Dari Desa Tinggarsari Menuju Dunia Akademik, Nengah Renaya Percaya Pendidikan Mampu Mengubah Nasib

(Baliekbis.com), Nama Dr. Drs. Nengah Renaya SH., SPd., MKn., MHum,. selama ini dikenal sebagai notaris, Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT), Pejabat Lelang Kelas II, akademisi, sekaligus Ketua Dewan Pakar DPD Partai Hanura Bali. Namun, jauh sebelum mencapai berbagai posisi tersebut, ia hanyalah seorang anak petani dari Desa Tinggarsari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, yang meyakini pendidikan sebagai satu-satunya jalan untuk mengubah masa depan.

Keyakinan itulah yang membuat Renaya berani meninggalkan kampung halamannya setelah lulus SMA. Ia hidup mandiri di Mataram, Nusa Tenggara Barat, sambil menempuh pendidikan ekonomi dan bekerja di sebuah kantor notaris. Dari tempat itulah ketertarikannya terhadap dunia hukum mulai tumbuh.

“Sejak tamat SMA saya sudah hidup sendiri. Saya sekolah sambil bekerja di kantor notaris. Dari sana saya banyak belajar tentang dunia hukum,” kenangnya, Minggu (5/7/2026).

Perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Berasal dari keluarga petani membuatnya terbiasa hidup sederhana. Bahkan saat masih kecil, ia membantu orang tua berjualan jajanan tradisional seperti laklak, pisang rai, dan tipat. Pengalaman itu justru membentuk karakter pantang menyerah yang terus dipegang hingga sekarang.

“Orang tua saya petani. Saya merasakan bagaimana hidup sederhana. Karena itu saya selalu percaya pendidikan adalah jalan terbaik untuk mengubah kehidupan,” ujar kakak kandung Dr. Ketut Sumedana, mantan Kapuspenkum Kejaksaan Agung yang kini menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan.

Semangat belajar itu tidak pernah berhenti. Setelah menyelesaikan pendidikan ekonomi, Renaya melanjutkan studi di bidang hukum, pendidikan, kenotariatan, hingga meraih gelar doktor. Kini ia masih menempuh program doktor di bidang Linguistik Bahasa Inggris di Universitas Udayana.

Baginya, gelar akademik bukan sekadar simbol, melainkan bekal agar seseorang mampu memberikan manfaat lebih besar kepada masyarakat.

“Saya percaya hanya ilmu pengetahuan yang membuka hati, membuka pikiran, dan mencerdaskan jiwa. Karena itu saya terus belajar,” katanya.

Kecintaannya pada dunia pendidikan kemudian membawanya menjadi dosen di berbagai perguruan tinggi. Ia mengajar di Program Magister Kenotariatan Universitas Udayana, Universitas Warmadewa, Program Magister Hukum, hingga Program Sarjana Hukum. Selain mengajar, ia juga aktif menjadi pembimbing, penguji, moderator seminar, serta pembicara dalam berbagai forum akademik nasional maupun internasional, termasuk di sejumlah negara ASEAN.

Kesibukan akademik tersebut berjalan beriringan dengan profesinya sebagai notaris dan PPAT. Menurut Renaya, profesi hukum dan dunia pendidikan saling melengkapi. Pengalaman praktik membuat materi kuliah lebih aplikatif, sementara aktivitas akademik mendorongnya terus memperbarui pengetahuan.

Meski telah memiliki profesi mapan, Renaya mengaku masih memiliki kegelisahan. Ia merasa ilmu yang dimiliki harus memberi manfaat lebih luas. Pemikiran itulah yang kemudian mendorongnya aktif dalam organisasi kemasyarakatan hingga akhirnya bergabung dengan Partai Hanura pada 2009.

“Saya berpikir, mengapa saya tidak berbuat untuk orang banyak. Kalau hanya memikirkan diri sendiri, manfaatnya terbatas. Tetapi ketika kita memikirkan masyarakat, di situlah pengabdian memiliki arti,” ungkapnya.

Di luar berbagai aktivitas tersebut, Renaya tetap menjaga ikatan dengan kampung halamannya. Hampir setiap pekan ia pulang ke Buleleng untuk mengembangkan yayasan yang bergerak di bidang pendidikan, seni, dan pelestarian budaya Bali. Ia juga tengah membangun galeri yang memuat karya seni serta ruang edukasi mengenai sejarah Weda sebagai bentuk kontribusinya terhadap pelestarian budaya.

Renaya juga dikenal gemar menulis puisi. Baginya, sastra menjadi ruang untuk menjaga kepekaan batin di tengah rutinitas sebagai akademisi dan praktisi hukum. Namun untuk sementara, aktivitas menulis dikurangi agar dapat fokus menyelesaikan studi doktoralnya.

Di balik perjalanan panjang itu, Renaya menilai keberhasilan tidak ditentukan oleh latar belakang keluarga, melainkan oleh kemauan untuk terus belajar dan bekerja keras. Filosofi itulah yang terus ia pegang sejak meninggalkan Desa Tinggarsari puluhan tahun silam hingga kini dipercaya mengemban berbagai tanggung jawab di bidang hukum, pendidikan, dan organisasi.

“Saya selalu percaya, ilmu harus membawa manfaat. Kalau ilmu hanya berhenti pada diri sendiri, nilainya menjadi kecil. Tetapi kalau bisa dipakai membantu orang lain, di situlah pendidikan menemukan maknanya,” tutupnya.