Kurikulum Berbasis Kearifan Lokal Upaya Mencegah Lunturnya Nilai Budaya di Tengah Modernisasi

(Baliekbis.com),Pengembangan kurikulum berbasis kearifan lokal penting terus dilakukan sebagai upaya untuk mencegah lunturnya nilai budaya di tengah gencarnya modernisasi. Kurikulum ini merupakan upaya menanamkan nilai dan identitas budaya langsung dalam proses pendidikan formal untuk memperkuat karakter siswa lewat nilai-nilai khas seperti tata krama dan sopan santun, gotong royong dan menumbuhkan solidaritas sosial. Jadi tujuannya menanamkan filosofi hidup dan memperkuat identitas budaya siswa sejak dini.

Dalam audiensi Kader Pelestari Budaya Kota Denpasar di Grya Sebasari Renon Denpasar yang dihadiri Anggota DPD RI Perwakilan Bali Dr. I.B. Rai Dharmawijaya Mantra, peserta menyampaikan
awalnya menjauh dari budaya dan lebih banyak ke teknologi.

Namun setelah ikut kemah budaya baru sadar banyak budaya yang merupakan harga diri yang harus dijaga. Banyak dapat pelajaran, bukan hanya melestarikan budaya saja, tapi juga tahu arah kehidupan.

“Di Kader Pelestari Budaya banyak punya teman luar sekolah, tahu makna budaya dan bisa banyak belajar berorganisasi serta termotivasi untuk melestarikan budaya,” jelasnya.

Bali hidup dari pariwisata budaya. Pertahanan terkuat adalah budaya. Karena itu budaya ini harus dijaga dan dilestarikan. “Kalau sudah tahu apa itu budaya, maka akan membuat kita bangga,” ungkap Rai Mantra.

‘Kita ikut WHC (Word Heritage Council). Jadi bisa ikut pertukaran pemuda pelestari budaya. Keanggotaan ini bukan sekadar formalitas, melainkan perisai budaya. Bali tidak hanya menjual pemandangan, tapi menjual nilai sejarah yang terjaga,” tambah mantan Walikota Denpasar ini.

Kehadiran badan internasional WHC ini memberikan dampak yang signifikan bagi kelestarian alam dan ekonomi kreatif di Bali.

Diingatkan, Bali bukan sekadar latar belakang pemandangan, melainkan sebuah laboratorium hidup di mana budaya dan alam hidup berdampingan secara harmonis melalui filosofi Tri Hita Karana.

Ketua Pelestari Budaya Kota Denpasar Mangce menjelaskan Kemah Budaya akan mengangkat objek yang diduga cagar budaya di Kota Denpasar agar makin dikenal kalangan luas.

Ketut Surya selaku Ketua Panitia mengatakan Kemah Budaya yang akan dilaksanakan di Serangan pada awal Juli 2026 mendatang mengambil lokasi di Pura Susunan Wadon yang diduga objek cagar budaya. Peserta akan mempromosikan objek cagar budaya yang ada di Denpasar. Dikatakan
tahun 2020-2025 kemah budaya dilakukan online, namun tidak efektif.

Sebagai Kader Pelestari Budaya, mereka melihat sebuah tantangan besar, bagaimana menjaga kelangsungannya di tengah gencarnya modernisasi.

Tantangan ke depan cagar budaya harus relevan dengan gaya hidup masa kini, menjadikan kawasan sekitar cagar budaya sebagai ruang publik yang nyaman untuk berdiskusi atau berkarya, tanpa merusak struktur aslinya. Untuk itu perlu sinergi dari berbagai pihak.

Menyinggung subak sebagai Warisan Budaya Dunia, Rai Mantra menambahkan hal ini akan memperkuat eksistensi subak karena pemerintah pusat maupun daerah memiliki kewajiban untuk menjaga alih fungsi lahan. Kelestarian sistem irigasi tradisional tetap terjaga, yang secara langsung mendukung ketahanan pangan lokal.

Status Warisan Dunia ini juga akan menarik wisatawan yang lebih spesifik, mereka yang mencari nilai edukasi, sejarah, dan budaya, bukan sekadar hiburan. Mereka juga akan tinggal lebih lama.
Generasi muda Bali akan melihat pertanian dan tradisi bukan sebagai hal yang kuno, melainkan warisan bernilai tinggi yang diakui secara global. “Mempertahankan budaya bukan berarti anti modernisasi. Ini adalah upaya pembangunan berkelanjutan,” tegasnya. (ist)