Indeks Penjualan Ritel Bali 123,8: HBKN Dorong Optimisme di Tengah Ketidakpastian Global
(Baliekbis.com), Optimisme penjualan eceran di Provinsi Bali pada Maret 2026 terus menunjukkan pertumbuhan secara tahunan. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali yang mencapai 123,8, atau tumbuh 5,1% (yoy), dan tetap berada pada level optimistis (>100). Secara bulanan, IPR Bali juga meningkat sebesar 0,5% (mtm), didorong oleh momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Nyepi dan Idulfitri.
Rangkaian HBKN mendorong masyarakat meningkatkan konsumsi barang ritel, seperti bahan bakar kendaraan bermotor (BBM), pakaian, serta makanan dan minuman. Survei Penjualan Eceran (SPE) Bali merupakan survei bulanan terhadap 100 penjual eceran di Kota Denpasar dan sekitarnya, yang bertujuan memperoleh informasi dini mengenai arah pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi.
Berdasarkan komponen pembentuknya, enam subsektor IPR dengan pertumbuhan bulanan tertinggi meliputi kategori Barang Lainnya (farmasi, kosmetik, elpiji rumah tangga, dan bahan kimia rumah tangga) sebesar 2,4% (mtm); Bahan Bakar Kendaraan Bermotor sebesar 1,5% (mtm); Peralatan Informasi dan Komunikasi sebesar 1,5% (mtm); Sandang sebesar 1,2% (mtm); Barang Budaya dan Rekreasi (mainan anak, kertas, karton, alat tulis, alat olahraga, dan alat musik) sebesar 1,2% (mtm); serta Makanan, Minuman, dan Tembakau sebesar 0,8% (mtm).
Pertumbuhan konsumsi yang tetap terkendali tercermin dari inflasi tahunan Maret 2026 sebesar 2,81% (yoy), yang masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1% atau di kisaran 1,5% hingga 3,5%. Sementara itu, data Laporan Bank Umum Terintegrasi (LBUT) menunjukkan kredit tahunan pada Lapangan Usaha Perdagangan hingga Februari 2026 meningkat sebesar 1,46% (yoy).
Prospek positif penjualan ritel di Bali juga tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP). IEP Mei 2026 tercatat sebesar 174, lebih tinggi dibandingkan April 2026 sebesar 170. Untuk enam bulan ke depan, IEP Agustus 2026 sebesar 194, meningkat dari Juli 2026 sebesar 184. Kedua indikator tersebut berada di zona optimistis (IEP > 100).
Dalam menjaga stabilitas ekonomi domestik, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga kebijakan pada Maret 2026. Pemerintah juga melanjutkan kebijakan subsidi BBM guna mendukung pertumbuhan ekonomi. Selain itu, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bali terus mengimplementasikan operasi pasar murah untuk komoditas strategis.
Bank Indonesia Provinsi Bali bersama TPID di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota terus berupaya menjaga stabilitas harga, melindungi daya beli masyarakat, serta memastikan perekonomian Bali tetap tumbuh secara berkelanjutan.
Optimisme di Tengah Ketidakpastian Global
Optimisme penjualan eceran di Provinsi Bali pada Maret 2026 terus menunjukkan pertumbuhan secara tahunan. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali yang mencapai 123,8, atau tumbuh 5,1% (yoy), dan tetap berada pada level optimistis (>100). Secara bulanan, IPR Bali juga meningkat sebesar 0,5% (mtm), didorong oleh momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Nyepi dan Idulfitri.
Rangkaian HBKN mendorong masyarakat meningkatkan konsumsi barang ritel, seperti bahan bakar kendaraan bermotor (BBM), pakaian, serta makanan dan minuman. Survei Penjualan Eceran (SPE) Bali merupakan survei bulanan terhadap 100 penjual eceran di Kota Denpasar dan sekitarnya, yang bertujuan memperoleh informasi dini mengenai arah pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi.
Berdasarkan komponen pembentuknya, enam subsektor IPR dengan pertumbuhan bulanan tertinggi meliputi kategori Barang Lainnya (farmasi, kosmetik, elpiji rumah tangga, dan bahan kimia rumah tangga) sebesar 2,4% (mtm); Bahan Bakar Kendaraan Bermotor sebesar 1,5% (mtm); Peralatan Informasi dan Komunikasi sebesar 1,5% (mtm); Sandang sebesar 1,2% (mtm); Barang Budaya dan Rekreasi (mainan anak, kertas, karton, alat tulis, alat olahraga, dan alat musik) sebesar 1,2% (mtm); serta Makanan, Minuman, dan Tembakau sebesar 0,8% (mtm).
Pertumbuhan konsumsi yang tetap terkendali tercermin dari inflasi tahunan Maret 2026 sebesar 2,81% (yoy), yang masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1% atau di kisaran 1,5% hingga 3,5%. Sementara itu, data Laporan Bank Umum Terintegrasi (LBUT) menunjukkan kredit tahunan pada Lapangan Usaha Perdagangan hingga Februari 2026 meningkat sebesar 1,46% (yoy).
Prospek positif penjualan ritel di Bali juga tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP). IEP Mei 2026 tercatat sebesar 174, lebih tinggi dibandingkan April 2026 sebesar 170. Untuk enam bulan ke depan, IEP Agustus 2026 sebesar 194, meningkat dari Juli 2026 sebesar 184. Kedua indikator tersebut berada di zona optimistis (IEP > 100).
Dalam menjaga stabilitas ekonomi domestik, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga kebijakan pada Maret 2026. Pemerintah juga melanjutkan kebijakan subsidi BBM guna mendukung pertumbuhan ekonomi. Selain itu, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bali terus mengimplementasikan operasi pasar murah untuk komoditas strategis.
Bank Indonesia Provinsi Bali bersama TPID di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota terus berupaya menjaga stabilitas harga, melindungi daya beli masyarakat, serta memastikan perekonomian Bali tetap tumbuh secara berkelanjutan.

