BLC Berkolaborasi dengan Yayasan Kehati Lakukan Bioprospeksi Bambu Tabah

(Baliekbis.com), Indonesia memiliki sekitar 180 jenis bambu yang tersebar di berbagai daerah, termasuk Bali. Salah satu jenis yang dinilai memiliki potensi besar adalah bambu tabah (Gigantochloa nigrociliata Kurz), yang banyak tumbuh di wilayah Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali.

Ketua Bamboo Learning Center (BLC) Dr. Diah Kencana yang telah lebih dari 35 tahun menekuni dunia bambu, mengatakan bambu tabah merupakan salah satu jenis bambu yang sangat istimewa.

Menurut mantan dosen pertanian Universitas Udayana tersebut, bambu tidak hanya memiliki nilai ekologis sebagai tanaman konservasi tanah dan air, tetapi juga menyimpan potensi ekonomi, sosial, budaya, dan ilmiah yang besar.

Berbagai bagian tanaman bambu, mulai dari rebung, batang, daun hingga akar, dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan, obat tradisional, biomaterial, bioenergi, biochar, karbon aktif, pupuk organik, hingga bahan baku industri hijau.

Namun, sebagian besar potensi tersebut hingga kini belum terdokumentasi secara ilmiah dan belum dimanfaatkan secara optimal.

“Informasi mengenai keragaman genetik, kandungan senyawa bioaktif, pemanfaatan tradisional, teknologi budidaya, serta rantai nilai bambu juga masih terbatas,” ungkap Dr. Diah, Jumat (11/9) di Denpasar.

Merespons kondisi tersebut, periset bambu tabah asal Blahbatuh ini mendirikan Bamboo Learning Center (BLC) sekitar setahun lalu dengan menggandeng sejumlah ahli dari berbagai bidang.

BLC kemudian mengembangkan Program BIOPROSPEKSI Bambu Tabah sebagai upaya untuk menggali, mendokumentasikan, dan mengembangkan potensi bambu tabah secara lebih sistematis.

Program BIOPROSPEKSI

Bambu Tabah memiliki sepuluh tujuan. Yakni menginventarisasi sebaran bambu tabah di wilayah Pupuan, Tabanan; mendokumentasikan pengetahuan lokal mengenai pemanfaatannya; mengidentifikasi potensi ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan; melakukan karakterisasi morfologi dan ekologi serta koleksi herbarium; melakukan analisis laboratorium terhadap kandungan fitokimia dan senyawa bioaktif bambu tabah; mengembangkan basis data bioprospeksi berbasis digital; menyusun rekomendasi konservasi, budidaya, dan pengelolaan sumber daya bambu tabah; mendorong pengembangan produk inovasi dan hilirisasi penelitian; mendukung peningkatan pendapatan masyarakat; serta mendukung pencapaian pembangunan rendah karbon dan ekonomi hijau.

Menurut Dr. Diah Kencana, pelaksanaan program BIOPROSPEKSI diharapkan memberikan manfaat luas, antara lain mendukung konservasi keanekaragaman hayati dan menjadi dasar pengembangan industri bambu nasional.

Program ini diharapkan juga meningkatkan perekonomian masyarakat, membangun kolaborasi antara pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan, serta menjadi referensi ilmiah dalam pengembangan kebijakan pengelolaan bambu.

Ir. Nyoman Baskara,M.M. Bidang Komunikasi Publik dan Kerja Sama Kelembagaan BLC
berharap pemerintah memberikan perhatian dan dukungan terhadap pengembangan program tersebut.

Gerakan budidaya bambu di Bali, menurutnya, membutuhkan dukungan dan keterlibatan dunia kampus di berbagai level serta para pemangku kepentingan yang memiliki kepedulian terhadap perbaikan kualitas lingkungan.

Bambu bukan hanya tanaman yang memiliki nilai ekonomi, tetapi juga bagian penting dari upaya konservasi dan pembangunan berkelanjutan.

“Karena itu, diperlukan kolaborasi antara masyarakat, akademisi, pemerintah, dan berbagai pihak untuk mengoptimalkan potensinya. Let’s save Bali,” ujar Baskara yang juga Field Manager BLC seraya menjelaskan BLC juga berkolaborasi dengan Yayasan Kehati. (ist)