Gubernur Koster dan Wagub Giri Prasta Resmi Buka Bulan Bung Karno VIII Tahun 2026

(Baliekbis.com), Pembukaan Bulan Bung Karno Tahun 2026 ditandai dengan pemukulan gamelan tradisional Bali, Bende, yang dihadiri langsung oleh Ida Shri Bhagawan Putra Nata Nawa Wangsa Pamayun, Ketua DPRD Bali Dewa Made Mahayadnya, Bupati dan Wakil Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa dan Bagus Alit Sucipta, Ny. Seniasih Giri Prasta, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Provinsi Bali, Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra, Bupati/Wali Kota se-Bali, Ketua DPRD Kabupaten/Kota se-Bali, kepala OPD di lingkungan Pemerintah Provinsi Bali, serta ribuan masyarakat Bali. Gubernur Bali, Wayan Koster, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Bulan Bung Karno Tahun 2026 yang mengusung tema “Kawya Atma Kerthi” dengan makna Meraya Jiwa Perjuangan Proklamator, dilaksanakan dalam suasana penuh semangat kebangsaan, kebudayaan, dan spiritualitas yang mendalam. Koster menjelaskan bahwa Bulan Bung Karno bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan momentum ideologis dan kultural untuk menghidupkan kembali api perjuangan Sang Proklamator dalam kesadaran kolektif masyarakat.

Menurut Koster, tema “Kawya Atma Kerthi” mengandung kedalaman filosofis yang luar biasa. “Kawya” merupakan ekspresi jiwa yang luhur, “Atma” adalah esensi kesadaran terdalam, dan “Kerthi” merupakan upaya penyucian serta pemuliaan. Tema ini mengajak masyarakat tidak hanya mengenang Bung Karno sebagai tokoh sejarah, tetapi juga menghadirkan kembali jiwa perjuangannya sebagai energi hidup dalam pikiran, sikap, dan tindakan sehari-hari. Koster menegaskan, Bali merupakan provinsi yang konsisten menyelenggarakan Bulan Bung Karno sebagai ruang batin untuk merawat ingatan kolektif bangsa. “Bung Karno tidak hanya mewariskan kemerdekaan, tetapi juga mewariskan jiwa-jiwa yang berani bermimpi besar, berpikir melampaui zamannya, dan bertindak demi kepentingan rakyat,” kata Koster.

Ia menambahkan, sejarah mencatat jalan perjuangan Bung Karno ditempa oleh tekanan, penjara, dan pengasingan. Namun, justru dari keterbatasan itulah lahir gagasan besar tentang Indonesia merdeka, yakni bangsa yang berdaulat, berdikari, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Bung Karno juga menaruh perhatian dan kekaguman yang mendalam terhadap Bali. Beliau memandang Bali sebagai ruang hidup kebudayaan yang utuh, tempat nilai spiritual, tradisi, dan kehidupan sosial berpadu secara harmonis. Koster menjelaskan bahwa dalam pandangan Bung Karno, Bali mencerminkan kekuatan jati diri bangsa, di mana warisan leluhur tetap terjaga sekaligus mampu berjalan seiring dengan perkembangan zaman.

“Pandangan tersebut menjadi pengingat bagi kita semua bahwa Bali tidak hanya harus maju, tetapi juga harus tetap teguh menjaga identitas dan nilai-nilai luhurnya sebagai bagian dari kepribadian Bangsa Indonesia,” ujar Koster. Bagi Bali, lanjutnya, Bung Karno bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan sumber inspirasi yang hidup dalam kesadaran masyarakat. Nilai-nilai yang diwariskannya terus bertransformasi dalam pembangunan Bali yang berakar pada kearifan lokal dan berorientasi pada masa depan. Melalui Bulan Bung Karno, masyarakat tidak sekadar mengenang, tetapi juga menghidupkan kembali api perjuangan tersebut dalam tindakan nyata.

Dengan semangat yang diusung, peringatan tahun ini mengajak seluruh masyarakat Bali menjadikan perjuangan Bung Karno sebagai kesadaran hidup, sebagai energi yang menggerakkan pikiran, membentuk karakter, dan menuntun arah pembangunan. Koster menambahkan bahwa semangat tersebut sejalan dengan visi pembangunan Bali, yakni Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru. Visi ini mengandung makna menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya untuk mewujudkan kehidupan Krama Bali yang sejahtera dan bahagia secara niskala dan sakala.

“Visi ini berakar dari kearifan lokal Sad Kerthi yang mengandung enam sumber utama kesejahteraan dan kebahagiaan sejati, yaitu Atma Kerthi, Segara Kerthi, Danu Kerthi, Wana Kerthi, Jana Kerthi, dan Jagat Kerthi,” jelasnya. Berpijak pada nilai-nilai tersebut, Koster menegaskan bahwa masyarakat harus memperkuat komitmen dalam menata kehidupan Bali dengan kesadaran yang utuh. Dengan semangat itu, Bali tidak hanya akan bertahan, tetapi juga terus bertumbuh sebagai pusat kebudayaan yang berakar kuat sekaligus memberi makna bagi dunia.

“Dalam kesadaran inilah, kita melangkah bersama, merawat kesinambungan warisan leluhur serta meneguhkan arah masa depan Bali yang ajeg, berdaulat, dan bermartabat,” tambahnya. Pada momentum Bulan Bung Karno ini, Koster mengajak seluruh masyarakat Bali, terutama generasi muda, untuk terus bertumbuh dengan memperkuat kapasitas diri, memperluas wawasan, serta membangun karakter yang tangguh dan berdaya saing. Menurutnya, masa depan Bali sangat ditentukan oleh kualitas manusianya hari ini.

Ia juga menekankan bahwa tata kehidupan masyarakat Bali harus terus ditopang oleh nilai-nilai kearifan lokal yang telah mengakar kuat sebagai jati diri. Kebersamaan, rasa saling menghormati, dan keselarasan dalam bertindak bukan sekadar simbol budaya, melainkan fondasi sosial yang menjaga keutuhan dan kekuatan Bali. “Dalam dinamika zaman yang terus bergerak, kita tidak boleh kehilangan roh kebersamaan. Semangat bekerja bersama, saling menguatkan, dan berbagi tanggung jawab harus tetap menjadi jalan utama dalam setiap upaya pembangunan. Di sanalah terletak kekuatan kolektif yang menjadikan Bali tetap kokoh dan bermartabat. Dengan keteguhan, keikhlasan, dan komitmen yang berkelanjutan, kita akan mampu memastikan bahwa Bali tidak hanya berkembang, tetapi juga tetap ajeg dalam nilai dan jati dirinya. Inilah bentuk pengabdian kita dalam menjaga kesinambungan peradaban Bali demi Nindihin Gumi Bali,” pungkas Gubernur Bali asal Desa Sembiran, Buleleng tersebut. Perayaan Bulan Bung Karno Tahun 2026 turut dimeriahkan oleh sejumlah seniman, artis, dan grup musik lokal Bali, seperti Leeyonk Sinatra, Lolot, Bagus Wirata, serta kolaborasi Naluri Manca x Sine x Bali Extreme Drummer. (pem)

Leave a Reply

Berikan Komentar