Pepaya Tidak Hanya Lezat, tapi Juga Jadi Bahan Bakar Masa Depan

(Baliekbis.com), Pepaya termasuk buah tropis yang memiliki kepentingan komersial karena nilai nutrisi dan pengobatannya yang tinggi. Biji dan kulit pepaya yang sering dibuang ternyata mengandung nutrisi penting yang bermanfaat baik bagi manusia maupun hewan. Limbah buah papaya misalnya dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan bioetanol melalui proses fermentasi dan destilasi.

“Pepaya adalah sumber bahan gula dan menjadi salah satu limbah buah yang dapat dimanfaatkan untuk pembuatan bioethanol. Pilihan bahan baku yang cocok, melimpah dan murah sangat penting karena biaya bahan baku merupakan bagian utama dari biaya produksi” kata akademisi Fakultas Pertanian, Universitas Warmadewa (FP-Unwar), I Nengah Muliarta, ketika dikonfirmasi di Denpasar pada Senin (16/10).

Menurutnya, produksi etanol dari hasil pertanian berupa buah-buahan dapat ditingkatkan dengan menggunakan strain ragi yang direkayasa secara genetik sehingga mampu mengubah banyak gula menjadi etanol. Kadar dan volume bioethanol yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh lamanya fermentasi

Muliarta menyebutkan ragi merupakan mikroorganisme paling umum yang digunakan dalam produksi bioethanol dan memainkan fungsi penting dalam memfermentasi gula menjadi etanol. Ragi dapat langsung memfermentasi gula sederhana menjadi etanol sedangkan bahan baku jenis lain harus diubah menjadi gula yang dapat difermentasi sebelum dapat difermentasi menjadi etanol.

Ia memaparkan bioetanol adalah bahan bakar cair yang dapat digunakan sebagai pengganti bensin. Pemanfaatan kulit pepaya sebagai bahan bakar masa depan tidak hanya membantu mengurangi emisi karbon, tetapi juga menciptakan peluang baru dalam pengembangan industri bioetanol yang berkelanjutan.

Pria kelahiran Klungkung tersebut mengungkapkan secara teknis bioetanol dapat digunakan sebagai pengganti bakar bensin, mengingat sifat fisika bioetanol yang mendekati sifat fisika bahan bakar bensin. Namun yang masing menjadi permasalahan harga jual terkadang masih lebih rendah dari biaya produksi, sehingga akan mempengaruhi layak atau tidaknya penerapan substitusi bensin dengan bioetanol.