Ngurah Wijaya Tuangkan Kisah Hidup dalam Buku Menembus Horizon dan World Solo Ride: Dari Bali, Membawa Merah Putih dengan Motor Menjelajah Dunia

(Baliekbis.com), Petualangan Ida Bagus Ngurah Wijaya menjelajahi puluhan negara dengan sepeda motor berpelat nomor DK sambil membawa Bendera Merah Putih kini dituangkan dalam dua buku berjudul “Menembus Horizon” dan “World Solo Ride”. Kedua buku tersebut akan diluncurkan pada Jumat (11/9) sore di Istana Taman Jepun, Denpasar.

Peluncuran dua buku ini menjadi penanda perjalanan panjang Ngurah Wijaya, baik dalam kehidupan pribadi, dunia hospitality dan pariwisata Bali, maupun petualangannya mengendarai sepeda motor berpelat DK melintasi berbagai negara membawa Bendera Merah Putih.

“Perjalanan dengan motor ini bisa lancar karena motivasi, keberanian dan persiapan yang baik. Itu modal utamanya. Memang perlu biaya (uang). Tapi apa manfaatnya uang banyak kalau tak digunakan dengan baik,” ungkap Ngurah Wijaya, Kamis (10/9), di tengah persiapan peluncuran kedua bukunya.

Ngurah Wijaya memulai petualangan dengan sepeda motor pada usia 69 tahun. Awalnya di Indonesia. Namun setelah itu ia memulai perjalanan ke luar negeri di usianya telah memasuki 73 tahun. Tidak tanggung-tanggung ia menjelajahi 79 negara di berbagai benua dengan menempuh jarak 190 ribu kilometer.

Perjalanan tunggal tersebut tentu tidak selalu berjalan mulus. Berbagai tantangan dihadapi, mulai dari ban pecah, kehabisan bahan bakar hingga gangguan di jalan. Namun, seluruh pengalaman tersebut mampu dilalui dengan tabah oleh ayah tiga anak ini. Untuk perjalanan panjang yang dimulainya pada usia 69 tahun, Ngurah Wijaya bahkan menyiapkan tiga jenis sepeda motor yang disesuaikan dengan medan, jarak tempuh dan musim yang dihadapi.

Ida Bagus Ngurah Wijaya merupakan generasi kedua di balik perjalanan Segara Village Hotel, salah satu hotel keluarga yang telah menjadi bagian dari perkembangan pariwisata Sanur dan Bali selama puluhan tahun. Perjalanannya di dunia hospitality tidak hanya dibentuk di Bali.

Sejak muda, ia menempuh pendidikan dan memperoleh pengalaman di luar negeri, mulai dari Prancis hingga Swiss, dengan mempelajari bahasa, perhotelan dan pariwisata serta mendapatkan pengalaman langsung di industri hospitality Eropa.

Setelah kembali ke Bali, Ngurah Wijaya melanjutkan sekaligus mengembangkan usaha keluarga, termasuk Segara Village Hotel Sanur. Dari hotel keluarga dengan skala relatif kecil, ia memperkuat pengelolaan usaha secara lebih profesional dan sistematis dengan tetap mempertahankan karakter, budaya dan nilai kekeluargaan Bali sebagai akar Segara Village.

Kiprahnya kemudian berkembang melampaui dunia perhotelan. Ngurah Wijaya menjadi salah satu figur yang aktif dalam perkembangan dan promosi pariwisata Bali, termasuk melalui keterlibatannya dalam Bali Tourism Board (BTB), yang berdiri pada 2000 sebagai wadah kolaborasi berbagai asosiasi pariwisata Bali. Sebagai Chairman Bali Tourism Board, ia turut mendorong kolaborasi antara industri, pemerintah, masyarakat dan media dalam membangun serta mempromosikan Bali sebagai destinasi internasional. Selain jabatan di dunia pariwisata, Ida Bagus Ngurah Wijaya juga tercatat sebagai Konsul Kehormatan (Honorary Consul) untuk Swedia dan Finlandia di Bali.

Perannya semakin penting ketika pariwisata Bali menghadapi masa-masa sulit, khususnya setelah Bom Bali I dan II. Di tengah menurunnya kepercayaan wisatawan internasional, Ngurah Wijaya aktif berkomunikasi dengan media nasional maupun internasional dan ikut menyampaikan pesan bahwa Bali memiliki kekuatan untuk bangkit. Kedekatannya dengan media membuatnya dikenal sebagai salah satu figur yang mendapat perhatian besar dari media atau “media darling” pariwisata Bali.

Namun, perjalanan Ngurah Wijaya tidak berhenti ketika memasuki masa pensiun. Semangat eksplorasinya justru membawanya memasuki babak baru dalam kehidupan. Pada usia 69 tahun, ia melakukan perjalanan sepeda motor mengelilingi Indonesia. Memasuki usia 73 tahun, petualangannya telah membawanya melintasi berbagai belahan dunia, termasuk gurun Namibia, jalan-jalan ekstrem di Norwegia, serta berbagai perjalanan lintas negara dan benua.

Dua Buku, Dua Sisi Perjalanan Hidup

Menembus Horizon membawa pembaca mengenal IB Ngurah Wijaya dari sisi yang lebih personal. Buku ini merekam perjalanan lintas generasi keluarganya, masa kecil, pendidikan, pengalaman di luar negeri, perjalanan di dunia perhotelan dan pariwisata, persahabatan, kehidupan sebagai Konsul Kehormatan hingga berbagai peristiwa yang membentuk dirinya.

Buku tersebut juga menyimpan potongan sejarah mengenai Sanur, Segara Village Hotel serta perkembangan pariwisata Bali yang dilihat melalui perjalanan pribadi dan keluarganya. Lebih dari sekadar biografi, Menembus Horizon berbicara tentang keluarga, keberanian, persahabatan, perubahan zaman dan legacy yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sementara itu, World Solo Ride: Dari Bali, Membawa Merah Putih Menjelajah Dunia memperlihatkan sisi lain Ngurah Wijaya sebagai seorang petualang yang memilih untuk terus bergerak dan menjelajah dunia, bahkan ketika banyak orang seusianya mulai menikmati masa pensiun.

Hal yang membuat perjalanan tersebut istimewa adalah pilihannya menjelajahi berbagai negara dengan sepeda motor sendiri yang tetap menggunakan pelat nomor DK dari Bali. Dalam setiap perjalanan, ia juga membawa Bendera Merah Putih sebagai simbol identitas Indonesia.

Dari Bali, perjalanan tersebut membawanya melintasi berbagai negara, medan, budaya dan kondisi yang berbeda, mulai dari panasnya gurun Namibia hingga jalan-jalan menantang di Norwegia. Setelah terlebih dahulu mengelilingi Indonesia pada usia 69 tahun, memasuki usia 73 tahun semangat petualangannya justru membawanya semakin jauh menjelajahi dunia.

World Solo Ride bukan sekadar catatan mengenai sepeda motor, rute atau jarak yang ditempuh. Di balik setiap perjalanan terdapat cerita tentang keberanian, ketahanan, kebebasan, pertemuan dengan orang-orang dari berbagai budaya serta kemampuan menghadapi berbagai situasi tak terduga seorang diri di negeri asing.

Ada kebanggaan tersendiri dalam setiap kilometer perjalanan tersebut, ketika seorang rider asal Bali mengendarai sepeda motor berpelat DK sambil membawa Merah Putih melintasi jalan-jalan dunia.

Pada akhirnya, World Solo Ride menjadi refleksi atas keyakinan sederhana Ngurah Wijaya bahwa usia bukan alasan untuk berhenti belajar, bergerak dan menjelajah. Dua buku tersebut sekaligus menjadi dokumentasi perjalanan hidup seorang putra Bali yang tidak hanya menyaksikan perubahan zaman, tetapi juga mengambil bagian di dalamnya dan terus mencari horizon baru dalam setiap fase kehidupannya. (ist)