Puspa Negara: Dijual Murah Untuk Turis, Bali Hanya Dapat Ampas

(Baliekbis.com), Bali dijual murah di Tiongkok sebenarnya sudah terjadi sejak lama yakni tahun 2000 hingga kini dan terus semakin murah. “Ini harus dihentikan, karena jelas mendegradasi arah pengembangan kepariwisataan Bali yang berkualitas dan berkelanjutan. Tidak asing bagi pelaku wisata apalagi di lingkungan para guide/pramuwisata dengan istilah jual beli kepala murah untuk wisman Tiongkok sudah sejak lama. Namun nyaris tak ada kebijakan apapun yang menghentikannya,” jelas Pemerhati/Praktisi Pariwisata Wayan Puspa Negara,S.P., MSi., Rabu (17/10) di Kuta.

Yang pasti tambah Puspa Negara, di tengah-tengah tumbuhnya kunjungan wisman Tiongkok yang melampaui pertumbuhan wisman Australia telah diikuti oleh banyak persoalan. Di antaranya guide asing (Cina) ilegal yang tumbuh masif di Bali dan nyaris tanpa terdeteksi. Faktanya Bali kekurangan ribuan guide berbahasa Mandarin, justru hal ini dimanfaatkan oleh mereka. Rendahnya daya beli (expenditure) wisman Tiongkok yang cenderung datang bergrup ini membuat mereka diarahkan pada lokasi-lokasi aktivitas wisata dan belanja yang murah, seperti rate hotel tertekan rendah (daripada tidak terisi), restoran, toko oleh-oleh, dan objek yang dikelola oleh orang Tiongkok atau pemilik biro perjalanan wisata Tiongkok). Jadi umumnya peredaran uang hanya singgah di Bali tetapi kembali ke Tiongkok. Menurut mantan Anggota DPRD Badung yang kini kembali nyaleg dari Partai Golkar Badung dengan nomor urut 2 ini, memang tidak semua wisman Tiongkok murah, ada juga yang non group/ FIT (Free Independent Tourist) yang berkelas datang ke Bali.

Namun secara general, umumnya mereka datang dalam grup dan grup-grup inilah yang membeli paket wisata Bali murah meriah. Masalahnya adalah BPW (Biro Perjalanan Wisata) ini sepertinya bisa melakukan sales mission yang mampu menekan harga kepada partnernya dalam hal ini akomodasi dan sarana pariwisata lainya. Akibatnya daripada tidak ada traffic/figure, jadilah mereka terima rate rendah ini seperti yang umum terjadi di objek wisata bahari yang menjadi salah satu kegemaran wisman Tiongkok dan sarana pariwisata lainnya pada musim low season. “Jadi adanya kondisi ini harusnya pemerintah daerah segera mengambil langkah-langkah strategis dengan mengumpulkan semua agen dan biro perjalanan wisata yang beroperasi di Bali termasuk Konsulat Tiongkok, Demikian juga sarana dan prasarana pariwisata lainnya yang selama ini menerima wisman Tiongkok untuk dilakukan konsolidasi, evaluasi dan pembinaan hingga tindakan hukum sesuai peraturan perundang undangan yang berlaku.
Menurut Puspa Negara, kalau ini dibiarkan terus, maka akan membuat pariwisata Bali turun kelas dan sulit untuk tumbuh berkualitas. (bas)