Topeng Singapadu, The Power Behind The Mask

(Baliekbis.com), Sejarah mencatat, tradisi seni topeng di Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, tersohor memiliki jejak dan latar historis yang panjang. Meski telah ada sejak abad ke–18, namun terbukti hingga kini tradisi tersebut tak pernah lekang oleh waktu. Berangkat dari kesadaran merawat serta mengembangkan warisan budaya yang adi luhung tersebut, Asosiasi Seniman Singapadu dan Desa Singapadu, bekerja sama dengan Bentara Budaya Bali (BBB) menyelenggarakan pameran retrospektif topeng bertajuk “Singapadu: The Power Behind The Mask”. Eksibisi ini telah dibuka secara resmi pada Sabtu (6/8) di Jalan Prof. Ida Bagus Mantra No.88A, By Pass Ketewel, Gianyar, Bali.

Peresmian pameran ini ditandai pertunjukan Tari Kreasi Barong Api yang dikoreograferi oleh I Nyoman Cerita dan I Kadek Sugiarta. Sedangkan sebagai penata tabuh adalah I Wayan Darya. Tari Barong Api menggambarkan kisah tentang Cokorda Agung Api, generasi pertama seniman topeng Singapadu, terinspirasi membuat Barong Ket dari kilauan cahaya matahari. Cokorda Agung Api merupakan salah satu putra dari Dewa Agung Anom atau kerap dikenal sebagai Sri Aji Wirya Sirikan, Raja atau Dalem Sukawati yang berasal dari Klungkung. Secara piawai, tujuh penari berpenampilan gagah meliukan tubuhnya menyerupai gerak-gerak meditatif dan gerak-gerak memahat serta sampai menjadi sebuah sungsungan yang menjadi persembahan masyarakat.

Eksibisi ini berlangsung hingga 13 Agustus 2017, menghadirkan beragam tapel dari bentuk topeng barong (Bebarongan) atau topeng dramatari (Patopengan) hingga karya sejumlah seniman muda berupa topeng-topeng modern dan kontemporer. Sebanyak 165 karya topeng kreasi 68 seniman dipamerkan. Di antaranya terdapat Tapel Barong Ket, Tapel Celuluk, Topeng Sidakarya, hingga topeng-topeng yang dipakai untuk seni tari hiburan. Setiap topeng seolah menegaskan eksistensinya tersendiri, namun secara keseluruhan terangkai tak terpisahkan sebagai jati diri masyarakat Singapadu. Sebagai kurator pameran adalah Prof. Dr. I Made Bandem,M.A. dan Prof. Dr. I Wayan Dibia,M.A. “Kekuatan yang terdapat di balik topeng-topeng Singapadu ini adalah adanya rentangan sejarah yang panjang, legenda yang unik, estetika yang unggul, ikonografi yang tepat, seniman hebat, proses topeng yang rumit dan mampu membangkitkan taksu atau karisma” ungkap Prof. Dr. I Made Bandem, MA, sewaktu memberikan sambutan pada pembukaan pameran. Ini merupakan kali kedua Topeng Singapadu dipamerkan di BBB, sebelumnya diadakan 6 tahun lalu, tepatnya November 2011. Para seniman yang terlibat dalam pameran kali ini antara lain: Cokorda Oka Tublen, I Ketut Muja,I Ketut Sarwa, I Nyoman Renu, I Nyoman Repot, I Wayan Tangguh, I Wayan Tedun, Cokorda Alit Artawan, Cokorda Putra Wiyuda, Cokorda Raka Sedana, Cokorda Raka Tisnu SST, MSI, Cokorda Sutrisna Putra, I Gusti Made Payadnya, I Gusti Ngurah Mirjana, I Gusti Putu Brata, I Gusti Putu Miasa, I Kadek Ariawan, I Ketut Brati, I Ketut Dirga, I Wayan Irfan Pradana, I Wayan Ponco Maryuda, I Wayan Balik, I Ketut Kodi, I Made Hartawa, I Made Mesium, I Made Sugiantara, I Made Sutiarka, I Nengah Soma, I Nyoman Bawa, I Nyoman Carman, I Nyoman Mega, I Nyoman Narka, I Wayan Pugeg,  I Wayan Salin, I Wayan Sarwa, I Wayan Sukarya, I Wayan T. Gunastra SPd, I Wayan Wardana, I Wayan Witapja, Jero Mangku I Ketut Korma, Jero Mangku Ketut Adi Kusuma, I Wayan Putra Wirawan, I Wayan Suartra, I Wayan Wasnawa, I Made Supena, Kadek Puriartha, Dewa Putu Adnyana, Gede Feby Widi Cahyadi, I Gusti Ngurah Suarjana, I Kadek Wiradana, I Ketut Arjana, I Komang Agus Parinata. I Made Bayu Surya Wijaya, I Made Kocana, I Made Lasia, I Made Ova Yudana, I Made Teguh Pranata, I Nyoman Rubig, I Nyoman Sutrisna, I Wayan Agustina Putra, I Wayan Bagiarta, I Wayan Budiana, I Wayan Eka Septiana, I Wayan Gede Budayana, Komang Erik Setiawan, I Wayan Budarman, Mangku I Ketut Sumantara.

Adapun Pameran Topeng Singapadu ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar I Gusti Ngurah Wijana, mewakili Bupati Gianyar. Secara garis besar, Bupati memberikan apresiasi sedalam-dalamnya atas upaya yang dilakukan seniman Singapadu untuk melestarikan tradisi serta seni topeng ini. Pada pameran ini digelar pula sebuah timbang pandang pada Sabtu (12/08), berangkat dari buku “Barong Kunti Sraya” karya Ni Luh Swasti Wijaya Bandem. Sebagai pembahas adalah Prof. Dr. I Wayan Dibia,SST,M.A. dan I Ketut Kodi,SSP,M.Si. Timbang pandang tersebut akan diawali tayangan dokumenter Barong Kunti Sraya 1928 hasil direpatriasi yang dilakukan oleh STMIK STIKOM Bali dan Arbiter Cultural and Traditions New York. (ist)