Talkshow “Belanja Praktis dengan QRIS”, Trisno Nugroho: Tahun 2020 Merchant QRIS di Bali Ditarget 100 Ribu

(Baliekbis.com),Meski baru diluncurkan Bank Indonesia pada tanggal 17 Agustus 2019, perkembangan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sangat pesat. Di Bali saja hingga Pebruari ini tercatat sudah 60 ribu lebih merchant.

“Merchant ini tidak hanya sebatas pedagang, tetapi juga tempat ibadah, kantin dan koperasi di lingkungan sekolah/universitas hingga destinasi wisata,” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho pada acara talkshow dengan tema “Belanja Praktis dengan QRIS”, Rabu (26/2/2020) di Gedung Dharma Negara Alaya (DNA) Lumintang Denpasar.

Talkshow “Belanja Praktis dengan QRIS” yang diikuti sekitar 500 peserta kebanyakan ibu-ibu PKK dan milenial ini juga dirangkai dengan seminar “QRIS dan Lembaga Keuangan Mikro” yang akan digelar, Kamis (28/2/2020). Di acara ini juga dilangsungkan pameran “UMKM QRIS dan Perbankan” untuk dapat secara langsung mencoba bertransaksi menggunakan QRIS.

Ameriza M.Moesa (kiri) dan Trisno Nugroho

Talkshow menghadirkan narasumber di antaranya dari Kantor Pusat Bank Indonesia, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Denpasar, dan Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia Provinsi Bali. Trisno Nugroho menambahkan di tahun 2020 ini pihaknya menargetkan merchant QRIS bisa mencapai 100 ribu.

Hal itu optimis bisa dicapai mengingat manfaat ‘UNGGUL’ yang dimiliki yakni Universal, Gampang, Untung, dan Langsung.
“Dengan adanya talkshow ini, besar harapan kami masyarakat baik dari sisi pengguna maupun merchant akan lebih paham dan tidak khawatir untuk menggunakan QRIS dalam bertransaksi,” jelas Trisno.

Untuk mencapai target itu menurut Trisno Nugroho berbagai upaya dilakukan seperti yang dilakukan saat ini sosialisasi kepada ibu-ibu (PKK) dan milenial. Pasalnya dalam rumah tangga pengelola keuangan kebanyakan di tangan ibu-ibu. “Yang pegang duit kebanyakan ibu-ibu. Di rumah, istri saya yang belanja segala kebutuhan. Jadi ibu-ibu harus paham dengan QRIS ini,” jelas Trisno.

Sementara itu Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Ameriza M. Moesa mengatakan penetrasi QRIS di Indonesia saat ini sudah mencapai 2,8 juta dan hampir 100 persen merchant sudah menerapkan QRIS. Dikatakan QRIS ini sudah merupakan trend global. Banyak negara yang sudah menerapkannya seperti Cina dan India. “Jadi kita bukan asal ikut-ikutan,” tegasnya.

Namun diingatkan pula merchant yang banyak ini harus pula diimbangi dengan jumlah penggunanya (konsumen). “Jangan sampai yang pakai hanya sedikit,” tambahnya. Menurutnya QRIS bagi merchant memberi banyak manfaat di antaranya akan menambah akses pasar, terhindar dari praktek uang palsu, juga omzetnya lebih meningkat. “Akses Merchant UMKM terhadap bank akan makin terbuka,” jelasnya. Dari sisi konsumen juga dimudahkan seperti tak harus banyak bawa uang cash, uang recehan dan tanpa kartu kredit sudah bisa bertransaksi.

Sosialisasi QRIS di Bali saat ini cukup.gencar. Untuk merchant pedagang sangat bervariasi, mulai pedagang di pusat-pusat perbelanjaan modern, pedagang UMKM khas daerah, bahkan hingga
pedagang pasar tradisional yang saat ini sudah bisa dijumpai di antaranya Pasar Rakyat Phula Kerti dan Pasar Ikan Kedonganan, dan sejumlah pasar tradisional lainnya di labupaten. Bahkan menurut Trisno pihaknya segera akan meng-QRIS-kan beberapa kabupaten lainnya di Bali. (bas)

Leave a Reply

Berikan Komentar

%d blogger menyukai ini: