Peringatan HLN ke-72, Pertumbuhan Penjualan Listrik PLN Melambat

(Baliekbis.com), Peringatan Hari Listrik Nasional (HLN)  ke-72 yang digelar di kantor Distribusi PLN Bali di Denpasar, Jumat (27/10) berlangsung meriah. Selain dilaksanakan upacara bendera dan pelepasan puluhan pegawai yang memasuki purna tugas, HLN juga dimeriahkan pementasan tarian dan bleganjur serta pengenalan kompor listrik induksi.

General Manager  PLN (Persero) Distribusi Bali Nyoman S. Astawa didampingi Deputi Manager Komunikasi dan Bina Lingkungan PLN Distribusi Bali I Gst Ketut Putra di sela-sela peringatan HLN mengatakan tahun 2017 ini tantangan PLN cukup besar. Secara Nasional pertumbuhan hanya 3,12 persen, lebih rendah dibandingkan tahun 2016 bisa 6,5 persen. Di Bali bahkan penjualan listrik (KWh) juga menurun tajam. “Sampai September 2017 ini pertumbuhan penjualan listrik hanya 0,14 persen. Padahal tahun sebelumnya jauh di atas itu. Secara Nasional pertumbuhan kita terendah,” ujar Astawa.

Nyoman S. Astawa (kanan) didampingi I Gusti Ketut Putra
Nyoman S. Astawa (kanan) didampingi I Gusti Ketut Putra

Meski demikian, Astawa tetap optimis ke depan dengan sejumlah terobosan yang dilakukan, pertumbuhan bisa lebih tinggi.  Dikatakan saat ini seluruh desa dan dusun di Bali sudah terlistriki. Tapi dari sisi rasio elektrifikasi belum 100 persen. “Kita baru 95,5 persen. Jadi yang belum ini kita harapkan tahun depan bisa terlistriki,” tegasnya. Untuk itu pihaknya menggandeng tim dari Unud melakukan pendataan untuk mengetahui secara pasti warga yang belum mendapatkan listrik termasuk penyebabnya. “Apa karena mereka memang tak ingin dapat listrik atau karena hal lain,” jelasnya. Menurut Astawa ada kemungkinan warga tak pasang listrik karena masih menumpang dengan keluarga yang lain (tetangga) dan ada kesan cari listrik harganya mahal. “Ini akan kita jelaskan ke warga kalau kondisinya tak seperti itu,” tambahnya.

Soal rendahnya pertumbuhan diakui tak terlepas dari sikap masyarakat yang mulai hemat pakai listrik. Apalagi setelah memakai listrik pra bayar. Sebab kalau tak hemat setrumnya cepat habis. Beda kalau dulu dengan pascabayar, tinggal pakai. Industri pariwisata seperti hotel kini juga hemat dengan memakai produk-produk hemat listrik seperti lampu. Dan beberapa industri lainnya seperti pengolahan ikan juga menurun produksinya sehingga otomatis pemakaian listriknya lebih sedikit. Suhu yang rendah tahun ini juga berpengaruh terhadap pemakaian listrik, ujar Astawa. Untuk mendongkrak pemakaian listrik, selain memberi kemudahan bagi calon pelanggan baru, pihaknya juga memperkenalkan penggunaan kompor induksi yang lebih hemat dibandingkan kompor gas (non subsidi). “Kita harapkan seluruh pegawai PLN menggunakan produk ini,” jelasnya. (bas)

Leave a Reply

Berikan Komentar

%d blogger menyukai ini: