Naik Kelas Bukan Sekadar Formalitas: Menimbang Kembali Sistem Pendidikan
ISU RMS atau Rajin Malas Sama Saja, yang menggambarkan anggapan siswa yang rajin maupun kurang rajin tetap sama-sama naik kelas, menjadi bahan pembahasan dalam dunia pendidikan.
Persoalan ini berkaitan dengan bagaimana sekolah menilai kemampuan siswa dan menentukan apakah mereka sudah siap melanjutkan pembelajaran ke level berikutnya.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menyampaikan pemerintah sedang menyiapkan opsi untuk mengembalikan kebijakan tidak otomatis naik kelas mulai tahun ajaran 2027.
Usulan tersebut merupakan rekomendasi Dewan Pendidikan dan masih menjadi sebuah pertimbangan pemerintah. Abdul Mu’ti menyatakan Kemendikdasmen siap melaksanakan rekomendasi tersebut apabila disetujui.
Kebijakan ini menimbulkan berbagai pendapat. Sebagian pihak menilai bahwa siswa harus menguasai kemampuan akademik sebelum naik kelas, sedangkan pihak lain mengkhawatirkan dampaknya terhadap psikologis siswa.
Oleh karena itu, kebijakan tersebut perlu dikaji dari sisi positif maupun negatif agar tujuan pendidikan tetap tercapai.
Sisi Positif Kebijakan Tidak Otomatis Naik Kelas
Salah satu sisi positif kebijakan ini adalah memberikan perhatian lebih terhadap kemampuan akademik siswa.
Setiap jenjang pendidikan memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. Apabila siswa belum memahami materi dasar, mereka dapat mengalami kesulitan ketika mempelajari materi yang lebih kompleks di kelas berikutnya.
Sebagai contoh, siswa yang belum memahami operasi hitung dasar akan lebih sulit mempelajari materi matematika lanjutan. Jika siswa terus dinaikkan kelas tanpa memperoleh bantuan untuk mengatasi kesulitannya, ketertinggalan tersebut dapat semakin besar.
Dengan adanya evaluasi kenaikan kelas, sekolah diharapkan lebih memperhatikan penguasaan kompetensi siswa.
Selain itu, kebijakan ini dapat mendorong siswa untuk lebih bertanggung jawab terhadap proses belajarnya. Kenaikan kelas tidak hanya dipandang sebagai rutinitas setiap akhir tahun ajaran, tetapi juga sebagai tahap yang menunjukkan perkembangan kemampuan siswa.
Meskipun demikian, penilaian harus tetap mempertimbangkan usaha, perkembangan, dan kondisi setiap siswa, bukan hanya nilai akhir.
Sisi Negatif Kebijakan Tidak Otomatis Naik Kelas
Di sisi lain, kebijakan tidak otomatis naik kelas juga memiliki risiko. Salah satunya adalah tekanan psikologis yang mungkin dialami siswa. Siswa yang tidak naik kelas dapat merasa malu, kehilangan kepercayaan diri atau merasa dirinya kurang mampu dibandingkan teman-temannya.
Jika tidak mendapatkan dukungan dari keluarga dan sekolah, kondisi tersebut dapat mengurangi motivasi belajarnya.
Dampak lainnya adalah kemungkinan bertambahnya beban keluarga dan sekolah karena masa pendidikan siswa menjadi lebih panjang.
Siswa juga perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan pertemanan yang berbeda karena harus belajar bersama siswa dari angkatan berikutnya.
Selain itu, rendahnya pencapaian akademik tidak selalu disebabkan oleh kemalasan. Ada siswa yang sudah berusaha keras, tetapi masih mengalami kesulitan memahami materi.
Faktor lingkungan keluarga, keterbatasan fasilitas belajar, dan metode pembelajaran yang kurang sesuai juga dapat memengaruhi hasil belajar.
Oleh sebab itu, keputusan tidak naik kelas tidak boleh dilakukan secara sembarangan atau hanya berdasarkan anggapan siswa malas belajar.
Oleh: Panji Juliata Al Hadiy, Mahasiswa FKIP Universitas Dwijendra


Leave a Reply