Prof. Bandem Buka Pameran Tunggal  ‘KACATRI’ Made Wiradana di Santrian Art Gallery Sanur

(Baliekbis.com), Tokoh seni terkemuka Bali, Prof. Dr. I Made Bandem,M.A. membuka pameran seni lukis Made Wiradana ditandai dengan pengguntingan pita di Santrian Art Gallery Sanur, Jumat (10/7) malam.

Pameran bertajuk ‘KACATRI’ ini akan berlangsung hingga 30 Agustus mendatang. Pembukaan pameran dihadiri Owner Santrian Art Gallery sekaligus Griya Santrian I.B.G. Agung Sidharta Putra, Manajer Santrian Art Gallery Made ‘Dolar’ Astawa, tokoh seni serta puluhan undangan lainnya.

Prof. Bandem dalam sambutannya mengatakan Wiradana sangat konsisten berkontribusi bagi kemajuan pendidikan seni di Bali, termasuk perannya di ISI Yogyakarta dan STSI Denpasar (kini ISI Denpasar) sejak era 90-an.

“Tahun 1995, Pak Made Wiradana setamat di ISI Yogyakarta, datang ke STSI, memberikan saya masukan untuk pendirian seni lukis di STSI Denpasar. Tahun 2001-2003, ia juga menjadi Ketua Sanggar Dewata Indonesia. Pemikiran-pemikiran pelukis Made Wiradana inilah sangat inspiratif dan memberikan ciri khas berbeda dalam karyanya,” ungkap Prof. Bandem.

“Saya sudah 3 kali membuka pameran Wiradana. Saya bahkan punya kemistri dengannya, dimana setiap saya membuka pamerannya selalu lukisannya habis terjual,” pungkas Prof. Bandem yang disambut tepuk tangan meriah para pengunjung yang memadati area pembukaan.

Pameran Wiradana ini menampilkan puluhan karyanya dengan latar belakang yang kental akan nuansa budaya Bali. Garis-garis tegas yang dihadirkannya sepintas menyerupai aksara spiritual, menciptakan harmoni visual yang memikat penikmat seni untuk memandangnya berulang kali.

Kurator sekaligus penulis pengantar pameran, Made Susanto Dwitanaya menjelaskan karya Wiradana kali ini memiliki muatan filosofis yang sangat kuat. Wiradana dinilai berhasil menyusun komposisi yang merefleksikan cara pandang masyarakat Bali terhadap alam semesta.

“Beliau mengekspresikan garis berupa Rerajahan, garis-garis yang menyerupai aksara. Kita lihat sangat mandalam sekali, bagaimana membangun komposisi yang kosmologis Bali,” ujar Made Susanto Dwitanaya.

Wiradana hanya mengambil spirit, nuansa rerajahan ke dalam ekspresi personalnya. Sehingga ini membuat karyanya berbeda dari sebelum 2024. “Sekarang ada nuansa baru, figur, dan warna yang baru. Sehingga ini membuat lukisannya erat dengan kegiatan sehari-hari masyarakat Bali,” jelas Dwitanaya.

Sementara itu Ida Bagus Sidharta Putra menegaskan komitmen ruang seninya dalam memfasilitasi kreatif para pelaku seni rupa di Bali. “Ruang galeri di Sanur ini diharapkan terus menjadi tempat persemaian ide yang memperkaya khasanah kebudayaan Bali secara berkelanjutan,” ucap Gusde Sidharta.

Sejak awal, lukisan Made Wiradana telah dikenal karena kekuatan garis-garisnya yang spontan, mengalir, dan intuitif. Figur-figur asli yang muncul dari tangannya menciptakan ruang naratif terbuka, seolah-olah muncul dari lapisan memori primordial yang dalam.

Setelah mengambil peran sebagai pemangku, ritme kehidupan sehari-harinya menjadi terbenam dalam praktik ritual: menggambar rerajahan (diagram ritual suci), mengukir aksara suci Bali, menyiapkan persembahan upacara, dan melakukan berbagai bentuk ngayah, pelayanan sukarela dalam komunitas sosial-keagamaan. (ist)