HR Convention 2026 Siap Digelar, Angkat Tema “Humanizing the Digital AI and Embracing the Entrepreneurship Mindset”

(Baliekbis.com), HR Convention 2026 yang mengangkat tema “Humanizing the Digital AI and Embracing the Entrepreneurship Mindset” siap digelar pada 15 Agustus 2026 di Renaissance Uluwatu, Badung.

Ketua HRA (Human Resources Association) Bali, Vira Risnayani, dalam jumpa pers, Minggu (26/4) di Padma Hotel Legian menjelaskan bahwa HRA Bali telah berdiri sejak tahun 2012 dan beranggotakan para profesional HR (Human Resources) dan Human Capital di Pulau Dewata.

“Anggota kami sekitar 300 profesional HR leader se-Bali dan akan melaksanakan HR Convention 2026 pada 15 Agustus mendatang. Acara ini telah digelar selama sembilan tahun berturut-turut dengan fokus pada pengembangan Human Resources dan Human Capital di Bali sebagai potensi utama untuk mendukung pariwisata Indonesia,” ungkap Vira.

Ia menjelaskan bahwa isu AI (Artificial Intelligence) dan entrepreneurship menjadi hal penting dalam acara tersebut. “AI merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari dan menjadi bagian dari keterampilan yang harus dikuasai sebelum AI menguasai kita,” jelasnya.

Sementara itu, entrepreneurship mindset atau pola pikir kewirausahaan merupakan pola pikir utama yang dapat mendorong perkembangan di era 4.0 yang terus berubah.

Dalam acara tahunan ini, Vira menyebutkan akan menghadirkan narasumber profesional di bidangnya, termasuk profesional ESQ dari Malaysia, profesional entrepreneurship mindset dari Jakarta, serta Rina Sharif, Jaki Musri, dan pembicara lainnya.

Terkait isu AI, industri hospitality bersama Human Capital harus siap menghadapinya. AI kini menjadi bagian dari integrasi dalam kehidupan sehari-hari, sehingga HR perlu mampu memanfaatkannya sebagai bagian dari kesuksesan kerja.

Selain itu, isu lingkungan dalam pariwisata juga menjadi perhatian. Diharapkan Human Resources Bali memiliki rasa kepemilikan terhadap tanah Bali sehingga dapat mendorong tindakan dan pengembangan pariwisata yang sesuai dengan tantangan yang dihadapi saat ini.

Menanggapi anggapan bahwa AI mengancam tenaga kerja, Vira menilai hal tersebut tidak dapat dipastikan. Justru AI merupakan sarana yang dapat meningkatkan kemampuan manusia, termasuk pekerja di sektor pariwisata.

“Bagaimana kita bisa melihat AI sebagai bagian dari keseharian yang mempercepat cara bekerja. Karena dalam pariwisata, human touch, senyum, dan rasa tetap dicari oleh wisatawan mancanegara maupun domestik, dan hal tersebut tidak dapat digantikan oleh AI,” pungkasnya. (ist)