Dua Jalur Pertumbuhan Pertamina: Menjaga Energi Hari Ini, Menyiapkan Energi Esok
(Baliekbis.com), Gejolak geopolitik global membuat urusan energi tidak lagi sebatas soal memenuhi kebutuhan hari ini. Ketika konflik dapat mengganggu rantai pasok dan mendorong harga komoditas energi, ketahanan energi menjadi bagian penting dari strategi ekonomi sebuah negara. Di tengah tantangan tersebut, PT Pertamina (Persero) menjalankan strategi dual growth, yakni pertumbuhan ganda untuk memastikan kebutuhan energi nasional tetap terpenuhi sekaligus menyiapkan sumber pertumbuhan baru untuk masa depan. Strategi ini berjalan melalui dua jalur. Pertama, memaksimalkan bisnis eksisting atau legacy business, terutama dalam penyediaan energi berbasis minyak dan gas. Kedua, membangun bisnis rendah karbon melalui pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) serta berbagai teknologi rendah karbon.
“Bagi Pertamina, transisi energi bukan hanya mengenai bagaimana menurunkan emisi, tetapi juga memastikan bahwa Indonesia memiliki sumber energi yang semakin beragam, berkelanjutan, dan berasal dari potensi dalam negeri,” kata Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron di Jakarta, Jumat (4/9/2026). Pendekatan dual growth menjadi penting karena transisi energi tidak bisa dilakukan dengan mengabaikan kebutuhan energi saat ini. Di tengah permintaan energi yang terus tumbuh dan ketidakpastian geopolitik, Pertamina tetap perlu memastikan energi tersedia secara aman, andal, berkualitas, dan berkesinambungan, sembari menyiapkan sumber energi baru untuk kebutuhan jangka panjang. Pada sisi pertama, Pertamina terus memperkuat bisnis legacy sebagai fondasi ketahanan energi nasional. Penguatan produksi minyak dan gas menjadi salah satu upaya untuk menjaga ketersediaan pasokan energi dari dalam negeri.
Di sektor pengolahan, optimalisasi aset kilang juga diarahkan untuk memastikan kemampuan pengolahan dan pasokan energi tetap terjaga di tengah perubahan kebutuhan dan dinamika pasar. Namun, pertumbuhan Pertamina tidak berhenti di sana. Jalur kedua dalam strategi dual growth diarahkan untuk membangun sumber energi dan bisnis baru yang akan semakin penting di masa depan. Salah satu fokusnya adalah pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT), termasuk panas bumi dan energi surya, serta pengembangan bahan bakar nabati. Pertamina juga mengembangkan berbagai teknologi rendah karbon yang dapat mendukung proses transisi energi, termasuk carbon capture, utilization and storage (CCUS) dan hidrogen rendah karbon.
Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya Pertamina memperluas sumber energi sekaligus memanfaatkan potensi domestik. Melalui Pertamina Geothermal Energy (PGE), misalnya, Pertamina mengelola kapasitas terpasang panas bumi sebesar 1.932 megawatt (MW), terdiri dari 727 MW yang dikelola langsung dan 1.205 MW melalui skema Kontrak Operasi Bersama. Kapasitas tersebut setara sekitar 70% dari total kapasitas panas bumi terpasang nasional. Dengan demikian, dual growth menempatkan bisnis legacy dan bisnis rendah karbon bukan sebagai dua pilihan yang saling menggantikan, melainkan dua jalur yang berjalan bersamaan. Bisnis eksisting menjadi fondasi untuk menjaga ketahanan energi saat ini, sementara bisnis rendah karbon dipersiapkan sebagai sumber energi dan pertumbuhan baru di masa depan.
Strategi Pertamina Hadapi Transisi Energi Strategi dual growth Pertamina mendapat penilaian positif dari ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal. Menurut Faisal, pendekatan tersebut tepat karena Pertamina perlu menjaga bisnis yang selama ini menjadi fondasi perusahaan, sekaligus menyiapkan sumber pertumbuhan baru seiring perubahan lanskap energi. Faisal menjelaskan, bisnis minyak dan gas masih perlu dipertahankan karena sektor tersebut tetap memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan energi domestik. Namun, pada saat yang sama, Pertamina juga perlu mengantisipasi tantangan jangka panjang karena minyak dan gas merupakan sumber energi tidak terbarukan dengan cadangan yang semakin terbatas. Karena itu, pengembangan EBT menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia. “Harus mencari sumber lain di luar migas untuk yang kaitannya dengan energi, untuk mendorong ketahanan energi dan memenuhi kebutuhan domestik yang semakin terus mengalami peningkatan sejalan dengan upaya juga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi,” ujar Faisal.
Faisal melihat peluang tersebut semakin besar karena Indonesia memiliki potensi EBT yang beragam, mulai dari energi surya, hidro, angin hingga panas bumi. Pengembangan sumber-sumber tersebut, menurutnya, dapat menjadi arah pertumbuhan Pertamina ke depan. Meski begitu, Faisal menilai pergeseran dari migas menuju EBT perlu dilakukan secara bertahap. Bisnis migas dapat tetap menjadi penopang selama Pertamina membangun ekosistem energi baru. Ia menyebut pendekatan tersebut sebagai safe transition. Dengan mempertahankan bisnis migas sembari meningkatkan pengembangan EBT, Pertamina dapat menghindari perubahan yang terlalu mendadak terhadap kinerja perusahaan. Menjaga Energi Hari Ini, Membangun Energi Esok Pandangan tersebut sejalan dengan kebutuhan Indonesia yang masih menghadapi tantangan ketahanan energi sekaligus harus mengejar target pengurangan emisi. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan pengembangan EBT merupakan bagian dari program prioritas pemerintah untuk mendorong swasembada energi. Menurutnya, dinamika geopolitik global dapat mengganggu rantai pasok energi dan berdampak pada kenaikan harga energi, inflasi, biaya produksi, hingga beban subsidi dan kompensasi pemerintah.
“Energi baru terbarukan merupakan bagian dari program prioritas pemerintah yang tertuang dalam Asta Cita, yaitu memantapkan sistem pertahanan dan keamanan negara, serta mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada energi,” katanya saat membuka IndoEBTKE ConEx 2026, Rabu (2/9). Meski demikian, perjalanan menuju bauran energi yang lebih besar masih panjang. Kementerian ESDM mencatat bauran EBT nasional pada semester I 2026 baru mencapai 17,3%, sementara pemerintah menargetkan angka tersebut meningkat menjadi 30% pada 2034. Kondisi ini menunjukkan bahwa dual growth bukan sekadar strategi bisnis Pertamina, tetapi juga respons terhadap dua kebutuhan yang berjalan bersamaan. Bisnis legacy menjaga fondasi ketahanan energi nasional hari ini, sementara pengembangan EBT membuka jalan bagi sumber energi dan pertumbuhan Pertamina di masa depan. “Perjalanan tersebut diarahkan untuk memastikan kebutuhan energi hari ini tetap terpenuhi sembari membangun fondasi energi masa depan menuju Net Zero Emission 2060,” kata Baron. (ist)


Leave a Reply