Bali Paling Siap Jadi Pusat Keuangan Global, Ngurah Ambara: Perlu Penguatan Kompetensi Krama Bali
(Baliekbis.com),Mantan Anggota DPD RI I Gede Ngurah Ambara Putra menekankan pentingnya peningkatan kompetensi krama Bali agar mampu bersaing dan menjadi pemain utama.
Hal itu terkait pengesahan UU Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) yang mana akan membuka peluang Bali menjadi pusat keuangan global. PFII ini bertujuan untuk menarik investasi global, memperdalam pasar keuangan, serta menjadikan Indonesia sebagai hub keuangan regional.
Pemerintah menetapkan Bali bersama Jakarta sebagai lokasi strategis dan paling siap untuk pengembangan kawasan ekosistem pusat finansial global.
“Jadi melihat potensi itu, kita juga harus siapkan SDM yang mumpuni agar bisa memanfaatkan peluang tersebut,” tambah Ngurah Ambara saat diminta komentarnya, Minggu (2/8) di kediamannya Jalan Kenyeri Denpasar.
Sebagai seorang pengusaha, Ngurah Ambara bisa memaklumi adanya kekhawatiran masyarakat (lokal) akan risiko tersingkir dari persaingan.
Namun Ketua Satria Gerindra Bali tersebut menegaskan bahwa investor global berpatokan pada standar profesionalisme dan keahlian, bukan asal-usul daerah.
“Jadi yang penting bagaimana kita bisa menyiapkan SDM yang kompeten termasuk penguasaan bahasa asing (Inggris). Ini sebenarnya potensi sekaligus peluang yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat mengingat Bali tidak memiliki sumber daya alam,” tambah Ngurah Ambara.
Ngurah Ambara melihat dari sisi peluang tenaga kerja lokal, investor global akan lebih memilih talenta lokal yang kompeten seperti ahli hukum bisnis internasional, perbankan, dan fintech. Karena akan jauh lebih efisien dibandingkan mempekerjakan ekspatriat yang berbiaya tinggi.
Perlunya reformasi pendidikan dimana ekosistem perguruan tinggi dan sekolah kejuruan (SMK) perlu didorong segera memperbarui kurikulum agar selaras dengan kebutuhan industri keuangan internasional.
Juga menyangkut harmoni budaya dan modernitas dimana nilai adat dan prinsip Tri Hita Karana jangan dianggap sebagai penghalang, melainkan sebuah daya tarik unik bagi para investor global yang mencari keseimbangan hidup.
Untuk itu Ngurah Ambara mengajak masyarakat Bali menyambut modernitas ini dengan meningkatkan kapasitas diri dan penguasaan bahasa asing tanpa meninggalkan akar budaya lokal.
Ngurah Ambara mengatakan standar pengupahan sangat ditentukan oleh kompetensi, bukan asal-usul daerah.
“Hukum ekonominya sangat sederhana. Jika anak-anak Bali memiliki keahlian yang relevan dan mumpuni seperti penguasaan hukum bisnis internasional, perbankan internasional, hingga teknologi finansial maka investor global akan jauh lebih memilih dan bisa menggaji tinggi krama Bali. Hal ini tentu akan berdampak positif bagi peningkatan kesejahteraan,” ujarnya.
Menurutnya, mempekerjakan talenta lokal yang cerdas dan kompeten serta memahami budaya setempat jauh lebih efisien bagi investor global dibandingkan mendatangkan ekspatriat berbiaya mahal.
“Mari sambut modernitas ini dengan meningkatkan kapasitas diri, penguasaan bahasa asing, dan pemahaman finansial global, tanpa pernah melepaskan akar Tri Hita Karana. Kita siap menjadi tuan rumah yang elegan dan kompeten,” pungkasnya. (ist)


Leave a Reply