Nyoman Merta Raih Doktor ‘Subak’ di UHN IGB Sugriwa Denpasar

(Baliekbis.com), Ir. Nyoman Merta, M.Ikom. berhasil meraih gelar doktor dengan predikat “Pujian” di Program Studi S3 Komunikasi UHN IGB Sugriwa, Rabu (10/6), dalam ujian terbuka di kampus setempat.

Merta yang merupakan angkatan tahun 2023 ini disebut sebagai Doktor “Subak” sesuai dengan disertasinya yang mengangkat masalah subak. Ia menyandang gelar doktor ke-184 Pascasarjana UHN Sugriwa dengan disertasinya berjudul “Komunikasi Sosial dalam Dinamika Budaya Subak untuk Pemertahanan Pura Ulun Suwi Subak Tegal di Perumahan Bumi Dalung Permai Badung.”

Usai dinyatakan lulus pada sidang terbuka, Merta menerima sertifikat kelulusan yang diserahkan oleh Ketua Dewan Penguji yang juga Rektor UHN Sugriwa, Prof. IGN Sudiana.

Panitia Penguji Ujian Tertutup Disertasi Nyoman Merta yakni Promotor Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si. dan Kopromotor Prof. Dr. Drs. I Wayan Wastawa, M.A.

Sedangkan Tim Penguji terdiri atas Prof. Dr. Dra. Relin D.E., M.Ag. dengan anggota Prof. Dr. I Nyoman Alit Putrawan, S.Ag., M.Fil.H., Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, M.S., Dr. Ni Gusti Ayu Agung Nerawati, S.Ag., M.Si., Dr. I Gst. Ayu Ratna Pramesti Dasih, S.Sos., M.Si., Dr. I Gede Suwantana, S.Ag., M.Ag., dan Dr. I Made Arsa Wiguna, S.ST.Par., M.Pd.H.

Prof. Sudiana dalam sambutannya mengatakan penelitian pura subak ini sangat penting mengingat perkembangan yang terjadi di Bali.

“Kalau subak terus tergerus dan hilang maka budaya Bali yang agraris akan menjadi budaya industri. Nah, kalau sudah industri bagaimana kelanjutan budaya Bali,” ungkap Prof. Sudiana.

Penelitian ini memberi masukan bagi penguasa bagaimana strategi ke depan yang perlu dilakukan untuk menyelamatkan subak yang menjadi budaya Bali.

“Salah satu cara yang bisa dilakukan dengan menjalin komunikasi dengan pengempon dan yang terkait lainnya.” Prof. Sudiana mengajak agar menjaga subak sehingga lestari.

Nyoman Merta yang dalam kesehariannya aktif sebagai pengurus di sejumlah lembaga keumatan serta merupakan jurnalis senior ini dalam disertasinya mengulas subak yang merupakan sistem sosioagraris, religius, dan kultural yang diwujudkan melalui Pura Ulun Suwi sebagai pusat pemujaan Dewi Sri. Namun, modernisasi dan alih fungsi lahan sawah menjadi permukiman dan infrastruktur telah mengancam eksistensi subak dan pura subak.

Salah satu kasus terjadi di Subak Tegal, Pasedahan Yeh Bolo, Kabupaten Badung. Sebelum beralih fungsi, luas sawah di Subak Tegal mencapai 209 hektare, namun pada tahun 2025 hanya tersisa 58 hektare, sebagian besar menjadi kawasan Perumahan Bumi Dalung Permai. Meski demikian, Pura Ulun Suwi di Subak Tegal tetap eksis bahkan lebih megah berkat partisipasi masyarakat nonpetani.

Penelitian yang dilakukan mulai tanggal 11 April sampai dengan 11 September 2025 ini merumuskan tiga masalah:

(1) Mengapa komunikasi sosial sangat urgen dalam heterogenitas penyungsung Pura Ulun Suwi Subak Tegal?

(2) Bagaimana pola komunikasi sosial masyarakat dalam dinamika budaya Subak untuk pemertahanan Pura Ulun Suwi Subak Tegal?

(3) Apa implikasi komunikasi sosial dalam dinamika budaya Subak untuk pemertahanan Pura Ulun Suwi Subak Tegal di Perumahan Bumi Dalung Permai, Badung?

Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiokultural dengan metode kualitatif melalui wawancara, observasi partisipatif, dan studi dokumen.

Hasil penelitian ini dipilah menjadi tiga bagian.

Pertama, urgensi komunikasi sosial dalam dinamika budaya subak untuk pemertahanan Pura Ulun Suwi di lingkungan heterogen penyungsung Pura Ulun Suwi Subak Tegal dianalisis dari beberapa indikator, yaitu: (i) menjaga kerukunan dalam keberagaman; (ii) koordinasi kegiatan sosial dan keagamaan; (iii) pelestarian nilai tradisi di tengah modernisasi; (iv) penguatan solidaritas dan stabilitas sosial; serta (v) pencegahan konflik dan kesalahpahaman.

Kedua, hasil analisis teori akomodasi komunikasi terhadap pola komunikasi sosial masyarakat dalam dinamika budaya subak menunjukkan bahwa antara kedua belah pihak, yakni warga Subak Tegal dan nonpetani di Perumahan Bumi Dalung Permai, terjadi konvergensi yang saling mengakomodasi gaya komunikasi masing-masing untuk meminimalisasi dampak perbedaan.

Akomodasi juga terjadi dalam hal integrasi nilai-nilai tradisional dengan realitas modern, seperti melibatkan warga nonpetani dalam upacara dan kegiatan di pura subak.

Akomodasi komunikasi ini dilakukan karena adanya kesamaan tujuan (goal), yakni pemertahanan Pura Ulun Suwi. Konvergensi dan akomodasi ini telah mampu meminimalisasi dampak negatif dari integrasi sosial antara warga subak (pengempon) dengan warga nonpetani yang ikut sebagai penyungsung Pura Ulun Suwi.

Ketiga, komunikasi sosial dalam dinamika budaya subak untuk pemertahanan Pura Ulun Suwi berimplikasi terhadap: (i) solidaritas sosial; (ii) pemertahanan budaya subak; (iii) penguatan keyakinan terhadap Dewi Sri; (iv) ekonomi umat Hindu; dan (v) budaya serta pendidikan keagamaan Hindu. (ist)