Transisi Energi Pacsa Pandemi Diperlukan Untuk Mewujudkan Ketahanan Energi Nasional

(Baliekbis.com), Tenaga Ahli Bidang Energi Kantor Staff Presiden, Ahmad Agus Setiawan, S.T., M.Sc., Ph.D., menyampaikan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) perlu lebih difokuskan kembali terlebih di masa pandemi Covid-19. Menurutnya, pandemi ini menjadi pengingat bagi pemerintah untuk fokus kepada transisi energi, agar Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada kondisi pasar terhadap energi fosil.

Dia mengatakan bahwa diversifikasi pasokan energi menjadi kunci untuk memastikan ketahanan dan kemandirian energi. Apabila terjadi disrupsi besar pada komoditas energi fosil, dampak bagi industri energi dan ketahanan energi Indonesia dapat diminimalisasi.

“Dengan begitu Indonesia tidak lagi bergantung pada kondisi pasar dan juga tidak terpengaruh mekanisme harga dari energi fosil. Karenanya diperlukan sinergi berbagai pihak baik dari aspek teknis maupun politis dalam mempersiapkan hal tersebut,” kata dosen Teknik Fisika UGM ini dalam Webinar Energi #2 dengan tema Transisi Energi Pasca Pandemi dalam Bidang EBT yang diselenggarakan Dewan Energi Mahaisswa (DEM) UGM pada Sabtu tanggal 18 Juli 2020.

Dia menyebutkan bahwa generasi muda memegang peranan penting dalam hal ini. Generasi muda berperan penting dalam mendukung pengembangan EBT menuju Indonesia emas pada tahun 2045.

Pada kesempatan itu dia menyinggung tentang target proporsi pembangkit energi di Indonesia pada tahun 2025 dan 2050 yang tertuang dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) dalam rangka mencapai ketahanan energi nasional. Untuk mencapai hal tersebut optimalisasi bauran energi primer yang memperhatikan kapasitas pembangkit listrik EBT perlu dilakukan.

Pengembangan EBT disebutkannya menjadi hal yang cukup komplek dan menantang bagi peguruan tinggi sebagai mitra strategis, terutama dalam menghadapi Indonesia setelah 100 tahun kemerdekaan pada tahun 2045. Sebagai rujukan negara Amerika yang sudah gencar melakukan pengembangan EBT, memiliki target tahun 2050 sudah 100% menggunakan EBT.

Oleh sebab itu, diperlukan adanya sinergi antara kelengkapan teknologi dan kelembagaan untuk mendukung pengembangan EBT di Indonesia. Pemenuhan kebutuhan teknologi serta kebijakan politik untuk mendukung penggunaan EBT dalam mempersiapkan Indonesia 100 tahun kemerdekaan. (ika)