Dialog Sastra #62 Bincangkan Sastra Bali Modern dan Rancage

(Baliekbis.com), Program Dialog Sastra #62, yang diselenggarakan Bentara Budaya Bali (BBB), kembali mengetengahkan perbincangan seputar sastra Bali modern dan Rancage. Acara berlangsung pada Jumat (30/11), menghadirkan pembicara pengamat bahasa dan sastra Bali yang juga peneliti di Balai Bahasa Bali, I Made Sudiana, M.Hum. serta I Gde Agus Darma Putra, penulis buku Bulan Sisi Kauh yang meraih Hadiah Sastra Rancage 2018.

Hadiah Sastra Rancage merupakan penghargaan yang diberikan kepada orang-orang yang dianggap telah berjasa bagi pengembangan bahasa dan sastra daerah. Diberikan pertama kali pada tahun 1989 kepada pengarang Sunda Yus Rusyana, atas inisiatif sastrawan Ajip Rosidi. Hingga tahun 1993, penghargaan ini hanya mencakup tulisan-tulisan berbahasa Sunda, namun kemudian diberikan pula untuk karya-karya sastra berbahasa Jawa (sejak 1994), sastra Bali (sejak 1998) dan sastra Lampung (sejak 2008).

Diskusi yang dipandu oleh Luh Yesi Candrika, S.S., M.Hum. ini bukan saja mengulas perihal peranan Hadiah Sastra Rancage dalam menghidupkan dan merawat sastra Bali modern, tetapi juga tinjauan  penggunaan Bahasa Bali dalam sastra Bali modern.

Pada kesempatan tersebut, hadir pula sejumlah sastrawan Bali, antara lain Anak Agung Mas Ruscitadewi, Mas Triadnyani, Gede Gita Purnama (Peraih Rancage 2016), Carma Citrawati (Peraih Rancage 2017), Putu Supartika (Peraih Rancage 2017) dan lain-lain. Termasuk Kepala Balai Bahasa Bali, Toha Machsum, S.Ag., M.Ag.

Dalam paparannya, I Made Sudiana, M.Hum. mengulas mengenai kisah proses penciptaan sebuah Sastra Bali Modern berupa sebuah cerpen berjudul “Tutur Inanang” karya Djelantik Santha. Cerpen tersebut tidak saja berisi pesan yang berkaitan dengan perilaku bunuh diri yang bertentangan dengan ajaran agama, tetapi juga pesan penting terkait penggunaan kaidah bahasa Bali.

Menurut I Made Sudiana, Djlantik Santha pernah mengungkapkan kegelisahannya melihat kenyataan penggunaan sufiks (akhiran) -in, -an, dan -ang oleh penutur bahasa Bali dewasa ini. Beliau juga mengamati bahwa penutur bahasa Bali sering keliru menuliskan akhiran tersebut. “Struktur kalimat dan anggah-ungguhing basa Bali yang baik dan benar sejatinya menjadi pondasi kekuatan penting dalam karya Sastra Bali Modern,” lanjut I Made Sudiana.

Sementara Agus Darma Putra, lebih dikenal dengan nama pena Nirguna, berbagi seputar proses kreatif penulisan buku  kumpulan prosa lirisnya berjudul Bulan Sisi Kauh. Ia mengungkapkan bahwa inspirasi untuk berkarya bisa didapatkan dari mana saja, baik dari dalam diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Tidak terkecuali hal-hal yang sederhana sekalipun, semisal tembok, lantai, bulan dan lain-lain.

“Saya suka mempelajari hal-hal yang kuno, sesuatu yang kekunoan. Tapi bukan berarti dalam sastra kuno tidak ada yang modern. Sesuatu yang kuno harus dibawa ke kekinian. Contohkan saja, betapa purbanya kata “matahari” atau “bulan”. Namun begitu itu dibawa ke bahasa kekinian, bisa menjadi sangat indah” tutur alumni Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar ini.

Sebagaimana diakui Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt., melalui sejumlah tulisannya, kehadiran Hadiah Sastra Rancage memang terbukti merupakan salah satu pilar penting penunjang kehidupan sastra berbahasa Ibu di Indonesia, termasuk bahasa Bali.

Hal selaras turut disampaikan pula I Made Sudiana, M.Hum., bahwa adanya proses kreatif dan kesempatan meraih penghargaan tentu memacu lahirnya para pengarang. Namun seturut itu, lahir pertanyaan: apakah pengarang melahirkan karya semata karena penghargaan? Terlepas dari perdebatan tersebut, telah terbukti bahwa setiap tahunnya karya-karya sastra Bali modern yang lahir terus meningkat, baik secara kualitas maupun kuantitas. Selain itu, mengemuka pula bahasan perihal sastra Bali di era modern kini dan bagaimana kehadirannya dapat dipahami secara menyeluruh oleh generasi muda saat ini. “Dalam hal ini, sikap positif berbahasa Bali penutur bahasa Bali perlu ditingkatkan. Dan penulis karya Sastra Bali Modern mengemban misi yang sangat vital dalam pembinaan bahasa Bali,” tutup I Made Sudiana. (ist)