7-8 Agustus, Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 untuk ke-13 Kalinya Kembali Digelar

(Baliekbis.com), STHALA Ubud Village Jazz Festival (UVJF) 2026 yang telah mendapat pengakuan luas akan kembali digelar pada 7–8 Agustus 2026 di STHALA Ubud Bali, A Tribute Portfolio Hotel yang menghadirkan pertunjukan jazz kelas dunia.

Didirikan pada tahun 2013, Ubud Village Jazz Festival merupakan festival jazz internasional tahunan di Bali yang merayakan keunggulan musikal, keberagaman budaya dan kolaborasi artistik. Memasuki penyelenggaraan ke-13, Ubud Village Jazz Festival semakin memperkuat reputasinya sebagai salah satu festival jazz paling bergengsi di Asia Tenggara, mempertemukan musisi ternama dunia, talenta-talenta baru, serta pecinta musik dari berbagai negara.

UVJF 2026 menghadirkan jajaran musisi yang mewakili jazz kontemporer, straight-ahead jazz, tradisi big band, pengaruh world music, hingga kolaborasi lintas budaya yang inovatif.

Pong Nakornchai Ensemble mempertemukan empat suara musik yang berbeda dari Thailand, Indonesia, dan Amerika Serikat dalam sebuah proyek jazz kontemporer yang berpusat pada komposisi pemain saksofon sopran Joe Rosenberg. Berakar pada improvisasi kolektif dan interaksi ensambel yang peka, musik mereka berkembang sebagai narasi berkelanjutan di mana melodi, ritme, tekstur, dan keheningan memiliki peran yang sama penting.

Proyek ini turut melibatkan Indra Gupta (bass) dan Michael Ananda (gitar). Koko Harsoe, gitaris ternama Indonesia, akan tampil bersama SAN Trio, trio jazz fusion asal Bali yang terdiri dari Savio (piano), Amos (kontrabas), dan Nara (drum).

Dengan latar belakang musik yang beragam, mereka mengeksplorasi jazz modern melalui improvisasi,
interaksi, dan ekspresi orisinal. Dipimpin gitaris Belanda Jadi Peperzak, kuartet internasional ini mempertemukan pianis Indonesia Kasyfi Kalyasyena, bassist Nepal Sulav Maharjan, dan drummer Belanda Rafael Slors dalam proyek jazz kontemporer yang kaya akan komposisi liris, harmoni yang mendalam, dan improvisasi kolektif. Proyek ini didukung oleh Erasmus Huis Jakarta.

H ZETTRIO menghadirkan warna unik dalam musik instrumental Jepang kontemporer. Dikenal melalui ciri khas hidung berwarna mereka—biru untuk H ZETT M (piano), merah untuk H ZETT NIRE (bass), dan perak untuk H ZETT KOU (drum)—trio ini terkenal dengan dialog musikal yang enerjik, permainan piano yang memukau, groove yang kuat, serta presisi ritmis yang tinggi.

Watchdog dari Prancis menampilkan Anne Quillier pada berbagai instrumen keyboard dan Pierre Horckmans pada klarinet. Musik mereka memadukan komposisi dan improvisasi dengan perhatian besar pada tekstur dan lanskap suara. Penampilan ini didukung oleh AJC (Association Jazzé Croisé) dan Institut Français Indonésie. Simone Prattico Java Collective mempertemukan drummer dan komposer Italia Simone Prattico dengan musisi jazz Indonesia Sri Hanuraga (piano) dan Kevin Yosua (bass).

Musik mereka menggabungkan pengaruh Mediterania, nuansa Jawa, dan improvisasi jazz kontemporer dalam format trio yang dinamis. Straight and Stretch Quartet, yang dipimpin oleh Yuri Mahatma (gitar) dan Astrid Sulaiman (piano), menghadirkan interpretasi unik jazz dalam spektrum yang luas. Dikenal melalui penampilannya di berbagai festival besar di Indonesia, Eropa, dan Australia, kuartet ini memadukan kecanggihan jazz dengan semangat keterbukaan.

Pada kesempatan ini mereka akan berkolaborasi dengan trombonis Jepang Masahiko Kitahara, vokalis jazz Indonesia Dian Pratiwi, serta penyanyi dan penulis lagu asal Singapura Glen Wee yang akan membawakan karya-karya dari album debutnya Sounds in the City yang dirilis oleh Warner Music Singapore.

Salamander Big Band, salah satu orkestra jazz independen terlama di Indonesia, merayakan hampir dua dekade perjalanan musiknya melalui formasi sekitar 27 musisi yang membawakan
repertoar swing klasik, karya big band kontemporer, serta aransemen orisinal.

Strings Corner Project menawarkan dialog musikal yang memadukan ekspresi flamenco, improvisasi jazz, dan ritme Nusantara. Dipimpin oleh gitaris Adien Fazmail dan Icang Rahimy, kelompok ini menghadirkan pertunjukan yang kaya akan interaksi melodi dan
eksplorasi ritmis.

Dengan suara yang hangat dan ekspresif, Dattie Do memadukan tradisi jazz dengan karya-karya personal yang sarat cerita. Bersama gitaris Hoang Tung dari Hanoi, Vietnam, serta musisi Indonesia Warman Sanjaya dan Sinuksma, mereka menghadirkan kolaborasi lintas budaya yang dibentuk oleh improvisasi, ritme, dan dialog musikal.

Imelda Rosalin, vokalis, pianis, dan penulis lagu jazz Indonesia asal Jawa Barat yang dikenal melalui musikalitasnya yang matang serta akar yang kuat dalam musik klasik dan jazz, akan tampil bersama kuintetnya.

Legenda jazz Bali Dodot akan membawakan karya-karya orisinalnya bersama Wisnu Priambodo (drum) dan Helmy Agustrian (bass). Festival ini juga menghadirkan talenta-talenta baru dalam skena jazz Bali seperti LaDju dan Michael Ananda Trio.

Sebagai bagian dari komitmen UVJF dalam mendukung regenerasi musisi jazz Indonesia melalui semangat preservation of Jazzistry, tahun ini festival juga menampilkan Rason Trio serta JZ.KA Trio, yang menampilkan para musisi muda berbakat Indonesia.

Lebih dari Sekadar Festival Musik

Selain pertunjukan musik, UVJF 2026 terus berkomitmen mendukung pertukaran artistik, dialog budaya, dan perkembangan jazz di Indonesia maupun kawasan regional. Festival ini menjadi ruang pertemuan bagi musisi dan penonton untuk terhubung melalui apresiasi bersama terhadap kreativitas, keberagaman, dan bahasa universal musik.

Dalam jumpa pers, Kamis (30/7) di Sanur terkait persiapan UVJF 2026 hadir pembicara Lasta Arimbawa (GM Sthala), Diana Surya (UVJF Committee), Devy Ferdianto (Salamander Big Band), Simone Prattico (Simone Prattico Java Collective), Anom Darsana (Co-founder UVJF) dan Yuri Mahatma (Co-founder UVJF).

Menurut Simone Prattico, ini kedua kalinya ia tampil di festival ini. Pengalaman pertamanya di festival ini menjadi sesuatu yang sangat berarti, terutama dari sisi artistik. Ia benar-benar merasakan atmosfer festival ini dan ada sesuatu yang sangat penting secara artistik yang terjadi di sini.

Menurutnya Bali dan Indonesia memiliki banyak talenta musik dan seni yang luar biasa. “Itulah alasan mengapa saya benar-benar ingin kembali ke sini. Ini kali ketiga saya tampil di Indonesia. Kali ini saya akan membawa sebuah proyek kolaborasi bersama dua musisi Indonesia yang mungkin sudah dikenal yaitu Kris Harinaga di piano dan Kevin Yosua di bass. Keduanya adalah musisi yang luar biasa,” jelasnya.

Festival seperti ini sangat penting untuk memperkenalkan sekaligus mengembangkan potensi tersebut. Dunia musik dan seni di Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk terus bertumbuh dan berkembang.

Ia melihat ada sesuatu yang membuat Ubud Village Jazz Festival begitu istimewa, kualitas para musisi di sini sangat luar biasa. Ada begitu banyak pemain musik yang hebat. Tetapi yang paling mengesankan adalah alasan mengapa orang-orang di sini bermusik. Semuanya terasa sangat autentik. Para musisi dan seniman di sini berkarya karena mereka benar-benar memiliki kebutuhan untuk berkarya. Mereka digerakkan oleh sesuatu yang sangat jujur.

Devy Ferdianto (Salamander Big Band) mengaku tampil untuk yang ketiga kalinya di Ubud Village Jazz Festival yaitu tahun 2016, 2021 dan ini yang ketiga. Dan itu selalu menjadi kerinduan untuk tampil pada event yang sangat besar ini. Ubud Village Jazz Festival yang masih paling murni menampilkan musisi-musisi jazz.

Sementara itu Lasta Arimbawa (GM Sthala) menjelaskan Sthala Ubud terus konsisten mendukung Ubud Village Jazz Festival. “Spirit kami di Marriott, khususnya di Sthala Ubud, adalah hospitality bukan hanya soal menyediakan akomodasi. Hospitality juga berarti membangun kolaborasi dengan komunitas lokal, merayakan keberagaman budaya, serta mendukung produk-produk UMKM dan berbagai inisiatif kreatif di sekitar kami”.

Ia berharap Ubud Village Jazz Festival tahun ini kembali menjadi perayaan musik yang berkesan sekaligus membawa dampak positif bagi pariwisata dan komunitas kreatif di Ubud.

Diana Surya (UVJF Committee) mengaku sudah bergabung dengan Ubud Village Jazz Festival sejak tahun 2014. Yang membuatnya senang adalah bagaimana festival ini memberikan perhatian yang sama besarnya terhadap venue seperti halnya kepada para musisi yang tampil. Menurutnya venue bukan sekadar tempat pertunjukan, tetapi bagian dari pengalaman festival itu sendiri.

Devy Ferdianto dari Salamander Big Band
menceritakan awal ketertarikannya pada format big band berawal dari sebuah siaran radio pada tahun 1988. Ia mendengar lagu Beatle Blues yang dibawakan oleh Diana Shore bersama Count Basie Orchestra di Radio KZBS. Dari situlah ia pertama kali mengenal big band dan sejak saat itu jatuh cinta pada format musik ini.
Karena itu, ia selalu memilih tampil di festival yang benar-benar menghargai musik jazz. Dan itulah yang kami temukan di Ubud Village Jazz Festival.

Yuri Mahatma (Co-founder UVJF) melihat dukungan negara begitu besar, seperti di Ubud Village Jazz Festival tahun ini, Simon Trpčeski mendapat dukungan dari negaranya, Jade & Paperstock hadir melalui dukungan dari Pemerintah Belanda, ada Watchdog dari Prancis, dan masih banyak lagi musisi internasional yang kehadirannya dimungkinkan berkat dukungan institusi budaya di negara masing-masing.

Di akhir jumpa pers, Anom Darsana (Co-founder UVJF) menyampaikan selama bertahun-tahun, ada banyak pihak yang terus mendukung Ubud Village Jazz Festival. “Kalau hari ini festival ini tetap bisa berdiri, itu bukan semata-mata karena kerja panitia. Ini terjadi karena begitu banyak orang yang percaya pada festival ini,” ujarnya. (ist)

Leave a Reply

Berikan Komentar