Ketika Karya Kreatif Dinilai seperti Barang, IVENDO Soroti Perlindungan Profesi
DPP IVENDO menilai perlunya keselarasan standar penilaian terhadap pekerjaan kreatif, seiring munculnya kasus yang memicu diskusi di kalangan pelaku industri.
(Baliekbis.com), Belakangan ini, perhatian publik tertuju pada sebuah kasus yang melibatkan penilaian terhadap pekerjaan kreatif dalam suatu proyek, yang kemudian berujung pada proses hukum.
Isu ini memunculkan diskusi luas di kalangan pelaku industri kreatif dan event, serta menghadirkan pertanyaan mendasar ”Apakah karya kreatif dapat dinilai dengan pendekatan yang sama seperti barang atau pekerjaan administratif?”
IVENDO (Dewan Industri Event Indonesia) melihat dinamika ini menjadi refleksi penting bagi ekosistem industri kreatif di Indonesia.
Industri event dan kreatif memiliki karakteristik yang berbeda dengan sektor lainnya. Output yang dihasilkan tidak selalu berbentuk fisik, melainkan berbasis konsep, pengalaman, dan nilai kreatif yang tidak sepenuhnya dapat diukur secara administratif.
Dalam konteks tersebut, penilaian terhadap pekerjaan kreatif membutuhkan:
- Pemahaman terhadap proses dan standar industri
- Pendekatan yang relevan dan proporsional
- Serta keterlibatan perspektif ahli di bidangnya
Tanpa keselarasan tersebut, berpotensi terjadi:
- Perbedaan persepsi
- Ketidakpastian bagi pelaku usaha
- Salah dalam melakukan penilaian hasil kinerja
- Risiko terhadap keberlangsungan profesi di industri kreatif
IVENDO memandang hal ini bukan sekadar persoalan satu kejadian, melainkan momentum untuk memperkuat sistem secara lebih menyeluruh.
Oleh karena itu, IVENDO mendorong:
- Penguatan perlindungan profesi di industri event & kreatif
- Penyusunan standar penilaian pekerjaan kreatif yang relevan lintas sektor
- Keterlibatan ahli industri dalam proses evaluasi dan audit
IVENDO juga menyatakan kesiapan untuk berperan sebagai mitra pemerintah dalam membangun ekosistem industri yang lebih adaptif, adil dan berkelanjutan.
“Kami percaya bahwa akuntabilitas tetap dapat dijaga, namun perlu diimbangi dengan pemahaman yang tepat terhadap karakter industri kreatif,” ungkap Grace Jeanie, Wakil Ketua Umum Bidang Komunikasi, Program Strategis, dan Ekosistem Industri DPP IVENDO.
Hal ini bukan hanya tentang satu kasus, tetapi tentang bagaimana masa depan profesi di industri kreatif dapat terlindungi dan berkembang secara sehat.
Karya Kreatif bukan sekadar Hasil Akhir
Dia adalah Proses Panjang — Riset, Konsep dan Ide, Revisi, hingga ke Eksekusi yang tidak selalu terlihat, tapi sangat menentukan Kualitas.
Masalahnya, tidak semua Nilai itu bisa diukur secara kasat mata. Di sinilah kita mulai berbicara tentang Tangible vs Intangible sebuah Valuasi kreatif & output.
Dalam Industri Kreatif dan Event, yang terjual atau dibeli oleh klien bukan hanya iutput, tetapi bagaimana keseluruhan proses mulai dari ide konsep serta pelaksanaan hingga mendapat hasil akhir yang diinginkan bersama.
Dan di titik ini, kita masuk ke hal yang lebih besar: Nilai Ekonomi dan Valuasi sebuah Ide dan POV Penikmat.
Ketika pendekatan Penilaian Valuasi belum sepenuhnya selaras dengan karakter pekerjaan kreatif, maka yang muncul bukan hanya perbedaan persepsi tapi juga ketidakpastian bagi profesi. Lalu apalah arti dari sebuah sertifikasi profesi pada akhirnya.
Kami di IVENDO tidak berada pada posisi menilai suatu kasus yang sedang berjalan. Namun melihat ini sebagai momentum penting untuk Industri Kreatif Indonesia. Momentum ini, untuk kita bersama mendorong:
- Perlindungan Profesi dan Hasil Karya
- Standard Penilaian yang Relevan serta Pemahaman Lintas Sektor
- Penilaian atas hasil Ekonomi Kreatif yang terbentuk untuk banyak Pihak
- Sirkulasi Ekosistem Ekonomi Kreatif menjadi berkelanjutan
Peristiwa yang telah terjadi menjadi penting sebagai pembelajaran tentang bagaimana Industri Kreatif mendapatkan tempat dan dihargai ke depan. “Kami percaya teman-teman di Industri Kreatif pasti tahu apa yang harus didukung bersama,” ujarnya.
“Tender kalah, konsep dipake. Konsep dipake produksi dan item lain di-handle sendiri. Kalo tidak diedukasi sekarang kapan lagi? Peristiwa ini adalah momentum yg tepat agar public lebih aware,” tambahnya. (ist)

