Prof. Dasi Motivasi Para Doktor Bisa Raih Profesor

(Baliekbis.com), Kebutuhan dosen bergelar guru besar (profesor) di Indonesia sekitar 22 ribu, namun profesor yang ada saat ini hanya 5. 389. “Ini artinya masih terjadi kekurangan sekitar 17 ribuan. Sedangkan di lingkungan Kopertis Wilayah XIII yang meliputi  Bali, NTB, NTT baru memiliki 24 profesor dari 166 Perguruan Tinggi Swasta (PTS),” ungkap Ketua Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah XIII Prof. Dr. I Negah Dasi Astawa, M.Si., Rabu (7/6/2017).

Terkit kekurangan tersebut, pihaknya telah melakukan serangkaian upaya untuk memberikan kontribusi atas kekurangan guru besar tersebut. Belum lama ini, Dasi telah mengundang 368 dosen bergelar doktor dari PTS di seluruh wilayah XIII untuk diberikan pengarahan, bimbingan teknis serta motivasi agar segera melangkah menuju guru besar. Dasi mengajak seluruh doktor tersebut jangan ngekoh atau malas melanjutkan kompetensi yang tinggal selangkah lagi, karena sebagian besar sudah lektor dan lektor kepala. “Waktu mereka S1 menulis skripsi 60-100 halaman, S2 100-200, S3 sampai 300 halaman bisa.  Sekarang menuju guru besar, hanya membuat karya ilmiah hasil penelitian 20 halaman, waktunya enam bulan masa gak bisa. Intinya kuatkan niat jangan ngekoh,” kata Dasi.

Dasi memaparkan, faktor sulitnya menulis di jurnal internasional bereputasi tinggi yang terindeks oleh Web of Science, Scopus, Microsoft Academic Search atau lainnya sesuai pertimbangan Ditjen Dikti, masih menjadi alasan klasik para doktor enggan naik ke guru besar. “Itu hanya soal mencoba. Contohnya, teman saya punya 200 tulisan, dia terus mencoba baru 20 yang berhasil di jurnal terindeks scopus, sisanya dia coba di jurnal terindeks lainnya,” bebernya.

Lebih lanjut, Dasi mengatakan, dosen yang mengantongi gelar profesor, selain menguntungkan dirinya sendiri, juga meningkatkan kualitas lembaga di tempatnya mengabdi. “Mereka nanti mendapat satu kali serdos dan dua kali tunjangan kehormatan, jadi secara ekonomi sudah mantap. Begitupun di lembaganya, karena kualitas lembaga bisa diukur dari kualitas sumber daya manusianya,” tandas pria yang gemar berolahraga ini. Sebelumnnya, kekurangan guru besar itu diungkapkan Dirjen Sumber Daya IPTEK Dikti kemenristekdikti Ali Guhfron Mukti di Jakarta. Ia mengaku pemerintah terus mendorong lahirnya profesor baru, salah satunya dengan merubah kebijakan. “Pemerintah mengubah sekema manual ke on-line sehingga pengajuan guru besar yang dulunya dua sampai enam tahun menjadi dua bulan,” pungkasnya. (ist/bud)