Bali Harus Punya Pemimpin yang Berwawasan Bisnis

(Baliekbis.com), Presiden Direktur dan CEO Khrisna Group Anak Agung Ngurah Mahendra menegaskan jika Bali saat ini harus memiliki pemimpin yang berwawasan bisnis, berwawasan e-commerce. Hal ini perlu karena Bali itu seharusnya menjadi pusat perdagangan dunia. Data menunjukkan, di Bali itu uang beredar per tahun hampir Rp 500 triliun tetapi semuanya pindah ke luar negeri, keluar Bali. Seharusnya Bali menjadi pusat perdagangan uang, pusat perbankan. “Makanya saat inilah kita harus bisa memilih pemimpin yang cerdas, berwawasan, cerdik, futuristik, berwawasan bisinis modern berlandaskan teknologi tingggi,” ujarnya di Denpasar, Rabu (21/3). Selain itu harus memilih pemimpin yang tidak sedang dibidik KPK karena tidak ada pemimpin yang korupsi yang tidak dibidik KPK karena percuma memilih pemimpin yang tidak jujur, dan malah diincar KPK. Memang setiap pemimpin pasti diincar KPK, bila rekam jejaknya buruk. Sebaliknya, bila rekam jejaknya baik akan menjadi contoh bagi KPK.

Sebagai pengusaha, ia berharap pemimpin Bali selalu berwawasan bisnis. Hal ini beralasan karena Bali harus menjadi puncak perdagangan dunia. Potensi Bali di bidang pariwisata memang sangat besar, tetapi karena secara teknologi Bali belum bisa bersaing dengan Cina. “Cina itu terkenal dengan semboyan murah dan cepat, dipasarkan dengan jaringan teknologi yang canggih. Total transaksi Rp 500 triliun per tahun dalam semua sektor, tetapi uang itu hanya singgah di Bali,” ujarnya. Salah satu contoh kasus yang harus diperhatikan adalah misalnya Bali ini memiliki sekitar 300 ribu kamar hotel mulai melati hingga berbintang. Cukup 30 persen kamar hotel menerima produk kerajinan Bali lalu dipasarkan maka Bali akan kaya raya.

Sementara itu Ketua Yayasan Primakara yang membawahi Kampus STIMIK Denpasar I Made Artana menjelaskan, memilih pemimpin Bali yang berwawasan bisnis itu hanya ada dalam figur Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra. Pasangan calon Gubernur Bali nomor urut 2 ini sudah berpengalaman dalam bisnis, ekonomi kreatif, dengan teknologi informasi yang mumpuni. Saat ini di Kota Denpasar misalnya, sudah berkembang kelompok-kelompok ekonomi kreatif berbasiskan tekologi. “Kalau mau memilih pemimpin Bali yang berwawasan bisnis, ekonomi kreatif berbasis teknologi online maka Rai Mantra lah orangnya. Bukan berarti pasangan yang lainnya tidak baik, tetapi belajar dari pengalaman, dari apa yang sudah pernah dibuat maka Rai Mantra adalah figur yang tepat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, di kampus yang diasuhnya yakni STIMIK Denpasar belajar berteori, tetapi langsung bekerja di lapangan dan terutama menjadi pengusaha berbasis digital. “Saat ini Indonesia kekurangan programer. Untuk itu Menkominfo menggelar Code Your Future di Kampus STIMIK Primakara bertujuan untuk memotivasi anak-anak muda belajar code, belajar jadi programer. Di Bali ada ratusan programer Start Up. Ini harus ditingkatkan karena mereka akan sangat mudah mencari pekerjaan, menghasilkan uang yang banyak. Programer itu keahlian yang sangat mahal karena di Bali sendiri banyak perusahan start up. Di Bali ada banyak programer start up dan kalau di Indonesia sangat banyak, puluhan ribu,” ujarnya. Kampus IT di Indonesia sangat banyak, setiap tahun meluluskan puluhan ribu tetapi hanya sedikit orang yang menjadi programer. “Sebetulnya kita bisa melahirkan banyak programer. STIMIK Primakara adalah satu-satunya kampus di Indonesia yang pendirinya adalah programer,” ujarnya. Untuk memenuhi tujuan itu adalah yang paling penting adalah kampanye ke mahasiswa. Karena banyak orang memahami kalau programer itu sulit. Itu tidak benar. Coding itu bukanlah suatu yang sulit tetapi bisa dipelajari. (nwm)