Muhammad Hanif dan TERANGIN: Dari Pesantren di Nganjuk ke Inovasi Energi Terbarukan untuk Petani Indonesia

(Baliekbis.com),Di tengah isu ketahanan pangan yang semakin kompleks, seorang mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Muhammad Hanif datang membawa ‘angin’ perubahan. Melalui inovasinya, TERANGIN, Hanif menghadirkan pendekatan baru untuk membantu petani mengendalikan hama secara lebih ramah lingkungan dan hemat biaya.

TERANGIN yang dikembangkan Hanif merupakan alat perangkap pengendali hama tanaman berbasis kincir angin dan panel surya sebagai sumber listrik utama untuk menyalakan lampu-lampu perangkap. Inovasi ini berfokus pada keberlanjutan lingkungan, energi bersih, serta ketahanan pangan, dengan mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida.

“TERANGIN saya rancang untuk memberdayakan komunitas pertanian melalui pemanfaatan energi terbarukan, sehingga produktivitas meningkat dan praktik pertanian berkelanjutan bisa diwujudkan,” ujar Hanif.

Perjalanan Hanif mengembangkan TERANGIN sesungguhnya sudah dimulai jauh sebelum ia mengenal ruang inkubasi startup atau riset kampus. Saat masih menjadi Santri di salah satu Pondok Pesantren di Nganjuk Jawa Timur, Hanif mendapat kesempatan mengikuti program Kemendikbud yang memberinya modal untuk membuat 18 kincir angin untuk pembangkit listrik tenaga angin.

Dari keseharian sebagai seorang santri yang berkutat dengan baling-baling kayu dan dinamo sederhana, Hanif bertransformasi menjadi pemuda yang memahami potensi energi terbarukan untuk masyarakat desa. Kegigihannya membuka jalan untuk mengikuti pertukaran pelajar ke University of Arizona, Amerika Serikat selama dua minggu, pengalaman yang menguatkan visinya tentang masa depan energi bersih.

Sekembalinya ke Indonesia, Hanif langsung mendapat beasiswa untuk berkuliah di ITS, tempat dimana ia kemudian bertemu para dosen pembimbing dan tim yang akhirnya mengembangkan TERANGIN sebagai sebuah startup yang lebih terstruktur dan siap diuji di lapangan.

TERANGIN bukan hanya konsep atau prototipe laboratorium. Inovasi ini sudah digunakan oleh petani bawang merah di Nganjuk untuk mengendalikan hama secara lebih efektif dan berkelanjutan. Hasil uji coba menunjukkan dampak yang signifikan, Penggunaan pestisida berkurang hingga 40 persen dan produktivitas tanaman meningkat sekitar 20 persen.

Selain ramah lingkungan, sistem mikrogrid tenaga angin yang digunakan benar-benar membantu petani mengurangi ketergantungan terhadap biaya energi maupun kimia pertanian.

Keunggulan TERANGIN terletak pada desainnya yang efisien, otomatis, mudah dirawat, dan aman bagi petani. Hanif dan timnya merancang alat ini agar dapat dioperasikan di daerah pedesaan tanpa memerlukan keterampilan teknis tinggi.

Dengan memadukan energi angin dan matahari, TERANGIN menjadi inovasi yang tepat guna, sekaligus sejalan dengan agenda transisi energi bersih di Indonesia.

Hanif percaya bahwa keberhasilan inovasi tidak selalu datang dari teknologi yang rumit, melainkan dari kemampuan memahami kebutuhan masyarakat dan mengubahnya menjadi solusi nyata.

Inovasi yang dikembangkan Hanif berhasil membawanya menembus TOP 3 Pertamuda Seed and Scale 2025 dari kategori Energy Future, sebuah kompetisi ide bisnis mahasiswa tingkat nasional yang digelar oleh PT Pertamina (Persero). (ist)