Peringatan Ulang Tahun ke-17 Malu Dong Community, Ajak Masyarakat Terlibat dalam Aksi Nyata Penyelesaian Masalah Sampah

(Baliekbis.com), Momentum peringatan ulang tahun ke-17 Malu Dong Community dimaknai lebih dari sekadar seremoni. Bersama gerakan #SAYAAJABISA, komunitas ini mengubah perayaan menjadi aksi nyata untuk mengajak masyarakat terlibat dalam upaya penyelesaian persoalan sampah di Bali.

Kegiatan ini dipusatkan di kawasan pantai Kelan, Kecamatan Kuta, Badung, Sabtu 23 Mei 2026. Melalui tema SOS, kegiatan ini menjadi simbol seruan darurat sekaligus panggilan kolektif agar seluruh elemen masyarakat bergerak bersama menciptakan solusi.

“Gerakan ini juga menjadi titik awal membangun kolaborasi lintas sektor guna memperkuat kesadaran dan tanggung jawab bersama terhadap lingkungan,” ujar Ketua Malu Dong Community, I Made Agus Jaya Wardana di sela-sela kegiatan.

Agus Jaya menjelaskan rangkaian kegiatan yang dilakukan ini merupakan bukti konsistensi komunitas bersama berbagai elemen masyarakat dan pemerintah dalam mengatasi persoalan sampah.

“Ini adalah rangkaian ulang tahun ke-17 Malu Dong Community yang menunjukkan konsistensi berbagai elemen masyarakat untuk terus bergerak mencari solusi atas persoalan sampah,” ujarnya.

“Kami berkolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat untuk bersama menjaga kebersihan pantai. Tujuannya membangun kepedulian, agar masyarakat memahami betapa sulitnya membersihkan sampah dan terbiasa membuang sampah pada tempatnya,” tambah Agus Jaya.

Tema SOS diangkat sebagai respons atas kondisi darurat sampah yang tengah dihadapi Bali. Masalah lingkungan yang kian kompleks seperti sampah, pencemaran lingkungan dan kemacetan menjadi tantangan bagi Bali sebagai daerah pariwisata dunia.

Tumpukan sampah, pencemaran ruang hidup, hingga sistem pengelolaan yang belum mampu mengimbangi laju konsumsi masyarakat menjadi ironi yang tak bisa lagi diabaikan.

Salah satu agenda utama kegiatan Malu Dong Community adalah talkshow, forum kolaboratif yang melibatkan pemerintah, masyarakat dan berbagai pihak untuk mendiskusikan solusi konkret pengelolaan sampah.

“Kami berharap melalui forum ini bisa lahir solusi bersama. Dalam satu setengah tahun ke depan diharapkan ada langkah nyata yang dapat menjadi penyelesaian persoalan sampah, khususnya di Denpasar dan Badung,” katanya.

Agus memastikan seluruh sampah yang terkumpul dari kegiatan ini akan diproses di tempat pengolahan sampah residu sehingga tidak kembali mencemari lingkungan.

Sementara itu, Bendesa Adat Kelan, I Wayan Sukerena, menyampaikan apresiasi atas kontribusi Malu Dong Community dalam membantu membersihkan kawasan Pantai Kelan.

“Kami sangat berterima kasih atas dukungan ini. Pantai Kelan memiliki garis pantai sekitar 800 meter dan hari ini telah dibantu membersihkan sampah residunya. Semoga kegiatan seperti ini dapat terus terlaksana di tahun-tahun mendatang,” harapnya.

Apresiasi juga datang dari Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Badung Made Rai Warastuthi yang menilai inisiatif generasi muda seperti ini menjadi energi positif bagi pelestarian lingkungan.

Menurutnya, nama Malu Dong sendiri merupakan pengingat halus bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap bumi.

“Malu Dong adalah pengingat, kita seharusnya malu jika tidak menjaga kelestarian bumi dan kebersihan lingkungan. Terutama di Badung, menjaga kebersihan pantai berarti menjaga ikon utama pariwisata Bali. Pemerintah tentu siap mendukung setiap kolaborasi positif seperti ini,” katanya. (ist)

Leave a Reply

Berikan Komentar