HRCON 2026 Kembali Digelar, Pastikan Peran Manusia Tetap Jadi Kekuatan Utama di Tengah Perkembangan Teknologi yang Makin Cepat

(Baliekbis.com),Ketua HRA (Human Resources Association) Bali Vira Risnayani mengatakan tema “Humanizing the Digital Future. Embracing the Entrepreneurial Mindset” yang dipilih pada HRCON 2026 untuk memastikan peran manusia tetap menjadi kekuatan utama di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat.”Manusia memiliki kemampuan berupa rasa, harapan, empati serta cara berpikir yang tidak dapat begitu saja digantikan oleh AI. Sebagai human being kita memiliki kekuatan untuk memiliki rasa, memiliki asa, dan memiliki cara yang tidak akan tergantikan dengan AI,” ujar Vira pada acara HRCON 2026 yang digelar untuk ke-9 kalinya, Sabtu (15/8/2026) di Renaissance Bali Uluwatu Resort & Spa.HRCON (Human Resources Convention) 2026 diselenggarakan HRA Bali diikuti sekitar 300 peserta dari berbagai daerah Indonesia dan menghadirkan sejumlah pembicara di antaranya Rina Sarif, Wiwik Wahyuni, Dr. Made Suarjana, Prof. Dr. Ir. Denny Bernadus, Jacky Mussy, Nanang Chalid, Dr. I Gde Agus Suardika Putra dan Gemini Aryanto.HRCON 2026 yang diikuti kalangan profesional human resources dan hospitality ini, menyoroti masa depan sumber daya manusia (SDM) di tengah pesatnya perkembangan artificial intelligence (AI) dan transformasi industri hospitality.

Menurut Vira, tantangan SDM Bali bukan lagi soal apakah siap atau tidak menghadapi AI. Sebab, perkembangan teknologi akan terus bergerak sehingga yang lebih penting adalah kemampuan manusia untuk beradaptasi dan menggunakan teknologi secara bijak.“Kalau mau ditanya siap atau enggak, ya mau enggak mau harus siap. Kemampuan critical thinking, creative thinking dan curiosity menjadi kompetensi penting yang harus diperkuat oleh tenaga kerja di era AI,” jelasnya.Menurutnya, kemampuan menggunakan berbagai perangkat AI saja tidak cukup. SDM harus mampu memahami, mengkritisi dan memaknai hasil yang diberikan teknologi sehingga menghasilkan outcome yang bermanfaat.Rina Sarif selaku Senior Global Advisor ESQ Group membuka Key Strategic Insight melalui “From Identity to Impact: Winning the AI Era Through Purpose & Human Potential” yang mengajak peserta kembali pada identitas, purpose, karakter dan potensi manusia sebagai fondasi untuk menghadapi era AI.Ia berpesan transformasi digital tidak boleh menjauhkan organisasi dari kemanusiaan. Teknologi seharusnya memperkuat manusia, bukan menggantikannya.Rina mengatakan teknologi akan terus berubah, bahkan setelah AI akan muncul teknologi dan agen AI dengan kemampuan yang semakin kompleks. “AI itu adalah alat. Setelah AI, nanti akan ada agent AI. Selepas agent AI, akan ada teknologi yang baru. Jadi teknologi itu akan berubah. Tetapi jawabannya masih manusia,” ujarnya.

Menurutnya kualitas manusia yang semakin penting di era AI adalah kesadaran diri, yang menjadi dasar bagi seorang pemimpin untuk memahami dirinya sendiri sekaligus membangun empati terhadap orang lain.Ia berpesan agar HR berani menyampaikan suara dan mengambil posisi strategis dalam organisasi. “HR harus berani menyuarakan kepentingan manusia di lingkungan kerja. Jangan takut untuk menyuarakan opini. Keberanian HR untuk berbicara menjadi penting karena keputusan organisasi menyangkut langsung kehidupan dan masa depan para pekerja,” jelasnya.Senior Director Human Capital Talent Culture and Transformation Danantara, Wiwik Wahyuni mengatakan pentingnya kejelasan arah organisasi dalam menghadapi transformasi.

Karyawan harus benar-benar menjadi bagian dari proses perubahan. “HR memiliki peran penting untuk memastikan organisasi memiliki direction dan expectation yang jelas,” ujarnya.Wiwik mengingatkan agar aktivitas HR tidak berjalan sendiri tanpa keterkaitan dengan tujuan bisnis perusahaan. “HR jangan sampai melakukan suatu activity yang tidak ada hubungannya dengan tujuan dari business,” tegasnya.Wiwik mengatakan kebutuhan kompetensi tenaga kerja tidak bisa disamaratakan. Setiap perusahaan memiliki arah bisnis dan nilai yang ingin diciptakan berbeda sehingga kapabilitas yang dibutuhkan harus disesuaikan.Menurutnya keberadaan komunitas HR di Bali memiliki posisi strategis karena industri hospitality bekerja dalam sebuah ekosistem yang saling berkaitan. Pengalaman wisatawan tidak hanya ditentukan oleh satu hotel atau satu perusahaan. Kepuasan wisatawan pada akhirnya akan membentuk persepsi terhadap Bali secara keseluruhan.“Ketika customer, tamu-tamu happy atau tidak happy, yang mereka pikirkan bukan hotelnya, bukan yang melayaninya, tapi adalah Bali,” ujarnya. Karena itu, menurut Wiwik, para pelaku hospitality di Bali perlu terus membangun koneksi, berbagi pengetahuan, dan berkembang bersama.

“Kalau kita secara ekosistem tidak saling men-support dan juga berkembang bersama-sama, service yang diberikan bisa jadi nggak bagus,” katanya.Ia mendorong komunitas HR Bali untuk terus menjaga jejaring dan budaya belajar bersama. “Stay connected. Ini penting banget untuk saling belajar. Yang kedua, continue to learn, karena perkembangan zaman ini cepat banget,” pesannya.HRCON 2026 dibuka bukan sekadar dengan seremoni, tetapi sebuah perjalanan yang lahir dari suara komunitas Human Resources Bali sendiri. Melalui opening act “Suara yang Menyalakan Masa Depan”, suara-suara panitia muncul dari berbagai sisi ballroom, membawa pesan tentang perubahan, tantangan talenta, keberanian meninggalkan cara lama, teknologi yang semakin cepat, serta pentingnya menjaga sisi manusia dalam setiap transformasi.Energi tersebut kemudian menyatu di atas panggung dalam semangat Lead, Innovate, Humanize, — menegaskan bahwa teknologi dapat mempercepat langkah, tetapi manusialah yang tetap memberi arah.Dari momen inilah HRCON 2026 memulai perjalanan besarnya: Human Capital for the Next Era of Hospitality.

Setelah ruang dibangun dengan energi dan koneksi bersama Coach Rudy dari ESQ Corporation, perjalanan Main Stage bergerak dari dalam diri menuju dampak yang lebih luas.Gemini Aryanto,M.Si., GPHR, Group Chief People & Culture Officer Kopi Kenangan, membawa perspektif “Entrepreneurial Leadership Mindset in Service Industry” tentang pentingnya ownership, agility, keberanian mengambil keputusan, inovasi, dan business awareness dalam kepemimpinan industri jasa.Sedangkan Nanang Chalid dari Paragon melalui “Unlocking Growth through People: Win Where Disruption is the ‘New Normal’”. Di tengah disrupsi yang tidak lagi bersifat sementara, people ditempatkan sebagai growth engine — kekuatan yang membuat organisasi tetap adaptif, relevan, resilient, dan mampu menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Tiga perspektif tersebut kemudian diperdalam melalui dua strategic panel. Panel pertama, “From Mindset to Workforce Readiness: Building Talent for the Next Era”, mempertemukan perspektif corporate, education, dan realitas hospitality Bali. Bersama Drs. I Wayan E. Ginastra, Prof. Dr. Ir. Denny Bernardus, dan Nanang Chalid, dengan Peggy Putri sebagai Session Host, percakapan berfokus pada bagaimana talenta masa depan tidak cukup hanya siap bekerja, tetapi harus siap mengambil ownership, memecahkan masalah, berinovasi, dan menciptakan value.Panel kedua, “Create Clarity, Reach for Impact”, dipandu oleh Bambang Yapri, M.Pd., PCC, bersama Wiwik Wahyuni, Dr. I Made Sudjana dan Flavia Sungkit. Sesi ini membawa peserta pada satu kualitas kepemimpinan yang semakin penting di tengah perubahan: clarity — kejelasan yang lahir dari purpose dan values, diperkuat oleh proses learn, unlearn, relearn, serta dibangun dari pemahaman diri melalui IKIGAI. (ist)

Leave a Reply

Berikan Komentar