Reses Dr. Mangku Pastika: Benih Mahal Jadi Kendala Peternak Ikan di Bali

(Baliekbis.com), Permintaan ikan khususnya lele dan belut sangat tinggi di Bali. Bahkan harga di pasaran cukup menguntungkan. Namun sejauh ini peternak ikan justru tak bisa memenuhi permintaan pasar yang sangat besar itu.

“Permintaan lele sehari sekitar 1 ton. Tapi saya hanya bisa memenuhi satu ton per minggu,” ujar peternak lele asal Payangan Made Sugenda Merta saat mengikuti vidcon Reses Anggota DPD RI Dr. Made Mangku Pastika, Minggu (18/10).

Reses dengan tema¬†“Pemberdayaan UMKM dan Ekonomi Kreatif” itu menghadirkan sejumlah pelaku usaha pertanian dipandu Tim Ahli Nyoman Baskara didampingi Ketut Ngastawa dan Nyoman Wiratmaja.

Menurut Sugenda Merta, ia mendatangkan bibit lele sampai 150 ribu ekor. Masalahnya harganya cukup mahal dan prosesnya lama. “Jadi dengan kondisi itu diperlukan modal yang besar,” jelasnya.

Peternak lele Agung Rai Astika, asal Desa Adat Padang Luwih, Kabupaten Badung juga mengalami serupa. Untuk mengisi puluhan kolam lelenya, ia juga mendatangkan dari Jawa dengan harga cukup mahal. Gung Astika mengaku awalnya hanya iseng memelihara lele sekaligus membersihkan lahan di belakang rumahnya yang banyak ditumbuhi alang-alang.

Ternyata hasilnya bagus sehingga ia kemudian mengembangkan dalam jumlah besar. “Selain lele, saya juga tanam pisang di sekitar kolam tang ternyata tumbuhnya bagus dan berbuah lebat,” ujarnya. Menurut Gung Astika, air kurasan kolam lele sangat bagus untuk tanaman sehingga ia kini mengembangkan sejumlah tanaman lain di sekitar kolam.

Masih seputar budidaya ikan, peternak belut yang digeluti ibu-ibu PKK setempat juga kesulitan bibit sehingga terpaksa mendatangkan dari Jawa dengan harga Rp150 ribu/kg. “Kalau bibit bisa didapat di Bali tentu lebih murah dan cepat,” ujarnya.

Soal pasar, menurut Sugenda maupun Agung Astika tak ada masalah. Bahkan pembeli kerap lebih awal sudah booking. Harga di tempat pemeliharaan Rp17 ribu-Rp19 ribu/kg.

Sementara itu, pendiri dan pembina Yayasan Gerak Cipta Selaras dan Sidhayasa Farm I Gusti Ngurah Tri Sena Brata berharap di tengah pandemi Covid-19 ini, warga bisa memanfaatkan lahan pekarangannya dengan bertanam.¬†“Saya mengharapkan setiap rumah warga di Padang Luwih ini bisa ditanami agar memberikan penghasilan tambahan,” ujar pemilik Warung Mina Dalung ini.

Mendengarkan aspirasi dari sejumlah warga itu, Mangku Pastika mengatakan kebutuhan lele di Bali cukup tinggi hingga 15 ton/hari. Namun baru sekitar 20 persen yang dipenuhi peternak lokal. Kondisi itu tidak terlepas dari pariwisata yang sebelum Covid memberi penghasilan menjanjikan.
Sehingga warga lebih tertarik ke pariwisata.

“Dengan kondisi saat ini, saya berharap pertanian yang mulai banyak dilirik bisa memberikan solusi ke depannya,” harap mantan Gubernur Bali dua periode ini.

Mangku Pastika juga mengajak masyarakat Bali untuk berkolaborasi dalam mengembangkan sektor ini, memanfaatkan teknologi juga jangan berjalan sendiri-sendiri. Di akhir vidcon, Mangku Pastika melalui staf ahli Ketut Ngastawa menyerahkan bantuan sembako dan masker kepada warga. (bas)

Leave a Reply

Berikan Komentar

%d blogger menyukai ini: