banyak orang.
Hubungan yang langgeng ini harus terus dibina dan diperkuat melalui kerja sama yang bermakna dan menguntungkan kedua negara. Meskipun kedatangan pengunjung Australia terkadang mengalami fluktuasi akibat kondisi ekonomi global dan keadaan luar biasa lainnya, perubahan sementara tersebut tidak mengurangi ikatan antarmasyarakat yang kuat atau potensi kolaborasi yang signifikan dalam bidang pariwisata, kelestarian lingkungan dan pengembangan budaya.
Mengingat hal ini, NCPI Bali memprakarsai kunjungan resmi Jenderal (Purn) David Hurley, AC,CVO,DSC sebagai wujud nyata komitmennya untuk memperkuat persahabatan internasional dan kerja sama bilateral.
Dijelaskan Agus Maha Usadha, Great Sharing Session ini bertujuan untuk
menyediakan platform strategis untuk dialog dan pertukaran ide guna memperkuat persahabatan Indonesia-Australia melalui diplomasi budaya, berbagi pengetahuan, dan keterlibatan antarmasyarakat.
Mendorong kolaborasi antara pemangku kepentingan Indonesia dan Australia dalam mempromosikan pariwisata berkelanjutan, pelestarian lingkungan, dan pengembangan budaya. Menjajaki peluang kerja sama strategis yang memperkuat peran Bali sebagai Jembatan Persahabatan Internasional dan memperkuat hubungan bilateral jangka panjang.
Dari paparan para pembicara terungkap pentingnya relationship dan kompetensi SDM (Sumber Daya Manusia). Di Bali ini banyak hal yang harus dikerjasamakan, baik dari sisi pendidikan maupun kesehatan. Mengingat pertumbuhan pariwisata ataupun situasi global saat ini harus didasarkan pada kemampuan beradaptasi.

“SDM tidak hanya diperlukan untuk daya kompetisi, tapi juga tentang bagaimana memahami kultur kita ‘in the long run’. Sehingga dengan akar kultur yang kuat di Bali, ini menjadi dasar untuk kita meng-improve diri ke dalam untuk persiapan kompetisi. Itu yang kita coba dorong dari aktivitas ini,” jelas Agus Maha Usadha.
“Hari ini kita ada di KEK Sanur, ada ikon yang notabene adalah partisipasi dari Australian investment. Tentu adanya trust seperti ini untuk pelayanan rumah sakit atau kesehatan terhadap tamu pada saat mereka berwisata, itu akan match,” tambahnya.
Ini merupakan kesempatan bagi tenaga kerja di bidang kesehatan untuk meng-improve diri dengan adanya standar internasional yang berbeda. SDM perlu terus di-improve untuk dua sisi: ke dalam untuk menjaga budaya (termasuk pertanian yang menjadi akar konektivitas pariwisata). Dan ke luar untuk menjadi daya saing. Karena kalau tidak, hanya akan menjadi penonton.
Pemaparan dari Prof. Wyasa Putra dan Bagus Sudibya juga menekankan tentang ‘how we improve our’ SDM, tidak hanya bicara pariwisata tapi juga bagaimana budaya itu punya korelasi terhadap ekonomi.
Hal senada disampaikan Intan dari Mediterranean yang mengatakan dengan kolaborasi ini bagaimana bisa mempertahankan angka kedatangan turis Australia ke Bali. Yang membuat mereka datang dan tertarik ke Bali itu adalah budaya.
“Sehingga challenge kita adalah bagaimana tetap mengembangkan budaya Bali, serta melatih dan memberikan awareness kepada SDM kita bahwa budaya adalah fondasi yang tidak bisa ditinggalkan dan harus dilestarikan,” ujarnya.
Dijelaskan budaya inilah yang menjadi daya tarik mutlak bagi para turis, khususnya dari Australia.
Memang pelestarian budaya pasti perlu dukungan ekonomi. Upacara keagamaan, upacara adat, dan kegiatan lainnya butuh dukungan faktor ekonomi, dan ekonomi ini didukung oleh pariwisata yang berkembang.
“Jadi ini adalah sebuah ekosistem: pariwisata berkembang, budaya dikembangkan, dan SDM dilatih sehingga menjadi ekosistem yang sustainable.
Selain budaya, infrastruktur juga sedang dikembangkan,” ujarnya. Keberadaan pariwisata yang berkembang akan mendukung ekonomi masyarakat Bali sehingga mereka tetap bisa berbudaya dengan ekonomi yang stabil.
Terkait tantangan ke depan, terberat untuk upgrade SDM berawal dari mindset diikuti dengan pelatihan, kurikulum, tenaga latih, para guru, dan ekosistem yang mendukung anak-anak untuk bisa lebih confident menunjukkan performanya di dunia hospitality. Selanjutnya adalah kemampuan berbahasa Inggris.

Di akhir acara Great Sharing Session, David dan rombongan sempat meninjau keberadaan Bali International Hospital KEK Sanur. Sebelumnya, Senin (27/7), David bersama rombongan didampingi Ketua NCPI Bali Agus Maha Usadha, Ketut Ngastawa dan Tim juga melakukan persembahyangan ke Pura Besakih.
David Hurley bersama perwakilan Australia didampingi Ketua NCPI Bali juga bertemu Bupati Badung Adi Arnawa, Rabu (29/7). Pada kesempatan tersebut David menyampaikan Bali tetap menjadi destinasi wisata favorit masyarakat Australia. Oleh karena itu, Pemerintah Australia terus mengingatkan warganya agar menghormati budaya dan aturan yang berlaku selama berada di Pulau Dewata. (ist)


Leave a Reply