SMAN 1 Ubud dan SMAN 1 Kuta Utara Terjemahkan Rasa Bhakti Lewat Karya Seni

(Baliekbis.com), Sama-sama mengangkat rasa bhakti kepada Sang Pencipta sebagai alur berkarya seni, membuat garapan SMAN 1 Ubud dan SMAN 1 Kuta Utara terasa magis dan sarat akan makna.

Gelar Seni Akhir Pekan Bali Mandara Nawanatya III yang berlangsung pada Jumat (12/10) malam menghadirkan garapan apik dari SMAN 1 Ubud dan SMAN 1 Kuta Utara. Pementasan yang berlangsung sejak pukul 19.30 Wita di Kalangan Madya Mandala Taman Budaya, Denpasar ini diawali oleh penampilan dari SMAN 1 Ubud. Membawakan garapan bertajuk “Mutru Langit”, penonton yang hadir terbawa akan suasana khas Negeri Sakura yang berpadu dengan kebudayaan Bali. Menurut penuturan penata tari garapan SMAN 1 Ubud, A.A. Gede Tugus Hadi Iswara  bahwa Mutru Langit sendiri memang terinspirasi dari tradisi khas Jepang. Mutru Langit menggunakan alur dari obon atau bon odori dimana itu dikenal sebagai peringatan untuk leluhur di Jepang. “Jadi kita membuat secara balinese, alur Jepang rasa Bali-lah,” tutur Gus Hadi sembari tersenyum.
Mengkolaborasikan tradisi dari Negeri Sakura dengan pulau Dewata Bali nyatanya tidak semudah yang dibayangkan. Para penari SMAN 1 Ubud yang sudah akrab dengan tarian Bali harus beradaptasi dengan kebudayaan berupa pakem tarian khas Jepang.

“Butuh waktu lama bagi para penari untuk belajar. Tapi mereka tetap semangat dan antusias mempelajari kebudayaan yang menurut mereka baru ini,” terang Gus Hadi. Dalam menggarap karya ini Gus Hadi tidak sendiri, ada I Wayan Diana Putra yang berperan sebagai komposer garapan dan I Putu Rudi Artana sebagai pembina tabuh. Banyak simbol yang digunakan SMAN 1 Ubud guna memperlihatkan sisi pemujaan ala Jepang. Seperti dibuatnya lampion berwarna merah besar sebagai simbol matahari yang disakralkan masyarakat Jepang.

Tak hanya itu, penghormatan masyarakat terhadap alam, sesama manusia, dan Sang Pencipta layaknya ajaran Tri Hita Karana di Bali yang telah menjadi bagian dari kearifan lokal Bali. Dengan adanya akulturasi dalam garapan ini, sebagai pembina Gus Hadi berharap agar anak didiknya dapat memperkaya diri dengan tak hanya bekal budaya Bali, namun budaya negeri lain pun turut menjadi sarana pembekalan budaya.

Sementara SMAN 1 Kuta Utara (Sakura) tampil dengan garapan bertajuk “Chandani Abimantrana” yang memiliki arti Berkah Para Dewi. Gusti Sindunata, pembina garapan SMAN 1 Kuta Utara menuturkan simbolis wujud rasa syukur terhadap apa yang diberikan Sang Pencipta diterjemahkan melalui karya ini. “Tuhan telah memberi banyak, baik dari hasil bumi maupun khazanah kebudayaan, sebab itulah sebagai wujud syukur garapan ini tercetus,” jelas Sindu. Di tengah era globalisasi, dengan adanya garapan ini Sindu ingin mengingatkan bahwa umat manusia harus selalu mengingat Tuhan baik dalam suka maupun duka. “Kalau senang jangan terlalu senang, kalau sedih jangan terlalu sedih, semua itu ada alasannya,” tambah Sindu bijak.

Berbeda dengan SMAN 1 Ubud, Sakura (SMAN 1 Kuta Utara) memiliki nuansa yang amat kental akan budaya Bali. Maklum saja, tradisi lokal memang ditekankan Sindu guna menangkis budaya Barat yang kian barbar di tengah masyarakat Bali. Para Dewi tampak sangat cantik dan lembut dalam menarikan tariannya. Membahas tentang sujud bhakti memang tak ada habisnya, semua hal dapat tercipta apabila dilandasi dengan keyakinan dan keikhlasan. Selalu ingat akan anugerah yang maha kuasa adalah kunci ajegnya dunia.

Senja itu, di Kalangan Angsoka Taman Budaya, Denpasar berlangsung pementasan siswa SDN 29 Pemecutan dan SDN 16 Kesiman. Penampil pertama, SDN 29 Pemecutan dengan garapan bertajuk “Rwa Bhinneda”. Menurut penuturan Kepala SDN 29 Pemecutan, Ni Made Puspawati dalam penggarapannya SDN 29 Pemecutan dibantu oleh Sanggar Witon Jaya dan Rwa Bhinneda sendiri memperlihatkan simbolisme tali karma yang mengikat manusia adalah baik dan buruk yang ada di dunia ini.

“Agar anak-anak itu mencintai budaya Bali, bagaimana pun apapun bentuknya itu bagi mereka sangat berguna dan juga mereka membawa bekal budaya,” jelas Puspawati.
Penampil kedua yang diisi oleh SDN 16 Kesiman tampil dengan garapan bertajuk “Bentik” yang merupakan perwujudan dari dolanan anak-anak (permainan tradisional). Era globalisasi anak-anak terpengaruh dengan gadget dan lupa dengan permainan tradisional.

“Jadi kami mencoba mengingatkan bahwa permainan tradisional itu tidak kalah menyenangkan,” terang Ida Ayu Made Armini selaku Kepala SDN 16 Kesiman. Dengan adanya Nawanatya, bagi Armini dapat dijadikan sebagai sarana menemukan bibit seni untuk ajang perlombaan bergengsi layaknya Pekan Seni Remaja dan ajang kesenian lainnya disamping melatih jiwa percaya diri dan kecintaan siswa-siswi akan seni dan budaya Bali (ist).

Leave a Reply

Berikan Komentar

%d blogger menyukai ini: