Presslist 16: Angkat Isu Kemanusiaan lewat Pameran Sekaligus Kembangkan Website VoT

(Baliekbis.com), Presslist 16 yang diadakan oleh Madyapadma Journalistic Park SMA Negeri 3 Denpasar menghadirkan pameran yang menyoroti persoalan kemanusiaan dan keadilan. Bersamaan dengan itu, Voice of Trisma (VoT) memperkenalkan website baru sebagai sarana akses siaran dan arsip program bagi pendengar.

Madyapadma Journalistic Park SMA Negeri 3 Denpasar kembali menggelar Apresiasi Sineas dan Jurnalistik atau Presslist ke-16. Tahun ini, rangkaian kegiatan mengangkat isu kemanusiaan dan keadilan melalui sejumlah karya jurnalistik dan audiovisual. Salah satu rangkaian kegiatan berlangsung di Paondopo, Jalan Gandapura No. 54, Kesiman Kertalangu, Denpasar Timur, berupa pameran, pemutaran film Bioskop Madyapadma Trisma (BISMA), lomba resensi film, serta diskusi.

Ketua Panitia Presslist 16, Ida Bagus Putra Arka Diwangkara (18), mengatakan tema kegiatan tahun ini diangkat dari berbagai persoalan yang masih terjadi di Indonesia, khususnya kesenjangan sosial dan isu kemanusiaan. Menurutnya, tema tersebut juga merupakan kelanjutan dari Presslist 15 yang mengangkat tema “Memanusiakan Keindonesiaan, Menumbuhkan Kesadaran Berkeadilan”.

Arka mengatakan keberlanjutan tema tersebut muncul dari pandangan panitia bahwa persoalan kemanusiaan dan kesenjangan masih belum selesai. Setelah sebelumnya mengangkat gagasan memanusiakan keindonesiaan dan kesadaran akan keadilan, Presslist 16 mencoba melihat kembali persoalan yang masih berada di sekitar masyarakat. “Kami melihat masih banyak isu di sekitar kita yang tidak kita sadari dan terkadang tidak kita pedulikan. Karena itu, kami ingin membuka mata masyarakat dan generasi muda melalui Presslist ini,” ujar Arka.

Salah satu bentuk kegiatan yang membawa gagasan tersebut adalah pameran bertema “Potret Kemanusiaan dan Keadilan di Sekitar Kita”. Pameran tersebut resmi dibuka melalui sambutan pemilik Rumah Bertutur Paondopo, Ir. Gede Putu Suwitra. Dalam sambutannya, Suwitra menyampaikan harapannya agar Paondopo dapat menjadi ruang edukatif sekaligus ruang untuk menumbuhkan gagasan-gagasan yang inovatif dan kreatif.

Gagasan tersebut diwujudkan melalui tagline “Jendela Makna Dua Masa,” yang memiliki makna nilai-nilai kearifan masa lalu akan tetap menjadi fondasi yang sangat kokoh untuk sebuah masa depan. Suwitra juga menyebutkan bahwa kehadiran Madyapadma Journalistic Park melalui kegiatan pameran menjadi salah satu langkah awal terbentuknya galeri di Rumah Bertutur. “MP-lah yang mengawali apa pun yang dilahirkan sekarang di sini,” ujar Suwitra.

Dalam sesi diskusi, Suwitra menyoroti kebutuhan Denpasar akan lebih banyak ruang kreatif yang tidak semata-mata hanya dijadikan sebagai kepentingan komersial. Menurutnya, ruang kreatif juga perlu berperan sebagai tempat bagi lintas generasi untuk bertemu sekaligus berbagi pengalaman, serta kebijaksanaan dari setiap zamannya.

Steering Committee kegiatan pameran, Ni Nyoman Ayu Winna Trigita (17), mengatakan tema tersebut pada awalnya diambil dari tema lomba foto jurnalistik. Pemilihan tema yang sama dilakukan agar karya peserta dapat dipamerkan tanpa harus menyesuaikan kembali dengan tema yang berbeda. Namun, menurut Winna, pemilihan tema juga didasari oleh persoalan kemanusiaan yang masih ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Karya dalam pameran tidak hanya berupa fotografi. Sejumlah bentuk karya seperti lukisan, karikatur, buku, dan infografis turut digunakan untuk menyampaikan persoalan yang berkaitan dengan tema. Winna mengatakan penggunaan media dalam bentuk visual memungkinkan persoalan ditampilkan melalui gambaran yang dapat dilihat langsung oleh pengunjung. “Semuanya jelas bercerita secara visual. Ketika orang-orang melihat secara langsung bukti yang ada di masyarakat, masyarakat jadi makin aware,” ujar Winna.

Pameran tersebut juga menjadi salah satu kegiatan awal yang menggunakan Paondopo sebagai ruang bertutur. Winna mengatakan Paondopo dirancang untuk menjadi ruang edukatif yang dapat digunakan untuk kegiatan tertentu sesuai dengan tujuan tempat tersebut. “Paondopo itu menaungi banyak harapan orang-orang dan kami berharap Paondopo menjadi rumah bertutur, rumah yang bisa menjadi ruang edukatif untuk banyak orang,” papar Winna.

Selain pameran, Paondopo menjadi lokasi pemutaran Bioskop Madyapadma Trisma atau BISMA. Steering Committee BISMA, Made Chaitanya Puterining Dias (18), mengatakan film yang diputar merupakan karya anak muda yang sebelumnya telah melalui proses kurasi dan masuk nominasi dalam kegiatan perfilman Madyapadma. “Film di BISMA ini merupakan karya anak muda, jadi salah satu hal yang ingin disampaikan adalah bahwa film-film anak muda juga berkualitas dan bisa diputar di khalayak ramai,” ungkap Chaitanya.

Sebanyak enam film ditampilkan dalam dua sesi. Dua film pada sesi pertama mengangkat persoalan keadilan, sedangkan empat film pada sesi kedua berkaitan dengan tradisi. Chaitanya mengatakan pembagian tersebut dilakukan berdasarkan topik dari film-film yang tersedia. “Untuk kali ini aku bagi menjadi dua, yakni tentang tradisi dan tentang keadilan. Film-film yang diputar juga merupakan film yang sudah lolos kurasi dan masuk nominasi pada saat event film di Madyapadma,” kata Chaitanya. BISMA juga direncanakan memiliki sesi diskusi yang sasarannya adalah anak muda.

Dari pemutaran film tersebut, rangkaian kegiatan kemudian berlanjut melalui lomba resensi film. Steering Committee lomba resensi film, Kiraniakasih Kameswari Tanama Putra (16), mengatakan lomba tersebut dibuat untuk memberikan ruang bagi peserta yang memiliki kemampuan jurnalistik, khususnya dalam menulis resensi. “Kami ingin memberikan ruang bagi orang-orang yang memiliki kemampuan di bidang jurnalistik, khususnya dalam menulis resensi, sekaligus mengapresiasi karya-karya film yang berkualitas,” pungkas Kirania.

Film dokumenter “Hak, Tak Berpihak” menjadi film yang akan diresensi oleh peserta. Kirania mengatakan peserta tidak hanya diharapkan mampu menulis resensi, tetapi juga memahami isi dan pesan yang disampaikan melalui film. “Harapannya, peserta tidak cuma menonton dan meresensi film, tetapi juga bisa memahami isi dan makna yang disampaikan di film tersebut,” tutur Kirania. Menurutnya, film tersebut juga dapat menjadi sumber inspirasi bagi orang lain yang ingin menghasilkan karya audiovisual.

Dari sisi pelaksanaan, lomba resensi film masih menghadapi persoalan dalam menjaring peserta. Organizing Committee lomba resensi film, Made Nanda Calya (16), mengatakan respons peserta sejauh ini berada pada tingkat sedang. “Kalau antusiasme dan respons dari peserta, jujur saja sedang. Ada beberapa peserta yang excited banget karena biaya pendaftaran gratis, ada yang biasa saja,” ungkap Nanda.

Selain rangkaian kegiatan tersebut, Madyapadma juga melakukan pengembangan pada Voice of Trisma (VoT) melalui peluncuran website yang dapat digunakan pendengar untuk mengakses siaran. Program Direktur VoT, Ni Luh Vita Pradnyan Dewi (17), mengatakan sebelumnya pendengar dapat mengakses siaran melalui aplikasi Klik Radio. Namun, keterbatasan ketersediaan aplikasi tersebut membuat sebagian pendengar kesulitan untuk mengakses siaran VoT.

Pengembangan website tersebut dilakukan oleh 2 anggota Madyapadma, yaitu I Gede Ananda Pradnyana dan Komang Bayu Bhuana Gardenia Putra, sebagai bagian dari tugas ekstra selama satu semester. Proses pembuatannya berlangsung sekitar satu bulan dan website mulai dapat digunakan pendengar pada Maret 2026. Melalui website tersebut, pendengar cukup membuka tautan untuk mendengarkan siaran VoT tanpa perlu mengunduh aplikasi. Website tersebut juga dapat diakses melalui berbagai perangkat, seperti ponsel, laptop, dan komputer.

Tidak hanya menyediakan siaran secara langsung, website VoT juga memiliki fitur arsip yang memungkinkan pendengar mendengarkan kembali siaran yang telah berlalu. Fitur tersebut dapat digunakan, misalnya, ketika pendengar tidak sempat mengikuti siaran pada hari tertentu. Selain itu, website juga memuat informasi mengenai Voice of Trisma.

Selain menyediakan akses siaran, website VoT juga memuat berbagai informasi mengenai Voice of Trisma. Pendengar dapat menemukan informasi seputar VoT serta mengakses program-program yang tersedia. Program tersebut meliputi informasi sains melalui Info Science, informasi unik dan peristiwa bersejarah melalui Tau Gak Sih?, perkembangan teknologi melalui Info IPTEK, hingga informasi seputar SMA Negeri 3 Denpasar melalui Kilas Trisma. Website juga menjadi tempat bagi pendengar untuk menikmati berbagai program hiburan, seperti Nonstop Music Barat, Nonstop Music Indo, All About Movie, serta Tangga Lagu Barat dan Tangga Lagu Indonesia.

Di tengah berbagai kegiatan tersebut, Pemimpin Umum Madyapadma Journalistic Park, Ida Bagus Putra Banu Diwangkara (18), juga turut berpendapat. Menurut Banu, rangkaian kegiatan di Paondopo juga memiliki fungsi yang berbeda. Pameran menjadi tempat untuk menampilkan karya, sedangkan diskusi isu dan diskusi fotografi memberikan pembahasan dari sisi isu maupun teknis. “Kami tidak cuma membuat karya, tetapi dari hulu ke hilir, maknanya diberi wawasan lewat diskusi isu dan teknis lewat diskusi fotografi,” pungkasnya.

Banu mengharapkan perubahan yang terlihat setelah pameran berlangsung tidak dapat hanya diukur dari pelaksanaan kegiatan. “Kalau perubahan setelah pameran, ya menjadi lebih baik,” ujarnya. Sementara untuk keseluruhan Presslist 16, ia memberikan jawaban yang lebih singkat, yakni “Berdampak,” tutup Banu. (wnd/kss)

Leave a Reply

Berikan Komentar