Rai Mantra, Jaya Negara, dan Rai Iswara Mendem Pedagingan di Pura Desa Cengkilung

img_4287

(Baliekbis.com), Denpasar, Bertepatan dengan rahinan Tumpek Klurut, Sabtu (22/10), Walikota Denpasar, I.B Rai Dharmawijaya Mantra, Wakil Walikota, I.G.N Jaya Negara, dan Sekda, A.A.Ngurah Rai Iswara secara kompak melaksanakan prosesi mendem pedagingan di Pura Desa lan Puseh Desa Pakraman Cengkilung  Kecamatan Denpasar Utara. Hadir pula dalam kesempatan tersebut, Ketua DPRD Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Gede,Anggota DPRD Kota Denpasar, serta tokoh masyarakat desa setempat. Dalam prosesi upacara tersebut, Walikota Rai Mantra mendem pedagingan di Gedong Puseh, Wakil Walikota Jaya Negara mendem pedagingan di Piyasan, dan Sekdaa Rai Iswara mendem pedagingan di Bale Peselang. Sebelum dilaksanakan prosesi mendem pedagingan, terlebih dahulu diawali dengan prosesi ngelis oleh para pemangku pura.

Jro Bendesa Pakraman Cengkilung, I Wayan Suweca didamping Panitia Karya, I Wayan Nuka ditemui disela-sela upacara mengatakan, upacara padudusan alit, macaru Rsi Gana dan mendem pedagingan ini dilaksanakan serangkaian telah rampungnya beberapa bangunan pura seperti Bale Peselang, Piyasan, Bale Gong, Kuri Agung, lan tembok penyengker serta beberapa bangunan pura yang telah selesai direnovasi. Sejatinya menurut Wayan Suweca, pemugaran beberapa bangunan di puraini telah dilaksanakan pada bulan Juli Tahun 2015 lalu. Secara keseluruhan bangunan pura yang berdiri diatas tanah seluas kurang lebih 4 are ini untuk pembangunan pelinggih baru, renovasi serta prosesi upacara ini menghabiskan dana sebesar Rp 1,3 millyar, dimana dana tersebut diperoleh dari Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kota Denpasar, para donatur, maupun swadaya dari masyarakat penyungsung sebanyak 92 KK.Upacara ini dipuput oleh Ida Peranda Gede Jelantik Giri (Peranda Buda) dari Geriya Gunung Sari, Peliatan Ubud, Kabupaten Gianyar serta Ida Peranda Gede Geniten (Peranda Siwa) dari Geriya Sibang Gede, Kabupaten Badung.

Sementara Walikota Rai Mantra menyambut baik upacara yadnya yang dilaksanakan oleh warga Desa Cengkilung ini. “Rasa bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Sang Pencipta Alam Semesta ini harus tetap dipelihara, karena untuk menyeimbangkan hubungan haronis yang berlandaskan atas konsep ajaran agama Hindu yakni Tri Hita Karana,” pungkas Rai Mantra. (ngurah/ist)