Pemanfaatan BIM dan AI Mampu Tingkatkan Efisiensi, Produktivitas serta Daya Saing Industri Arsitektur dan Konstruksi

(Baliekbis.com),Pemanfaatan teknologi Building Information Modeling (BIM) dan Artificial Intelligence (AI) dinilai menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan daya saing industri arsitektur serta konstruksi.

Hal tersebut menjadi salah satu sorotan dalam penyelenggaraan IGNITE – BIM & AI Conference 2026 yang digelar PT Indonesia AppliCAD (AppliCAD Indonesia) bersama Graphisoft, Rabu (28/10/2026) di Renaissance Bali Uluwatu Resort & Spa, Badung, Bali.

Konferensi yang mempertemukan arsitek, engineer, kontraktor, developer, akademisi, dan praktisi BIM ini membahas bagaimana integrasi BIM dan AI dapat membantu pelaku industri mengoptimalkan proses kerja, meminimalkan revisi desain, serta mempercepat koordinasi hingga penyerahan proyek.

Hadir sebagai pembicara Ahmad Shiddiq Wangsaputra – CEO of Attaya Architec , Tobin Halim (Managing Director PT. Group Seventy Asia), Muhammad Ihsan
(Surveyor Pemetaan Ahli Muda, KEMENPU BIM Manager Madya), Alex Ladda (Director of Alex Ladda Architecture), Gede Arista Gunawan (Arsitek), Krystyna Bashmakova (Sales Team APAC, Artec 3D) dan Ryo Suwama selaku Sales & Technical Support APAC, Artec 3D).

Menurut RIBA AI Report 2026, survei Royal Institute of British Architects terhadap lebih dari 1.100 responden di Inggris dan sejumlah negara lain, sebanyak 74 persen biro arsitektur kini telah menggunakan AI, meningkat dari 59 persen pada 2025 dan 41 persen pada 2024. Laporan yang sama juga mencatat 75 persen responden menyatakan AI meningkatkan produktivitas kerja.

Surveyor Pemetaan Ahli Muda Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Muhammad Ihsan mengungkapkan kementeriannya telah memiliki sejumlah regulasi dan prosedur operasional standar terkait penerapan BIM.

“Implementasi teknologi tersebut telah berjalan sejak 2018 dan digunakan secara masif pada sejumlah proyek pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN),” ujar Ihsan.

BIM juga diterapkan dalam proyek-proyek IKN yang melibatkan sekitar 89 proyek dengan anggaran kurang lebih Rp89 triliun dan 29.000 pekerja. “Dalam skala pekerjaan tersebut, teknologi BIM membantu koordinasi antardisiplin dan mendeteksi potensi benturan desain atau clash detection,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengakui penerapan BIM masih menghadapi kendala dari sisi teknologi dan sumber daya manusia. Penguasaan teknologi ini dinilai masih lebih banyak berada pada pelaku konstruksi yang telah memiliki pengalaman, termasuk badan usaha milik negara (BUMN).

“Kita berharap vendor-vendor kita, kontraktor maupun konsultan bisa bersama-sama untuk mempelajari BIM ini agar pelaksanaan konstruksi di lapangan menjadi lebih efektif dan efisien,” jelas Ihsan.

Selain mendukung koordinasi proyek baru, teknologi digital juga dinilai memiliki manfaat untuk mendokumentasikan bangunan eksisting, termasuk bangunan bersejarah yang tidak lagi memiliki gambar teknis lengkap.

Arsitek Gede Arista Gunawan mengatakan teknologi pemindaian tiga dimensi menggunakan LiDAR (Light Detection and Ranging) dapat membantu merekam kondisi bangunan secara lebih terperinci. Dokumentasi digital tersebut penting untuk mendukung upaya pelestarian, pemeliharaan, hingga renovasi bangunan.

Gede Arista menilai teknologi tersebut relevan bagi Bali yang memiliki banyak bangunan heritage yang masih berdiri, tetapi tidak seluruhnya dilengkapi dokumentasi gambar perencanaan. “Dengan alat-alat seperti scanning 3D LiDAR itu otomatis kita jadi akan mempreservasi unsur-unsur desain dan konstruksi dari pembangunan itu,” ujar Gede Arista.

Dikatakan dokumentasi digital bangunan dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran sekaligus referensi ketika dilakukan pemeliharaan atau renovasi. Dengan demikian, karakter desain dan unsur konstruksi bangunan lama dapat direkam sebelum dilakukan intervensi fisik.

Salah satu pembahasan menarik dalam konferensi ini adalah bagaimana BIM tidak lagi sekadar menjadi alat untuk membuat model tiga dimensi, tetapi berkembang menjadi satu sumber informasi yang menghubungkan berbagai disiplin pekerjaan dalam sebuah proyek. Melalui pendekatan ini, koordinasi antartim dapat dilakukan secara lebih terintegrasi, termasuk dalam proyek lintas negara dan zona waktu.

Salah satu contoh yang dipaparkan adalah proyek hunian Isleren di Aargau, Swiss, yang mencakup 17 gedung dengan total 270 apartemen, dengan dokumentasi konstruksi yang dikerjakan oleh tim Alex Ladda Architecture dari Bali.

Dalam konferensi tersebut, para pembicara juga membahas perkembangan pemanfaatan AI dalam proses desain arsitektur, termasuk bagaimana teknologi dapat mendukung produktivitas tanpa menghilangkan peran manusia dalam mengambil keputusan desain.

Sesi diskusi menghadirkan perspektif dari praktisi arsitektur, industri konstruksi, serta pengembang teknologi BIM mengenai pentingnya kolaborasi dan integrasi data dalam menghadapi kebutuhan proyek yang semakin kompleks.

Melalui IGNITE — BIM & AI Conference 2026, AppliCAD Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus mendorong pemahaman dan penerapan teknologi digital di industri Architecture, Engineering, and Construction (AEC).

Kehadiran AppliCAD Indonesia di Bali untuk tahun ketiga berturut-turut juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem industri arsitektur dan konstruksi yang semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Dengan mengusung tema “One Model. One Team. One Standard.”, IGNITE mengajak para pelaku industri AEC untuk mengadopsi cara kerja yang lebih terintegrasi, memanfaatkan AI secara tepat, serta memperkuat kolaborasi guna meningkatkan kualitas dan daya saing proyek di masa mendatang.

Tentang AppliCAD Indonesia

PT Indonesia AppliCAD (AppliCAD Indonesia) adalah penyedia solusi perangkat lunak dan perangkat keras rekayasa untuk industri arsitektur, konstruksi, manufaktur dan riset di Indonesia. Informasi lebih lanjut: applicadindonesia.com.

Tentang Graphisoft

Graphisoft adalah pengembang Archicad, perangkat lunak BIM untuk arsitektur, dan merupakan bagian dari Nemetschek Group. (ist)

Leave a Reply

Berikan Komentar