Puncak Karya Agung di Desa Adat Kerobokan Berlangsung Lancar, Dihadiri Panglingsir Puri Pemecutan dan Puri Mengwi

(Baliekbis.com), Puncak Karya Agung “Mamungkah, Ngenteg Linggih, Ngusaba Desa, Ngusaba Nini, Tawur Balik Sumpah Utama, Pedudusan Agung lan Segara Kerthi” di Pura Desa dan Pura Puseh Desa Adat Kerobokan Badung berlangsung pada Soma Kliwon Kuningan (Senin, 29/7/2019).

Pelaksanaan Puncak Karya Agung berjalan sukses diikuti ribuan krama Desa Adat Kerobokan yang  digelar sejak pagi hingga malam diisi  dengan penampilan Rejang PKK, Baris Gede, Topeng I B Ketut Wiadnyana dan Wayang IB Sudiksa.

Rangkaian upacara Karya Agung ini telah dimulai pada Buda Kliwon Gumbreg, 19 Juni lalu dengan “matur piuning dan pewintenan panitia karya” dan Nyineb dilaksanakan pada Anggara Pon Langkir (6/8/2019). Seluruh rangkaian karya akan berakhir pada 9 Agustus nanti yakni Nyegara Gunung dan Bulan Pitung Dina.

Pada puncak Karya Agung ini juga dihadiri Panglingsir Puri Pemecutan Ida Cokorda Pemecutan XI, Panglingsir Puri Mengwi AA Gde Agung serta jajaran Pemkab Badung di antaranya Camat Kuta Utara A.A.N. Arimbawa dan undangan lainnya.

Sebelumnya pada  upacara  “Pemelaspas dan Mendem Pedagingan”, Saniscara Wage Julungwangi (13/7/2019) hadir Bupati Badung Nyoman Giri Prasta dan Anggota DPR RI A.A.Bagus Adhi Mahendra Putra.

Seluruh rangkaian pada Puncak Karya Agung ini dipuput Ida Pedanda Gde Putra Tembau, Ida Pedanda Putra Telaga Sanur, Ida Pedanda Buda Gde Jelantik dan Ida Rsi Agung Adnyana Telabah.

Pemucuk Karya Agung Drs. A.A.  Ngurah Gede Sujaya, M.Pd. didampingi Jero Bendesa Desa Adat Kerobokan A.A. Putu Sutarja,S.H. dan  panitia Dr. Wayan Swandi di sela-sela upacara mengatakan pada Puncak Karya Agung ini juga dilakukan “pawintenan” 46 Pemangku. Dikatakan Karya Agung ini dilaksanakan sehubungan dengan telah selesainya sejumlah pembangunan di pura yang seluruhnya menelan dana sekitar Rp6 miliar. “Pembangunan sudah dimulai sejak tahun 2014 dan didukung oleh krama Kerobokan serta bantuan Pemkab Badung,” tambah A.A. Sujaya.

Bendesa Adat Kerobokan A.A. Putu Sutarja,S.H. menjelaskan krama Desa Adat Kerobokan berjumlah 5.520 KK dengan 28 ribu jiwa lebih tersebar di 50 banjar. Karya Ngusaba Desa khususnya selama ini belum pernah dilaksanakan. Sedangkan Ngusaba Nini terakhir digelar tahun 1979.

“Karya Agung sekarang ini  juga berkaitan telah selesainya pemugaran fisik di pura,” jelasnya seraya menambahkan dalam pembangunan di pura tetap dipertahankan peninggalan bangunan yang ada. “Jadi tidak dibongkar, melainkan direstorasi. Seperti halnya pada perbaikan bangunan Kori Agung,” jelasnya. Dikatakan setelah Puncak Karya Agung ini, pada Rabu (31/7/2019) akan digelar “siat ketipat” yakni perang ketupat bantal.

Karya Agung di Desa Adat Kerobokan ini dilaksanakan sebagai wujud rasa Stiti Bhakti dan Angayubagia (Puji syukur dan bhakti) kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) atas Penciptaan Alam Semesta ini dan atas segala anugerah yang telah dilimpahkan kepada umat manusia dalam kehidupan ini.

Selain itu, upacara untuk menyucikan seluruh bangunan (pelinggih) pada tempat suci atau Pura dan lingkungan Pura yang terdiri dari Tri Mandala yakni

Utama Mandala, Madya Mandala dan Nista Mandala, dimana sebelumnya bahan bangunannya terdiri dari unsur yang belum suci, termasuk sentuhan para tukang (undagi) yang perlu disucikan. Mengingat fungsinya sebagai tempat suci yaitu tempat berstananya Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) dalam berbagai wujud kebesaran dan sakti-Nya, sebagai tempat bagi umat sedharma untuk memuja kebesaran-Nya dan menghaturkan sembah bhakti (sembahyang dan berdoa). (bas)

Leave a Reply

Berikan Komentar

%d blogger menyukai ini: