Satyawira: Turunnya Hunian Karena Pesawat Tak Berani Mendarat di Bali

(Baliekbis.com), Turunnya tingkat hunian di Bali pascaerupsi Gunung Agung lebih disebabkan karena pesawat yang selama ini banyak membawa turis kini tak berani mendarat di Bandara Ngurah Rai. Padahal sesungguhnya Bali masih aman untuk dikunjungi. “Beberapa tamu yang datang ke Bali untuk berlibur ada yang merubah tiket pesawatnya tidak langsung ke Bali tapi melalui Jakarta, ada juga ke Singapura lalu cari pesawat yang mau menerbangkan mereka ke Bali. Walau mereka harus keluar biaya ekstra. Ini karena mereka tahu kalau Bali masih menarik dan aman untuk dikunjungi,” ujar Ketua PC FSP PAR-SPSI Badung Putu Satyawira Marhaendra yang juga pekerja di sektor pariwisata, Senin (4/12) di sela-sela gathering “Progres Report Akhir Tahun 2017 dan Outlook Tourism 2018” di Hotel Trans Kuta.

Dikatakan saata bom Bali, para repeater guest rela kehilangan asuransinya karena ingin melihat kondisi Bali yang sesungguhnya. Jadi tamu-tamu seperti inilah yang dibutuhkan untuk mengembalikan kepariwisataan Bali seperti semula.  Menurut Satyawira yang juga Ketua FSP PAR-SPSI Bali ini, tamu-tamu masih di Bali setelah Gunung Agung meletus. “Kebetulan saya layani tamu dari Sidney dan Melbourne Australia. Mereka bilang ke keluarga dan teman-temannya kalau Bali is safe for holiday sambil menunjukkan foto-foto di Hp mereka dan mereka kesal dengan pemberitaan di negara mereka,” ujarya. Menurutnya kalau harus menggunakan jalur darat dan laut untuk membawa tamu ke Bali, kenapa tidak kita lakukan? Kalau biaya jemput tamu ini dibebankan ke APBD, apa boleh? Mestinya bisa karena sumber APBD Badung dari para tamu-tamu tersebut (promosi di dalam negeri). “Dengan dibiayai APBD, dunia usaha tetap hidup dan pekerja juga hidup. Yang penting datanya akurat dan pelaporannya bisa diprtanggungjawabkan,” jelasnya. Ditambahkan, turunnya tingkat hunian saat ini karena pesawat-pesawat yang rutin ke Bali tidak berani mendarat di Bali. Kalau ini terus berlangsung maka akan semakin memperburuk nasib para pekerja pariwisata. Untuk itu pihaknya juga mengimbau pengusaha agar kondisi post major ini tidak terlalu reaktif yang akan memperburuk keadaan. Kalaupun ada pengurangan jumlah tenaga yang kerja, usahakan jangan sampai ada PHK. Berikanlah pekerja permanen (tetap) yang masih banyak punya pending DP, AL, LL untuk mengambilnya. Sehingga pekerja kontrak tidak diberhentikan karena ditugaskan mengisi posisi pekerja permamen yang libur. Ia berharap semoga situasi pariwisata membaik lebih cepat sehingga tidak terjadi PHK. “Kami mohon kontribusi kami terhadap PAD, dapat kami terima berupa sembako dari Bupati Badung. Kami berharap ini tidak terjadi karena kita bisa memulihkan pariwisata Bali dengan semangat kebersamaan.  Kepada seluruh anggota FSP PAR – SPSI mari kita bahu membahu dengan menyebarkan berita-berita positif setelah Gunung Agung meletus. Dan tetap berikan pelayanan terbaik pada setiap tamu,” ujar Satyawira. (bas)