Qasir Ajak Publik Hidupkan Usaha Mikro di Tengah Pandemi COVID-19

(Baliekbis.com), Pada pertengahan bulan Maret 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi mengumumkan COVID-19 sebagai pandemi atau wabah global. Faktanya, tingkat penularan virus ini satu setengah hingga dua kali lebih tinggi daripada flu. Langkah preventif telah dilakukan beberapa negara dunia untuk melandaikan kurva penularan pandemi di kalangan publik. Paling ekstrim, kebijakan karantina wilayah (lockdown) diterapkan oleh hampir 19 negara[1].Di Indonesia, Pemerintah baru-baru ini mengesahkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)[2] untuk menangani penyebaran wabah.

Karantina lokal dan isolasi mandiri yang dilakukan oleh publik berdampak cukup besar, khususnya bagi industri-industri yang mengandalkan kunjungan dan transaksi konsumen harian. Meskipun demikian, penurunan kunjungan konsumen belakangan mulai digantikan dengan beralihnya konsumen dari offline ke online.

Berdasarkan survei yang diadakan oleh YouGov dalam “COVID-19 Impact on Indonesian Consumer Behavior”, terjadi peningkatan belanja online sebesar 20% dan pemesanan makanan melalui delivery service sebesar 14%.[3] Hal ini menunjukkan perilaku konsumen mulai mengarah kepada aktivitas online atau berbasis aplikasi dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Meskipun demikian, di kota-kota lainnya, masih banyak bisnis yang sangat mengandalkan transaksi offline, khususnya bagi usaha mikro dan kecil.

CEO Qasir Michael Williem menuturkan, pelaku UMKM perlu memiliki respon cepat dalam menanggapi situasi krisis yang melanda. “Saya melihat saat ini usahawan UMKM sudah mulai merambah ke layanan berbasis online untuk menjaga keberlangsungan usahanya. Namun, bagaimana dengan kelompok usaha yang tidak terlalu beruntung lainnya, mengingat tidak semua usaha bisa serta-merta bertransisi menjadi bisnis online. Hal ini rasanya perlu dicarikan solusi, mengingat usaha-usaha mikro dan kecil merupakan kelompok yang sangat rentan jika terjadi perlambatan daya beli konsumen,” tutur Michael.

Michael menambahkan, dalam keadaan yang serba tidak pasti  ini, sangat penting bagi usahawan untuk mengambil langkah-langkah preventif dan taktis untuk menjaga bisnis tetap berjalan, namun juga tetap waspada terhadap penyebaran virus di sekitarnya. “Jangan sampai kita terlalu fokus mencari cara agar bisnis terus untung, tapi luput memberikan perlindungan bagi diri sendiri, karyawan, dan keluarga. Semua harus dipertimbangkan dengan bijak,” tambah Michael. Bagi usahawan mikro dan kecil yang tetap harus menjalankan usahanya, Michael mengimbau agar para usahawan dapat memperhatikan beberapa hal berikut selama berinteraksi sosial:

1.    Menjaga kebersihan dagangan–keselamatan penjual dan pelanggan tetap nomor satu

Salah satu dampak warga yang melakukan isolasi mandiri dan bekerja dari rumah adalah mobilitas mereka akan terbatas di lingkungan tempat tinggalnya masing-masing. Sebagai upaya pencegahan penularan virus adalah dengan terus menjaga kebersihan barang dagangan. “Usahawan ada baiknya menyediakan hand sanitizer, memakai masker, atau sarung tangan jika hendak mengambilkan barang/makanan untuk pembeli. Sehabis memegang uang, sebaiknya langsung cuci tangan. Jika diperlukan, usahawan bisa membersihkan barang-barang di tokonya dengan alat disinfektan. Bagaimanapun, tugas kita sebagai manusia untuk berusaha, hasilnya tetap di tangan Tuhan,” tutur Mike. Bagi usahawan yang memiliki bisnis logistik dan pesan antar, Qasir mengimbau agar usahawan membatasi kontak langsung pada saat pengiriman, menjaga higienitas awak dan armada kirim secara berkala, serta membekali awak kirim dengan pengetahuan pencegahan penularan COVID-19.

2.    Bijak melakukan stok barang

Berkaca dari fenomena panic buying barang kebutuhan pokok di beberapa negara, seperti Italia, Singapura, dan Australia, usahawan juga perlu bijak dalam memilih stok barang dagangannya agar tidak sampai terjadi kelangkaan. Michael menilai, selama periode isolasi, kebutuhan masyarakat umumnya akan didominasi oleh barang-barang pokok, seperti bahan baku makanan, alat kebersihan dan sanitasi. Selanjutnya, kebutuhan akan merambah ke produk-produk lain seperti camilan, buah-buahan, dan kebutuhan lain, seiring berlanjutnya periode isolasi.

“Meskipun di Indonesia belum banyak cerita terjadi panic buying di beberapa kota besar, namun untuk jenis barang-barang kesehatan utama sudah ada kelangkaan. Dari sisi penjual, kami mengajak usahawan agar tetap menjaga stok dagangannya terjaga dan relevan dengan kebutuhan masyarakat yang sedang tinggi. Jangan sampai justru salah pilih stok. Di Qasir, pemesanan barang dagangan dengan Belanja Grosir sangat membantu usahawan untuk memenuhi stok dengan tepat waktu dan tepat jumlah. Pilihan pembayaran yang bisa dicicil atau Bayar Tempo juga sangat krusial di momen saat ini. Usahawan bisa tetap menjaga cash flow,” pungkas pria yang akrab disapa Mike ini.

3.    Saling berbagi dan peduli

Terakhir, Michael mengimbau seluruh masyarakat untuk semakin peka pada bisnis-bisnis skala mikro dan kecil yang ada lingkungan tempat tinggal. Bentuk kepedulian bisa dimulai dengan mulai berbelanja kebutuhan pokok di warung-warung kelontong yang masih buka. “Kami optimistis masa sulit ini akan berakhir, dan dalam masa bertahan ini, ada baiknya agar kita saling dukung dan lebih peka kepada sesama. Berbelanja di warung kelontong dekat rumah akan lebih baik, Anda tetap bisa menjaga jarak dan melakukan isolasi mandiri, namun tetap membantu menghidupkan usaha mikro di sekitar,” pungkas Mike.    

Michael memandang sangatlah wajar jika masyarakat dilanda rasa khawatir. Khususnya pengusaha yang terdampak dan karenanya harus tanggap mencari strategi baru untuk dapat tetap menjalankan roda usaha. “Namun, jangan sampai kita dikalahkan oleh kepanikan. Sebagai usahawan, harus tangguh dalam setiap ujian, inilah momen kesempatan untuk dapat mencari peluang baru. Melayani konsumen dengan cara-cara baru; dengan tetap menerapkan kontak minim dan menjaga kebersihan outlet/toko demi keselamatan bersama,” tutup Michael. (ist)