Produk Tenun Handmade Tinggi Peminat, Perajin Kewalahan Penuhi Permintaan

(Baliekbis.com), Owner Pertenunan Artha Dharma Ketut Rajin mengaku permintaan endek tak pernah surut, bahkan di tengah pandemi Covid-19 justru order bertambah.

“Namun kami tak bisa memenuhi pesanan yang datang akibat produksi terbatas karena menggunakan ATBM,” ujar Ketut Rajin, Jumat (8/10) saat menerima rombongan Capacity Building Media 2021 yang digelar Bank Indonesia Provinsi Bali di Buleleng.

Rajin yang merintis usahanya sejak 2002 silam mengaku memproduksi aneka kain dan produk endek. Produknya menggunakan bahan pewarna alami sehingga disukai konsumen. “Meski ekonomi lesu akibat pandemi, permintaan terbilang stabil sehingga kami tak sampai mengurangi karyawan yang seluruhnya 88 orang,” jelasnya.

Ketut Rajin

Rajin mengakui proses produksi endek terbilang memakan waktu lama mulai pencelupan yang menggunakan pewarna alami hingga pembuatannya dengan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). “Karena proses produksi yang memakan waktu lama sehingga pesanan yang dilayani juga terbatas,” ujarnya.

Ia mengakui pasar domestik sangat besar dan menjanjikan. Karena itu ia tak terlalu mengejar ekspor. Namun diakui endeknya yang bahan bakunya didatangkan dari Cina dan India ini juga banyak terjual di luar negeri yang dipasarkan oleh pembeli lokal/domestik.

Kepada Deputi Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Rizki Ernadi Wimanda yang berkunjung bersama rombongan wartawan, Rajin menjelaskan salah satu strategi hingga bisa tetap bertahan karena selalu menciptakan desain-desain baru yang inovatif sehingga pasar tak jenuh. Ia juga melakukan pemasaran secara online/digital.

Made Andika Putra

Sebelumnya peserta Capacity Building juga mengunjungi perajin Binaan BI Bali Pagi Motley yang juga memproduksi kain dan produk interior yang menggunakan pewarna alam. Owner Pagi Motley Made Andika Putra menjelaskan pewarna alam yang digunakan dari daun mangga, ketapang, sabut kelapa, dll.

Ia mengakui produknya banyak merupakan pesanan dari luar negeri, seperti Korea, Amerika dan Selandia Baru. Andika mengaku omsetnya cukup bagus meski dalam masa pandemi. (bas)