I Gede Pawana Raih Doktor ‘Sinergi Desa Adat dan Desa Dinas dalam Penerapan Teknologi Informasi Berbasis Tri Hita Karana’

(Baliekbis.com), I Gede Pawana, S.Ag., M.Fil.H. yang sehari-hari sebagai Perbekel Duda Timur, Kecamatan Selat Karangasem berhasil meraih gelar doktor dengan predikat “Sangat Memuaskan” pada Program Studi S3 UHN IGB Sugriwa, Senin (15/6) dalam ujian terbuka di kampus setempat.

Pawana yang disebut-sebut multitalenta ini menyandang gelar doktor ke-184 Pascasarjana UHN Sugriwa dengan disertasinya berjudul ”Sinergi Desa Adat dan Desa Dinas dalam Penerapan Teknologi Informasi Berbasis Tri Hita Karana di Desa Duda Timur, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem’

Usai dinyatakan lulus pada sidang terbuka, Pawana langsung menerima sertifikat kelulusan yang diserahkan Rektor UHN Sugriwa, Prof. IGN Sudiana.

Bertindak sebagai Promotor Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si. dan Ko-Promotor Prof. Dr. Drs. I Nengah Lestawi, M.Si. Sedangkan Dewan Penguji terdiri dari Prof. Dr. Dra. Relin D.E.,M.Ag., Prof. Dr. Drs. Ida Bagus Gede Candrawan, M.Ag., Prof. Dr. Drs. I Nyoman Linggih, M.Si., Prof. Dr. I Nyoman Alit Putrawan, S.Ag., M.Fil.H., Dr. Drs. I Nyoman Ananda, M.Ag., Dr. I Made Dian Saputra, S.S., M.Si. dan Dr. Drs. Made Redana,M.Si.

Pawana yang cukup lama menjabat Perbekel Duda Timur disebut figur yang multitalenta dengan sejumlah prestasi dan jabatan yang diembannya di antaranya sebagai Ketua MGPSSR Kabupaten Karangasem sejak tahun 2013 hingga sekarang, Ketua Relawan Pasebaya Agung Bali sejak tahun 2017 hingga sekarang, Ketua Forum Perbekel Bali sejak tahun 2014 hingga sekarang, serta Ketua Asosiasi Smart Desa sejak tahun 2018 hingga sekarang. Bahkan berhasil meraih 6 penghargaan MURI. Pawana sempat menjadi pembicara di G20, juara satu tingkat nasional dari Kementerian Desa juga juara Keterbukaan Informasi Publik.

Prof. Sudiana dalam sambutannya mengatakan penelitian Dr. Pawana yang mengangkat IT ini sangat fantastis karena sangat relevan dengan kondisi saat ini. “Kalau IT ini bisa diterapkan di tiap desa maka akan sangat membantu dalam memajukan pembangunan. Saya berharap penelitian ini bisa menjadi ‘role model’ bagi desa-desa di Bali,” ujar Prof. Sudiana.

Prof. Sudiana juga mendorong agar hasil penelitian ini bisa dibuatkan buku dan menjadi panduan untuk membangun desa. “Dengan IT semua menjadi serba cepat. Semua bisa dilihat dan dipantau. Tapi digitalisasi tak bisa dilakukan sembarang. Perlu SDM dan maintenance agar bisa memanfaatkannya dengan baik. “Kalau penelitian Dr. Pawana ini bisa berkembang di seluruh Bali, maka Pak Gubernur bisa langsung memantau desa-desa dengan cepat,” tambah Prof. Sudiana.

Dalam disertasinya, Pawana yang menyelesaikan S1 di Institut Hindu Dharma Denpasar Jurusan Teologi dan S2 Jurusan Filsafat Hindu di kampus yang sama menyebutkan penelitiannya bertujuan untuk menganalisis sinergi antara Desa Adat dan Desa Dinas dalam penerapan teknologi informasi berbasis Tri Hita Karana di Desa Duda Timur, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan integrasi antara sistem pemerintahan formal dan sistem sosial-budaya tradisional dalam menghadapi perkembangan teknologi informasi di era digital.

Tri Hita Karana sebagai filosofi lokal Bali yang menekankan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan (parhyangan), sesama manusia (pawongan), dan lingkungan (palemahan) dijadikan landasan konseptual dalam pengembangan dan penerapan teknologi informasi di tingkat desa.

Dari hasil penelitian menunjukkan sinergi antara Desa Adat dan Desa Dinas diwujudkan melalui kolaborasi dalam pengelolaan sistem informasi desa, pelayanan administrasi berbasis digital, penguatan komunikasi sosial berbasis kearifan lokal, serta pengembangan tata kelola desa yang partisipatif.

Sinergi tersebut tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga kultural, karena melibatkan peran prajuru adat dan aparat desa dinas secara harmonis dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan program digitalisasi desa.

Fungsi sinergi ini meliputi peningkatan efisiensi pelayanan publik, transparansi administrasi, kemudahan akses informasi masyarakat, serta penguatan identitas budaya lokal dalam pemanfaatan teknologi informasi.

Selain itu, penerapan teknologi informasi berbasis Tri Hita Karana mampu menciptakan keseimbangan antara modernisasi dan pelestarian nilai-nilai tradisional sehingga teknologi tidak bersifat destruktif terhadap budaya lokal, melainkan menjadi instrumen penguat budaya dan solidaritas sosial masyarakat.

Implikasi dari sinergi tersebut terlihat pada meningkatnya partisipasi masyarakat, efektivitas tata kelola pemerintahan desa, serta terwujudnya pembangunan berkelanjutan yang selaras dengan nilai-nilai lokal Bali.

Menurut Pawana, penelitian ini menegaskan integrasi antara Desa Adat dan Desa Dinas dalam kerangka Tri Hita Karana merupakan model strategis pengembangan teknologi informasi berbasis budaya yang dapat direplikasi oleh desa-desa di Bali dalam menghadapi tantangan tranformasi digital tanpa kehilangan jadi diri budaya.

Ia berharap ke depan aplikasi terutama tentang sinergitas antara desa adat dan desa dinas dalam penerapan teknologi informasi berbasis Tri Hita Karana ini bisa dikembangkan. “Di Bali, ada desa adat dan desa dinas yang perlu bersinergi terus-menerus agar tidak berjalan sendiri-sendiri,” pungkasnya. (ist)

Leave a Reply

Berikan Komentar