Tetada Kalimasada Gelar International Convention 2026 di Bali, Ajak Generasi Muda Jaga Kelestarian Silat
(Baliekbis.com),Tetada Kalimasada perguruan olahraga pernapasan dan pencak silat asal Indonesia, kembali menunjukkan eksistensi di kancah global dengan menggelar International Convention 2026.
Kegiatan berskala besar yang berfokus pada terapi fisik dan tenaga dalam ini dipusatkan di salah satu hotel di kawasan Sunset Road, Kuta, Kabupaten Badung, selama dua hari mulai Sabtu hingga Minggu, 18–19 Juli 2026.
Event akbar ini sekaligus menandai bangkit kembali geliat internasional organisasi yang berdiri sejak tahun 1991 tersebut setelah sempat vakum akibat pandemi COVID-19.
Diikuti oleh peserta lintas negara, konvensi ini menjadi ajang konsolidasi pasca-pandemi setelah sebelumnya sukses digelar di Manila (Filipina) pada 2020, Kuching (Malaysia) pada 2024, dan Filipina pada 2025.
Penasehat Tetada Kalimasada, Made Mangku Pastika mengungkapkan kegembiraannya atas ekspansi global warisan leluhur Indonesia ini. Menurutnya, pendekatan kemanusiaan universal menjadi kunci utama seni pernapasan ini dapat diterima di berbagai penjuru dunia.
“Saya gembira melihat perkembangan yang begitu besar ya, bahkan sekarang worldwide, artinya tersebar di seluruh dunia. Karena ini warisan leluhur yang harus kita lestarikan, kita kembangkan, apalagi sekarang bisa diterima di seluruh dunia,” ujar mantan Gubernur Bali dua periode ini.
Made Mangku Pastika menambahkan bahwa sifat Tetada Kalimasada yang inklusif membuatnya sangat optimis akan masa depan organisasi ini. “Kenapa kita berharap ini bisa berkembang dan optimis? Karena ini adalah lintas bangsa, lintas negara, lintas agama, lintas ras, lintas kepercayaan. Oleh karena itu, saya sangat yakin apabila kita terus berpegang kepada pedoman itu, maka kita akan lebih lebar ke seluruh dunia dan bisa diterima di mana-mana,” tuturnya.
Senada dengan hal itu, International President Tetada Kalimasada, Dr. Ida Widyastuti, SpKK, SE., menegaskan pentingnya menjaga kelestarian silat di Tanah Air, sembari terus memperkenalkannya ke mancanegara.
Di bawah naungan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), ia bersama jajaran pengurus berkomitmen penuh merangkul generasi muda.
“Sempat berhenti saat COVID, tapi sekarang Alhamdulillah kita mulai bangkit kembali. Ini adalah International Convention pertama di Indonesia, kita adakan di Bali. Dan banyak yang semangat kembali untuk ikut kegiatan,” kata Dr. Ida.
Ia juga menyoroti pentingnya performa silat seni dalam acara tersebut sebagai alarm bagi generasi penerus. “Kita juga harus ingat bahwa keberadaan olahraga ini merupakan warisan leluhur Indonesia. Jadi jangan sampai dilupakan. Untuk itu, generasi muda juga harus mengenal tentang silat, makanya tadi ada performa tentang silat seni. Mereka harus tetap ingat bahwa silat adalah budaya bangsa Indonesia, bukan punya negara yang lain,” tegasnya.
Sementara itu, Pendiri dan Grandmaster Tetada Kalimasada, Ir. Eddy Surohadi, S.E., MH., menerangkan tujuan utama konvensi di Bali ini adalah untuk mengaktifkan kembali para anggota di seluruh dunia setelah sempat diinstruksikan berhenti latihan total saat pandemi COVID-19 melanda.
Ia juga membocorkan rencana pelaksanaan konvensi tahun depan yang diusulkan bertempat di Suriname. “Hari ini kita mengadakan International Convention mengundang anggota-anggota kita dari seluruh dunia, termasuk di seluruh Indonesia,” ujarnya.
“Kita berusaha untuk mengaktifkan lagi mereka, di mana pada saat COVID kemarin kita minta mereka sebenarnya untuk berhenti, tidak latihan. Jadi sekarang kita mulai mengadakan lagi, mulai menggerakkan lagi, mengadakan konvensi-konvensi lagi. Dan tahun depan insya Allah kita di Suriname,” ungkap Eddy Surohadi.
Lebih lanjut, Eddy menjelaskan metode olah tubuh ini mengombinasikan keseimbangan kebugaran jasmani dan ketenangan mental secara aman dan simpel lewat berbagai gerakan peregangan (stretching), pengaturan napas, serta konsentrasi.
Manfaat riilnya pun telah dirasakan secara medis, khususnya untuk meningkatkan vitalitas, imunitas, menjaga penampilan awet muda, hingga membantu pemulihan penyakit kronis.
“Olahraga kita ini adalah olahraga pernapasan yang berasal dari leluhur kita bangsa Indonesia. Olahraga itu adalah keseimbangan antara physical fitness dan spiritual fitness. Jadi bagaimana kita bisa olahraga supaya badan kita sehat, pikiran kita juga tenang. Healthy body and healthy mind, itu semboyan kita,” terangnya.
Meski organisasi bersifat terbuka dan tidak pernah mendata jumlah total anggota secara spesifik di seluruh provinsi di Indonesia, ekspansi instruktur dan cabangnya kini telah menjangkau pelosok negeri, salah satunya di Bali yang dipimpin oleh Pak Oles.
Eddy berharap, dengan jaringan kokoh yang kini telah tersebar di 27 negara di dunia, Tetada Kalimasada dapat bersanding secara global dengan olahraga pernapasan kenamaan lainnya.
“Harapannya, saya ingin kita punya olahraga pernapasan yang dikenal di dunia. Sekarang kita sudah mempunyai anggota tersebar di 27 negara di dunia. Jadi kita harapkan mereka itu nanti menularkan kepada masyarakat yang lain di seluruh dunia. Di Indonesia juga cabang kita di mana-mana. Kita harapkan nanti olahraga kita dikenal karena prinsipnya sangat simpel, mudah latihannya, dan aman,” pungkas Eddy. (ist)


Leave a Reply